Translator

Jumat, 29 Juni 2012

Selamat Datang Indonesia

Namanya Cha Cha usianya baru menginjak 3 tahun. Mengenal kata "Indonesia" baru sejak tahun dua ribu sebelas lalu waktu rame-rame ada pertandingan Sepak Bola Sea Games 2011. Awalnya saya terkejut waktu pertama kali mendengar ia berkata "Indonesia" sambil berteriak, tau darimana kata tersebut pikir saya saat itu. Sejak ia mengenal kata "Indonesia" hampir setiap hari ia meneriakannya dengan penuh semangat, teriakannya tersebut memaksa saya untuk memperhatikan tingkah lakunya yang lucu dan menggemaskan itu, ternyata setiap ia meneriakan kata Indonesia ia akan mengalungkan sebuah gantungan kunci motor milik ayahnya pada lehernya, selidik punya selidik ternyata ia melihat para officer sepak bola pada Sea Games 2011 di televisi yang pada dadanya tergantung kartu tanda pengenal yang mungkin dalam persepsi seorang Balita sama dengan gantungan kunci milik ayahnya. Jadi geli, Ah lucunya ini anak.

Setelah saya menjadi paham mengapa ia selalu meneriakan kata “Indonesia” sambil mengalungkan gantungan kunci tersebut, akhirnya saya mencoba untuk memberi pengertian padanya tentang kata Indonesia ini. Saya mencari formula yang mungkin mudah di pahami oleh seorang Balita dan saya menunjukan gambar bendera merah putih padanya. Ketika saya menunjukan padanya gambar bendera tersebut sambil berkata “Ini Indonesia” dengan cepat ia berkata “That’s a flag mom” katanya dengan mimik kurang mengerti mengapa saya mengatakan gambar bendera itu dengan kata Indonesia, memang sejauh ini saya mengajarkan gambar bendera dengan kata flag dan sekarang saya mengatakan bahwa flag itu Indonesia, ini yang membuat ia tidak paham.  “Iya sayang, it’s a flag - ini bendera” kata saya kemudian “Ini bendera Indonesia sayang” jelas saya dengan harapan ia bisa paham dengan penjelasan saya, beruntung saya melihat mimik wajahnya yang lucu itu tersenyum sambil berkata “Indonesia’s flag - Bendera Indonesia” teriaknya dengan riang. Anak yang cerdas hati saya bergumam bahagia.

Kejadian ini cukup menggelitik saya untuk lebih memperkenalkan kata Indonesia padanya, tapi dengan cara bagaimana saya belum tahu juga dan belum menemukan caranya.

Suatu hari kami akan menghadiri acara resepsi pernikahan seorang teman, saat itu saya dan suami memakai batik yang seragam dan sayapun telah mempersiapakan baju batik baru buat buah hati saya tercinta. Ketika kami tengah berdandan anak kami ini berkata “Mom, kok ayah and mommi bajunya sama” katanya sambil menunjuk kearah pakaian kami. Saya tersenyum padanya, kemudian segera menciumnya dan berkata “Ini pakaian orang Indonesia” kata saya dengan ringan dan tanpa saya duga ia berkata “Kok punyaku warnanya beda sih mom, tapi ada gambar flowernya” katanya lagi, saya hanya membalas dengan senyuman, dan tiba-tiba ia  bertanya lagi "Mom kalau flowernya Indonesia itu apa ?" tanyanya lagi dengan penuh  rasa penasaran. Saya terdiam tak bisa menjawab. "Nanti ya nak, kita cari di toko buku gambar bunganya orang Indonesia" kata saya berjanji untuk menghindari jawaban saya yang takut salah.

Setelah kejadian diatas tadi saya menjadi sadar bahwa pengetahuan saya akan Indonesia ini sangat minim sekali baik pengetahuan budaya, bahasa, alam, flora & faunanya maupun pariwisatanya sehingga ini cukup membuat saya malu hati.
karena anak saya inilah akhirnya saya memutuskan untuk mencari tahu bunga apa saja yang mewakili bangsa Indonesia ini, dan tak dinyana ternyata bunga-bunga tersebut sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Bunga yang  adalah "Bunga Nasional" yang mewakili karakteristik bangsa Indonesia itu ternyata ini :

Bunga melati putih (Jasminum sambac) sebagai puspa bangsa
Bunga anggrek bulan (Phalaenopsis amabilis) sebagai puspa pesona dan
Bunga padma raksasa (Rafflesia arnoldii) sebagai puspa langka.

Waah saya merasa sangat beruntung memiliki buah hati yang cerdas, gara-gara dia sekarang saya menjadi tahu bunga nasional kita, malu kan kalau ada orang asing bertanya tentang "Bunga Nasional" bangsa kita dan saya tidak tahu jawabannya. Terimakasih ya sayang.

“Mom, aku gak mau nonton Magic English” katanya suatu hari. “Kenapa nak?” tanya saya penasaran, anak saya ini memang sejak kecil sudah saya perkenalkan dengan bahasa Inggris dengan cara saya menyetelkan CD atau DVD berbahasa Inggris atau menyediakan buku-buku berbahasa Inggris, bukan bermaksud agar ia tidak cinta Bahasa Ibu "Indonesia" tetapi semata-mata tujuan utama saya cuma satu agar ia mampu menguasai dua bahasa sekaligus tanpa kesulitan, anak Indonesia kan harus cerdas pikir saya saat itu.  “Aku maunya nonton Unyil aja” katanya kemudian,   “Kenapa begitu?” tanya saya lagi tambah penasaran, “Kata kakak Topan aku kan orang Indonesia, kalau orang Indonesia nontonya  Unyil” katanya lagi lebih panjang lebar. Saya tertegun. Bingung. Belajar bahasa Inggris bukan berarti tidak cinta pada bahasa sendiri, bagaimana cara yang tepat menjelaskannya pada anak sekecil dia - saya galau.

Ternyata kata Indonesia ini begitu menjadi lekat di hati anak saya, bukan saya tidak suka tetapi memang terlihat menjadi berlebihan. Setiap hari ia selalu ingin dibacakan buku bacaan yang berbahasa Indonesia, jika saya membacakan yang berbahasa Inggris ia akan menolaknya dan kemudian saya akan menuruti kemaunnya. Suatu hari ia membawa buku pada saya dan berkata "Mom, can you read this book ?", tanyanya sambil menyodorkan buku yang sehari kemarin baru saja saya membelinya di toko buku. "Ya", jawab saya. "Please baca mom", pintanya. Saya menuruti permintaannya dan membacakan isi buku yang bercerita tentang "Si Kancil dan Pak Tani". Sebenarnya ia sudah memiliki buku yang sama dengan versi bahasa Inggris tapi entah mengapa ia masih sangat antusias mendengar cerita "Si kancil dan Pak Tani" ini dalam versi bahasa Indonesia. Kecintaannya akan bahasa Indonesia ini membuat saya mulai membeli buku yang berbahasa Indonesia. Ternyata bahasa Indonesia itu mungkin sangat enak didengar ditelinganya, sehingga ia begitu terpesona dengan bahasa Ibu-nya sendiri bahasa Indonesia, hal yang tidak pernah diduga sebelumnya. Saya rasa orang yang Paling Indonesia dikeluarga kami ya dia. Ia yang membuat kami semua sadar akan kecintaan pada Ibu Pertiwi Indonesi. Momi bangga sama kamu nak.

Bulan Maret lalu kami sekeluarga pergi ke Singapore, ketika kami telah sampai di Changi Airport kami memasuki pemeriksaan passpor di Imigrasi, tibalah giliran saya, saya  memegang anak saya sambil menghampiri petugas imigrasi tanpa saya duga ia berteriak "Indonesia datang - Indonesia is coming" semua orang menengok ke arah kami memandang sambil tersenyum, anak saya berteriak dalam dua bahasa - bahasa Indonesia & bahasa Inggris - saya tersenyum , petugas imigrasipun tersenyum dan berkata "Selamat datang Indonesia" katanya dengan ramah. Ada setetes kebanggaan dalam hati saya bahwa anak saya bangga dengan Negerinya sendiri Indonesia. Selamat Datang Indonesia Kecilku bisik hati saya bangga.


Buat buah hatiku tercinta : Cha2



Tulisan ini diikutkan dalam Lomba Blog “Paling Indonesia” yang diselenggarakan oleh Komunitas Blogger Makassar AngingMammiri.org bekerjasama dengan Telkomsel area SUMALPUA ( Sulawesi Maluku Papua )

Jumat, 15 Juni 2012

Menyebar Uang

 
I'm broke! ya, saya lagi bokek saat saya teringat dengan solusi penangkal si bokek ini. Bertemu dengan yang namanya "bokek" memang sangat-sangat tidak nyaman, saya rasa setiap orang yang pernah mengalaminya pasti akan merasakan hal yang sama , tapi bagi yang tidak pernah mengalami mungkin tidak akan pernah tau bagaimana rasanya bokek. Gara-gara si bokek inilah saya menemukan solusi yang cukup jitu untuk menangkal kehadirannya. Solusinya seperti apa, yuk ikuti pengalaman saya.
 
Kehabisan uang seringkali datang tanpa saya duga, sebenarnya ini disebabkan ketidak disiplinan saya dalam mengelola keuangan. Kehadiran si bokek yang tidak diundang ini menyebabkan saya harus berfikir bagaimana cara menyelamatkan uang yang seharusnya cukup itu tetap pada posisinya dan tidak membuat saya menjadi kedodoran. Ketidak disiplinan ini berawal dari uang yang berada di satu lokasi saja yaitu di dompet belanja. Karena berada di satu lokasi maka uang tersebut menjadi terlihat cukup banyak padahal itu semua adalah uang untuk biaya hidup sehari-hari selama satu bulan penuh. Karena dirasa uang masih cukup atau masih ada biasanya naluri belanja atau makan-makan diluar itu cukup tinggi hingga tak terkontrol, nah kalau sudah demikian bisa dipastikan uang yang seharusnya cukup untuk satu bulan itu mendadak sudah habis hanya dalam dua atau tiga minggu saja. Setelah dua atau tiga minggu kemudian bisa ditebak saya kehabisan uang. Contoh yang pernah saya alami seperti yang satu ini  belum habis bulan uang sudah tidak ada # puyeng dewe
Kalau "bokek" otak jadi konslet, perut laper-ngitung salah! haduh

Jurus jitu penangkal bokek yang maksud saya diatas ini sebenarnya sudah pernah saya jalankan, tetapi karena ketidak konsistenan saya akhirnya jurus itu saya lupakan. Belakangan ini saya teringat kembali dengan jurus tersebut, jurus itu adalah jurus menyebar uang. Menyebar uang ?? kaget ? emm jangan salah, maksudnya disini adalalah menyimpan uang dibeberapa lokasi yang berbeda # Sssst bukan di Bank loh. Kebiasaan menyebar uang ini kisahnya berawal dari saya yang kehabisan uang. Suatu hari saya kehabisan uang, setengah tak percaya saya berusaha mencari-cari di dompet biasa saya menyimpan uang dan bahkan hingga mengubek-ubek isi tas dan hasilnya nihil tak ada uang yang tersisa di dompet maupun di tas saya tersebut, sadar bahwa saya benar-benar broke alias bokek mendadak kepala saya menjadi pusing tujuh keliling meski gak ada yang 'ngeplak ini kepala.

Nah kalau sudah gini, tinggal tanduk yang keluar

Karena kejadian diatas tadi, saya kemudian mulai berfikir untuk menyimpan uang dengan cara disebar di beberapa tempat. Saya menyebarnya di beberapa dompet berbeda # hehe biar aman. Uang yang sudah tersebar tersebut membuat saya melihat uang yang ada didompet hanya sedikit saja dan dengan kondisi seperti ini naluri belanja saya menjadi ter-rem dengan sendirinya. Dengan cara yang sederhana ini ternyata cukup jitu menyiasati hasrat belanja saya. Uang yang memang untuk biaya satu bulan itu menjadi cukup untuk satu bulan penuh dan saya tidak perlu takut bertemu si bokek lagi. Pokoknya say good bye deh buat si bokek.

Sssst  ... ada satu siasat jitu lagi simpanlah uang dengan mata uang yang bukan Rupiah didompet anda, dijamin uang akan tetap aman ditempatnya meskipun uang tersebut bisa ditukar dengan rupiah tapi biasanya kita malas untuk menukarkannya jika itu bukan untuk keperluan yang sangat penting so .. uang anda akan tetap aman ditempatynya. # ini rahasia loh , jangan bilang siapa-siapa ya !


Salam
Cha2