Translator

Selasa, 20 September 2016

Undangan Istimewa



My Destiny comes early


Seperti biasa, hari itu saya mengecek email saya lewat ponsel. Dan biasanya email-email yang masuk dan saya anggap penting dan belum sempat saya baca akan saya masukkan ke dalam foldernya masing-masing. Ketika mata saya jatuh pada sebuah email yang saya hafal betul berasal dari sebuah situs yang sering saya baca dan karena saat itu saya merasa belum bisa membacanya, dengan reflek jari saya segera mengklik email untuk dipindahkan ke foldernya. Ketika saya mencoba memindahkan, tiba-tiba saya merasa ada yang beda. Setelah saya teliti, ternyata benar, itu email berbeda dari email yang biasa masuk ke inbox saya. Saya sempat kaget dan tak percaya dengan yang saya baca. Apakah email ini tidak salah  alamat?

Hellooooo??? Apakah ini mimpi?
 
Dengan gugup saya mulai membaca email tersebut.

Mata saya mulai menelusuri kata demi kata surat elektronik ini. Ya, pagi itu, Rabu 14 September 2016, saya mendapat email dari seseorang yang saya kagumi, ia adalah mas Isa Alamsyah, suami dari mbak Asma Nadia (Siapa sih yang enggak kenal mereka berdua? Kalau gak tau, coba googling).

Isi emailnya tentu saja sebuah kabar gembira untuk saya. Sebuah undangan workshop menulis GRATIS dari beliau. Ya, bener gratis. Hampir saya tidak percaya membacanya, tetapi, setelah saya membaca sampai habis, baru saya percaya bahwa beliau benar menawarkan undangan istimewa itu buat saya.

Suatu kehormatan buat saya karena beliau mengundang saya di acara workshop menulisnya,  yang akan diselenggarakan pada 2 dan 9 Oktober 2016 ini di JDC Slipi Jakarta Barat.

Saya tercenung. Take it or leave it. 

Saya bingung. Satu sisi saya sangat exicited, di sisi lain saya merasa malu alias minder untuk menghadiri undangan workshop ini.

Penyebab rasa minder saya, karena saya merasa tidak mempunyai kemampuan menulis. Pendidikan yang mentok. Selain itu saya pun merasa sudah tua, rasanya enggak pantas, malu dengan yang muda-muda. Tetapi kemudian saya berpikir ulang. Ini adalah kesempatan. Dan ini adalah mimpi saya. Ambil! Raih! Perintah otak saya.

Akhirnya, saya memutuskan untuk mengambil tawaran ini dengan malu-malu. Saya yakin ini adalah kesempatan saya, dan saya tidak ingin melewatkannya begitu saja. Jika saya pernah menulis tentang seorang perempuan yang di usia senjanya justru bisa meraih mimpi-mimpinya. Mengapa tidak dengan saya? 

Saya percaya, ini adalah gerbang saya meraih mimpi-mimpi saya.Dan mimpi-mimpi itu bisa terwujud di usia saya sekarang. Amin. 


Note : Terima kasih yang sebesar-besarnya buat mas Isa atas undangannya. 




Salam,
Auntie 'eMDi' Dazzling
 

Youth Has No Age

Semangat Muda! Entah karena alasan apa, setiap saya pulang dari arah kebayoran lama ke arah Mayestik, tepatnya entah di sekitar ...