Translator

Jumat, 28 Oktober 2016

Pembisik Berbisik dan Berisik


Pembisik Berbisik dan Berisik



Dikisahkan, ada sebuah kerajaan kecil yang mempunyai pemimpin seorang raja yang sangat bijaksana. Beliau memiliki beberapa orang pembisik yang cukup mumpuni dalam hal "berbisik". Satu di antara pembisiknya adalah seorang perempuan muda berparas menawan, entah kekuatan apa yang dimiliki si pembisik ini hingga sang raja bisa takluk jika ia sudah berbisik. Segala hal yang awalnya ia tidak setujui, menjadi sebuah anggukkan kepala dari sang raja.

Dulu, pembisik ini berasal dari kalangan rakyat biasa. Entah ini sebuah takdir atau hanya sebuah persinggahan sesaat, sekarang ia bisa menjadi salah satu pembisik raja, yang bisikannya paling didengar. Entah oleh sesama pembisik atau oleh sang Raja. Akibat kekuatannya ini sekarang kekuasaannya mulai beranak pinak. Dari satu sel membelah diri menjadi banyak sel. Dari yang awalnya sebagai pembisik raja, sekarang bertindak sebagai : penasehat, pembimbing, penyampai bisikan, hingga bertindak seolah-olah raja itu sendiri dan mengalungkan nama raja dilehernya. #weleh.

Raja terbuai.

Rakyat menderita.

Banyak kebijakan yang tumpang tindih atau bahkan ditabrak, jika menyangkut kepentingan pribadi. Jika dulu ada salah satu pembisik raja yang setiap hari jumat mengadakan sharing agama tertentu, dengan garang ia menolak dan berkicau kencang, persis seperti kicauan burung gagak.

Berbeda dengan sekarang. Jika pembisik terdahulunya akhirnya tidak meneruskan jadwal sharing mingguannya itu lagi, sekarang justru ia yang memiliki jadwal kegiatan mingguan tersebut. Tidak tanggung-tanggung semua rakyat yang bergender perempuan diwajibkan ikut. Jika menentang, hukuman gantung dan pancung siap menanti.

Rakyat takut.

Semua manut mengikuti sang pembisik.

Sekarang, negri yang dulu tentram itu masih terlihat tentram dari luar. Tapi di bawah sana ada riak-riak kecil yang seolah bergumpal. Dari permukaan terlihat tenang, tapi di bawahnya ada sumber tsunami yang hanya tinggal menunggu genderang berbunyi dan menumpahkan ombak besarnya. Betapa kini udara kebebasan itu seakan mahal harganya. Dulu, kaum perempuan itu jika menghadapi akhir pekan akan menyambutnya dengan suka cita. Bagai hendak bertemu sang pujaan hati, mereka akan mematut diri mereka secantik mungkin. Kadang mereka menggunakan gaun yang sangat cantik, kemudian mereka bersama-sama tamasya ke suatu tempat yang biasa mereka jadikan tempat kongkow, sekedar menghilangkan kejenuhan hari-hari kerja mereka. Tetapi kali ini berbeda, bagi mereka, akhir pekan yang jatuhnya hari jum'at itu seolah hari di mana mereka menghadapi ujian kelulusan. Wajah-wajah stress kadang membingkai mereka dalam sapuan bedak dan guratan gincu tanda bahwa mereka siap menyambut sang Maha Guru. Balutan baju gamis yang anggun seakan tidak bisa pula menutupi kegalauan hati mereka. Bukan, mereka bukan tidak suka kegiatan baru di akhir pekan itu, kegiatan yang dipelopori sang pembisik. Mereka hanya merasa tertekan saja, karena dengan terpaksa harus mengikuti aturan sang pembisik. Kegiatan yang sebenarnya sungguh mulia tetapi berakibat tidak baik karena keterpaksaan. Semua ketidaknyamanan ini timbul akibat kesewenang-wenangan yang tercipta.

Raja diam.

Layaknya ia tertidur.

Mungkin, suatu hari raja terbangun dan menyadari betapa sang pembisik kesayangannya itu telah menjelma menjadi raja kecil, bayang-bayang dirinya. Dan menguasai negrinya.

Raja hanya nama. Penguasa adalah si pembisik.


Jakarta, 28 Oktober 2016




Note : Seorang penulis memang harus menulis, meski hasilnya belum memuaskan hajar saja karena ini adalah jalan menuju tulisan yang lebih baik #Keep spirit Sist!




Salam,
Auntie 'eMDi' Dazzling

Kamis, 13 Oktober 2016

Opera Sabun



Opera Sabun
It’s show time



“Aku harus bagaimana ini, ikut saja atau… Mm, sudahlah.”

Reno melangkah perlahan dengan ragu mengikuti keranda bertudung hijau di depannya. Sebenarnya ia sedikit enggan mengikuti prosesi pemakaman ini, tetapi apa kata orang jika ia tidak ikut dalam prosesi ini. 

Huh! Dari mulutnya terdengar desahan tak jelas, napasnya yang sedikit tersengal ia hembuskan kuat-kuat. Langkahnya yang tadi lambat kini sedikit tergesa seolah terhipnotis oleh para pembawa tandu keranda yang berjalan cukup cepat. Sepatu kets kesayangannya sekarang dihiasi tanah merah kuburan di beberapa bagian. Ini adalah hari terakhir di mana ia bisa memandangi keranda yang membungkus jasad Sonya, pacarnya.

Sebulan lalu ia ingat betul bagaimana ia dan Sonya masih bersama-sama. Sonya yang manja itu memang berbeda dalam segala hal dengan perempuan-perempuan pilihan orang tuanya. Tepatnya pilihan ibunya. Terakhir, ibunya menyodorkan seorang gadis berusia belasan tahun yang membuatnya protes keras.

“Gadis seusia itu cocoknya masih berseragam SMP, bu. Mengapa ibu menyodorkannya padaku?”

“ Biar mudah diatur,” ibunya menjawab ketus.

Sudahlah, ia tahu gadis itu tidak jelek, bisa dibilang tergolong cantik. Tapi dia masih kecil, jangan-jangan ini termasuk kejahatan seksual pada anak. Polisi bisa menciduknya gara-gara ini. Hiii…, ia bergidik, bulu kuduknya seolah berdiri tegak.

Memang gara-gara Sonya lah hubungan dengan keluarga terutama ibunya menjadi rumit. Persis seperti benang kusut yang susah diurai kembali. Dan dirinya hanya pasrah saja akan keadaan itu. Hatinya begitu kuat dan yakin cintanya hanya untuk Sonya seorang.

Tak berbeda dengan Sonya, Reno adalah pujaan hatinya. Susah betul kedua anak manusia itu dipisahkan. Mungkin hanya maut yang bisa memisahkan mereka.

 Dan maut itu benar-benar datang menyapa Sonya, tepat di tahun ke sepuluh mereka berpacaran. 

Sepuluh tahun perjalanan cinta adalah bukan waktu yang sebentar. Bayi mungil anak kakaknya yang lahir sepuluh tahun lalu itu saja sekarang sudah beranjak besar, sudah kelas 5 SD ia sekarang. Dalam kurun waktu itu sebenarnya ia sangat ingin segera meminang Sonya. Tapi, keluarga besarnya malah kebakaran jenggot. Mereka melarang bahkan mengusirnya dari rumah.

Sakit rasanya. 

Sakitnya tuh di sini!

Suatu kali ibunya pernah merestui hubungan asmara mereka, tetapi sayang restu itu berjalan  hanya dalam hitungan detik saja. Karena di detik ketujuh restu itu hancur bersamaan dengan terjatuhnya ia dari kursi. 

Ah, rupanya itu hanya hayalan tingkat tingginya saja. Pret!

Apa sih yang diharapkan dari seorang laki-laki sepertinya?

Ia hanya mengharapkan seseorang yang mengerti dirinya. Cukup. Dan Sonyalah satu-satunya orang yang bisa mengerti dirinya. Mungkin, sangat mengerti. Jadi, untuk apalagi ia mencari-cari yang lain, jika sudah ada orang yang tepat.

Huh! Pusing ia memikirkan semua tentang itu. 

Atau mungkin sebaiknya aku dan Sonya pergi dari kampung ini, seperti pasangan lain yang “kawin lari” jika tidak direstui orang tua. Terbesit juga pikiran konyol ini. Tapi, segera dikuburnya niat itu.

Ia teringat, suatu malam Sonya bertandang ke rumahnya, cukup pintar Sonya mengambil hati ibunya. Dengan cerdas, dibawakannya makanan special kesukaan si ibu, serabi solo. Rasa yang sekarang bukan hanya original itu membuat air liur si ibu keluar tak tertahan, persis seperti seekor anjing yang lidahnya menjulur-julur keluar untuk mendinginkan suhu tubuhnya karena cuaca panas. Dalam sekejap ditandaskannya satu kotak serabi solo berisi 20 biji dengan rasa rupa-rupa itu ; coklat, keju, duren dan nangka. Untuk sementara, serabi solo bisa meredam kemarahan hati si ibu.

Ren, aku enggak tahan dengan semua ini, tapi aku juga enggak bisa hidup tanpa kamu.  Sonya sering berkeluh kesah seperti itu. Baginya keluhan kekasihnya ini adalah keluhannya juga.

Keluarga kedua belah pihak, baik Sonya maupun Reno tampaknya sama-sama tidak menyukai hubungan anak mereka itu.

“Jijik!” Suatu kali bapaknya bicara seperti itu padanya. Hati anak mana yang tidak hancur jika sang bapak saja sudah mengatakan itu.

Bapaknya bilang, jodoh itu harus seimbang seperti Ying dan Yang. Bukan semau deweke seperti kamu, sungut bapak. Bisa-bisanya bapak tahu istilah Cina Ying dan Yang, padahal moco aja enggak bisa, batinnya. 

Iya, dirinya memang bukan Ying, dan Sonya juga bukan Yang. Reno, ya Reno. Sonya, ya Sonya. Sudah, itu saja. Gerundel hatinya.

Tapi sejak Sonya jatuh sakit, ya sebulan yang lalu itu, tidak pernah terbesit sedikit pun Sonya akan meninggalkan dirinya, apalagi untuk selama-lamanya. 

Tiba-tiba saja kesedihan mendera dirinya. Ada segerombolan air mata mendesak untuk ke luar. Digigitnya bibirnya kuat-kuat untuk menahan tangis yang hampir tak dapat dibendung. Sebagai laki-laki pantang rasanya menangis. Laki-laki itu harus jentelmen begitu ibunya bilang. Dan sebagai laki-laki ia tidak mau terlihat cengeng di depan orang, meski hatinya sebenarnya mewek darah.

Sebenarnya, dua minggu yang lalu ia sudah membawa Sonya ke dokter. Selama sakit Sonya tidak mau dibawa ke dokter oleh keluarganya. Karena Reno lah ia mau pergi ke dokter. 

“Penyakitnya sepertinya sudah lama bercokol, mungkin tidak dirasa saja. Tapi, kita periksa lab dulu biar jelas,” ujar si dokter.

Kalau orang divonis suatu penyakit, seenteng apa pun penyakit itu pasti tetap berat terasa. Bagi Reno, penyakit Sonya yang belum tahu apa itu adalah pukulan terberat hidupnya. 

Andai ia bisa menciptakan dunianya sendiri, ia ingin pergi berdua saja bersama Sonya. Apa pun yang ia kerjakan andai itu bersama Sonya selamanya akan menyenangkan. Kata orang rasa demikian itu namanya kerjanya si hormon endorphin yang tahannya cuma sebentar kemudian rasa senang itu akan menurun seiring berjalannya waktu, dan kemudian hilang. Tapi nyatanya perjalanan cinta antara ia dan Sonya sudah memasuki tahun ke sepuluh, dan semua rasa itu masih sama. Masih seperti awal mereka jatuh cinta.

“Reno, kalau dokternya kamu, aku sakit gini juga enggak apa-apa. Kan, kamu yang periksa dan ngerawat aku,” ujar Sonya dengan tatapan mata lekat memandangnya. 

Reno hanya diam, tangannya yang sedikit basah meremas tangan Sonya kuat. Ada ketakutan yang menggelayutinya. Terbayang olehnya awal ia dan Sonya berkenalan. Sonya yang introvert itu bertemu dengan dirinya yang sebenarnya tipe extrovert. Tetapi, sejak mengenal Sonya, sifatnya yang terbuka itu berubah menjadi tertutup seperti Sonya. Banyak teman-temannya yang merasa heran dengan perubahan sifat Reno.

Bukan! Bukan itu sebenarnya. 

Perubahan sifat Reno bukan karena Sonya.

Tetapi justru satu tahun ke belakang sebelum ia mengenal Sonya. Ya, tepatnya sejak ia ditolak cintanya oleh salah satu cewek cantik paling beken di sekolah SMA-nya dulu. Bagi Reno cowok yang tergolong dalam jajaran tampan itu ditolak cinta pantang dalam kamusnya. Dan, kalau memang ia ditolak pun enggak masalah, lha wong masih banyak cewek yang antri buat dipacarinya. Tapi, bukan itu masalahnya. Masalah yang utama karena ia merasa dipermalukan di depan umum. Dipermalukan justru oleh orang yang ditaksirnya. 

Bayangkan saja waktu ia nembak si Lusi cewek cantik bertampang indo itu, bukannya diterima atau ditolak dengan lembut gitu, ia malah mendapat tamparan kencang tepat di pipi kanan dan kirinya. Tidak hanya sampai di situ, si cewek imut ini pun meludahinya.

“Ciih, jijik aku denger rayuanmu itu Ren! Kamu memang ganteng tapi jangan kamu pikir tiap perempuan akan mudah tergoda oleh rayuan gombalmu itu,” cerocosnya. Darah dalam tubuh Reno seakan mendidih, terkesiap ia mendapat perlakuan seperti itu dari Lusi. Mukanya memerah hangat. Dadanya bergemuruh kencang, mata tajamnya memandang  Lusi geram. Jari-jari tangannya membentuk kepalan kuat.

Ada luka menganga di hati Reno. 

Dan sejak itu Reno menutup diri. Ia tidak pernah bergaul dan menjadi seorang pendiam tingkat tinggi. 

Satu tahun sejak peristiwa itu ia bertemu Sonya, anak pindahan dari Jakarta. Dengan Sonya lah ia mulai mau terbuka. Hingga entah siapa yang memulai, mereka menjadi semakin dekat. Dan dengan bodohnya, mereka mengikatkan diri satu dan lainnya sebagai pasangan.

Barangkali itu sudah takdir mereka. 

Hubungan yang semakin intim antara Reno dan Sonya bukanlah hubungan yang mudah. Banyak orang yang memandang sebelah mata dengan hubungan ini. Bisik-bisik selalu ada di mana pun mereka berada. Tetapi keduanya tidak tergoyahkan. Mereka begitu akrab, dekat dan cenderung membikin iri atau mungkin benci orang yang melihat.

Pasangan yang aneh, begitu bisik-bisik orang.

Gila tuh si Reno, bisa-bisanya ia jadi berubah seperti itu. 

Ah, keluarkan saja tuh anak baru dari sekolah kita, buat virus saja di sekolah ini.

Bisik-bisik itu semakin sering terdengar dengan ritme dan irama yang sama, hari lepas hari hingga mereka lulus sekolah.

Reno terhenyak ketika seseorang menyerempet dan hampir menginjak kakinya. 

Mengembalikan segala kesadarannya.

Aku masih di sini. 

Reno berdiri mematung. Matanya tajam memperhatikan tanah-tanah merah yang menyeruak ke permukaan. Sekarang, matanya lebih bisa melihat dengan terang dan jelas. Air mata yang tadi hampir tumpah itu sedikit-demi sedikit terhapus oleh usapan tangan kokohnya. Prosesi pemakaman Sonya berjalan cukup hikmat. Ia melihat satu per satu keluarga Sonya. Ayah, ibu dan kakak serta adik Sonya tampak berwajah kusut. Mata mereka tampak sembab. 

“Maaf,” suara lirih Reno tanpa ada satu orang pun yang mendengarnya. Bibirnya bergetar dengan napas yang terputus-putus. Ia merasa menyesal dengan hubungannya dan Sonya. Mungkin kalau dulu ia tidak terlalu terbuka dan menjadi dekat dengan Sonya, bisa jadi ceritanya akan lain. Mungkin Sonya tidak akan semakin masuk ke dalam lembah dunia gelap ini. Dan ia semakin menyesal, ketika kematian Sonya menjadi sebuah keributan besar dalam keluarga besar Sonya.

Seumpama dulu rasa dendamnya terhadap perempuan tidak ia lampiaskan pada Sonya, mungkin ceritanya tidak begini. Bisa jadi hubungan ia dan Sonya hanya sebatas persahabatan yang indah. Atau kalau boleh ia memilih bisa jadi hubungannya menjadi sebuah persaudaraan. Karena jauh di lubuk hatinya, ia tiba-tiba saja merasa jatuh cinta pada adik Sonya yang cantik itu. 

Tapi, mana mungkin?

Apa mungkin masih ada yang mempercayai perasaan terdalamnya.

Bagaimana dengan Sonya?

“Maaf kan aku Sony. Aku sudah salah menterjemahkan kebaikanmu. Aku sudah mengubah engkau dari seorang anak laki-laki pemalu menjadi seorang perempuan jadi-jadian, pelampiasan dendam nafsuku. Maafkan aku sahabatku, Sony Praja Kusuma,” bisiknya pilu.

Suara doa masih terdengar dari arah makam Sony Praja Kusuma. Reno berjalan menjauh dari makam itu. Ada penyesalan dalam yang tidak akan pernah hilang dari hidupnya.



-           TAMAT    -




Note : Seorang penulis memang harus menulis, meski hasilnya belum memuaskan hajar saja karena ini adalah jalan menuju tulisan yang lebih baik #Keep spirit Sist!






Salam,
Auntie 'eMDi' Dazzling




 

Senin, 10 Oktober 2016

Mencari Rd


"Whassap aja ya say!"
"Pesbuk aja bu, soalnya saya gak punya whassap." 
"Ok."

Lalu ia menuliskan nama pesbuknya Rd.

"Pokoknya, yang ada gambar hatinya."

Saya mengangguk tanda setuju. 


Begitu bodohnya saya menyetujui kata-katanya  tanpa berpikir lagi bagaimana jika saya tidak menemukan akun namanya itu. Di otak saya saat itu akan mudah mencari Rd di pesbuk, ternyata oh my ghost ada ribuan akun yang awalannya bernama Rd. Pusing.

Kenapa saya saat itu tidak meminta no ponselnya saja?

Selain ia, kenapa saya tidak memberi nama akun pesbuk saya padanya?

Atau saya beri nomor ponsel saya. Tapi kalau nomor ponsel saya sendiri saya tidak ingat. Huh, pret!

Kenapa saat itu tidak terpikir sampai ke situ???


Yang jelas, setelah kemarin mengikuti Workshop menulisnya mbak Asma Nadia itu, ada moment di mana saya di foto bersama Hilma Hariwijaya - Penulis Lupus, Penulis Skenario -  difotonya menggunakan ponsel teman sesama peserta worshop bernama Rita.

Kenapa juga di foto pakai acara memakai ponsel orang? 

Ceritanya begini, Pagi hari di hari Minggu tanggal 09 Oktober 2016 itu, sebenarnya semua keperluan yang harus saya bawa sudah lengkap semua. Cuma satu hal, saya sengaja men-charge- ponsel saya lebih lama agar saya tidak kehabisan batteray lagi seperti minggu sebelumnya. Maklum, saya tidak punya power bank. Jadi, persiapan nge-charge sengaja saya lama-lamain. Ceritanya sih biar awet. Tapi, kisahnya jadi lain waktu saya sudah berada di Transjakarta si Bus Way itu, saya baru teringat dengan ponsel saya yang masih menancap di colokan listrik. Damn! Saya lupa. Untuk balik lagi ke rumah, waduuh mana mungkin. Enggak worth it lah. Bisa-bisa bukannya dapat ilmu malah datang terlambat dan gak dapat apa-apa. Yaelah, rugi bandar!

Akhirnya dengan perasaan enggak enak banget, secara sudah terbayangkan bakalan enggak bisa foto-foto sama para pembicara hari itu, di antaranya : Hilma Hariwijya, Helvy Tiana Rosa (Penulis, Dosen), Alim Sudio (Penulis Skenario), Isa Alamsyah (Penulis), Agung Pribadi (Penulis)  (ssstt... minggu lalu belum sempat foto bareng sama mas Isa dan mas Agung padahal mereka eksis dari minggu lalu) akhirnya saya hanya bisa menyesal.

Workshop pun dimulai pukul.09.00 s/d 17.00 WIB  (Kenyataannya : Dimulai sebelum pukul 09.00 dan selesai lewat pukul 17.00,  hehe... itu namanya bonus. Asik kan. Jangan ngiri!)

Singkat cerita, menjelang lunch sesi foto dimulai, hohoho mau difoto gimana lha wong gak ada kamera pembidiknya. Jadilah saya minta difotoin oleh salah satu teman saya Rita. Selain saya minta difoto berdua bersama Hilman Hariwijaya, saya pun difoto bersama-sama dengan si pemilik ponsel. Tak lupa saya minta difoto bersama Helvy Tiana Rosa. Dan, yaa menyesalnya itu tadi hasil jepretan di ponselnya berakhir seperti cerita di atas. Beruntung, saya masih punya foto bersama mas Alim Sudio, mbak Helvy T.R., dan mas Isa Alamsyah dari Elin, teman saya yang lain. Sayangnya bersama mas Agung Pribadi saya tidak sempat berfoto. Ketiga foto itu dikirim Elin via whassap. Lumayan. Meski tidak puas. Secara foto-foto itu cuma berjumlah masing-masing satu dan hasilnya kurang oke.Tapi, saya tetap bersyukur karena masih bisa mendapatkan ketiga foto itu.

Writing Workshop yang diselenggarakan tanggal 2 dan 9 Oktober ini memang keren punya. Selain dapat ilmu dari pakar-pakarnya, saya pun dapat kejutan lain. Kejutannya adalah foto-foto unggahan mas Guntur di pesbuk.

Nah, kemarin saya mendapat foto-foto hasil unggahan ponsel-nya mas Guntur Soeharjanto (Sutradara) yang di minggu sebelumnya, tanggal 02 Oktober 2016 menjadi pembicara di writing workshop ini. Dan saya pribadi masih punya beberapa foto bersama mbak Asma Nadia, mas Guntur Soeharjanto di ponsel saya. Sayang, foto-foto itu masih tersimpan rapi di ponsel. Tapi, biar saya bisa mengingat terus acara workshop ini, foto-foto yang diunggah mas guntur akan saya bagi di sini. Meski di foto itu saya lagi ngapain gitu, enggak masalah, yang penting eksist, hehe.


Bersinggungan dengan orang pintar

Sibuk ngapain tuh gue?

Bisa-bisanya pake nengok segala!

Writing Workshop Asma Nadia 2016

Mendengarkan orang-orang pintar sedang bicara (ada anaknya mas Guntur)  ;
Asma Nadia, mas Guntur Soeharjanto & mas Isa Alamsyah :)



Note : Belajarlah dari ahlinya, maka kamu akan mendapat lebih.




Salam,
Auntie 'eMDi' Dazzling



Jumat, 07 Oktober 2016

"Life is Learning. Don't Forget Happy"



Kurang mengena! Teman saya menghampiri saya sambil mengatakan itu.

Deg!

Saya diam. Kecewa. Tapi itu kenyataan. Dan sebuah tantangan bagi saya. 

Saya baru saja menyelesaikan satu cerpen pendek berjumlah 5 halaman saja, tetapi cerita yang saya buat menurut teman saya, Anis, ceritanya kurang mengena.

Sebenarnya saya sendiri sejak awal kurang suka dengan ceritanya. Kurang asik. Bukan "gue" banget!

Iya bener! Cerita yang saya buat itu kurang 'sreg' di hati saya. Tapi saya paksakan untuk saya tuntaskan, meski akhirnya berbeda dari ide awal.

Waah gimana ya? 

Apa saya masih bisa mengirim cerpen sebanyak 6 halaman di hari ini? 

Sebenarnya cerpen ini seharusnya sudah dikirim seminggu yang lalu. Tepatnya tanggal 30 September 2016. Tapi berhubung workshop menulisnya masih ada satu kali lagi, jadi apa salahnya jika saya mengirim sekarang. Jadi cerpennya bisa dibahas di Writing Workshop Asma Nadia pada minggu tgl. 09 Oktober 2016 nanti. 

Pikir punya pikir, lebih baik saya tahan saja cerita itu. Saya mau cari ilham dulu padahal si Ilham ada di pojokan, gede banget tuh! siapa tau saya dapat ide lain.

Biasanya ide datang justru di saat sudah mepet pet!

Ngarep bisa nyelesaikan satu cerpen dulu! 


Pokoknya : Life is Learning. Don't Forget Happy!


Yippiiii.....




Salam,
Auntie 'eMDi' Dazzling



Youth Has No Age

Semangat Muda! Entah karena alasan apa, setiap saya pulang dari arah kebayoran lama ke arah Mayestik, tepatnya entah di sekitar ...