Cerpen - Fiksi
Lelaki separuh baya itu, kembali mendatangiku di
pagi buta nan dingin.
Seperti pagi-pagi
sebelumnya, ia sudah terbangun paling pagi, disaat
seluruh keluarga – istri dan anak-anaknya – masih tertidur pulas. Aku tau, ia akan segera
mendatangi kamarku
yang letaknya ada di belakang rumah mereka, terpisah dari rumah utama. Dari langkah
kakinya yang terdengar berjalan di seret itu, terdengar ia menghampiriku, membuka pintu kamarku
pelan-pelan, memandangku penuh sayang, dan segera matanya akan menangkap tubuhku
yang masih meringkuk kedinginan,
kemudian ia memeluk tubuhku erat, mencium dan mengendus sekejap kepalaku, dan
segera saja kehangatanpun merasuki tubuhku meski
kantuk masih mengelayut. “Wes isuk saiki, yo tangi ”, ujarnya terdengar parau
membangunkanku dengan “caranya” itu
di setiap pagi
buta.