Translator

Kamis, 13 Oktober 2016

Opera Sabun



Opera Sabun
It’s show time



“Aku harus bagaimana ini, ikut saja atau… Mm, sudahlah.”

Reno melangkah perlahan dengan ragu mengikuti keranda bertudung hijau di depannya. Sebenarnya ia sedikit enggan mengikuti prosesi pemakaman ini, tetapi apa kata orang jika ia tidak ikut dalam prosesi ini. 

Huh! Dari mulutnya terdengar desahan tak jelas, napasnya yang sedikit tersengal ia hembuskan kuat-kuat. Langkahnya yang tadi lambat kini sedikit tergesa seolah terhipnotis oleh para pembawa tandu keranda yang berjalan cukup cepat. Sepatu kets kesayangannya sekarang dihiasi tanah merah kuburan di beberapa bagian. Ini adalah hari terakhir di mana ia bisa memandangi keranda yang membungkus jasad Sonya, pacarnya.

Sebulan lalu ia ingat betul bagaimana ia dan Sonya masih bersama-sama. Sonya yang manja itu memang berbeda dalam segala hal dengan perempuan-perempuan pilihan orang tuanya. Tepatnya pilihan ibunya. Terakhir, ibunya menyodorkan seorang gadis berusia belasan tahun yang membuatnya protes keras.

“Gadis seusia itu cocoknya masih berseragam SMP, bu. Mengapa ibu menyodorkannya padaku?”

“ Biar mudah diatur,” ibunya menjawab ketus.

Sudahlah, ia tahu gadis itu tidak jelek, bisa dibilang tergolong cantik. Tapi dia masih kecil, jangan-jangan ini termasuk kejahatan seksual pada anak. Polisi bisa menciduknya gara-gara ini. Hiii…, ia bergidik, bulu kuduknya seolah berdiri tegak.

Memang gara-gara Sonya lah hubungan dengan keluarga terutama ibunya menjadi rumit. Persis seperti benang kusut yang susah diurai kembali. Dan dirinya hanya pasrah saja akan keadaan itu. Hatinya begitu kuat dan yakin cintanya hanya untuk Sonya seorang.

Tak berbeda dengan Sonya, Reno adalah pujaan hatinya. Susah betul kedua anak manusia itu dipisahkan. Mungkin hanya maut yang bisa memisahkan mereka.

 Dan maut itu benar-benar datang menyapa Sonya, tepat di tahun ke sepuluh mereka berpacaran. 

Sepuluh tahun perjalanan cinta adalah bukan waktu yang sebentar. Bayi mungil anak kakaknya yang lahir sepuluh tahun lalu itu saja sekarang sudah beranjak besar, sudah kelas 5 SD ia sekarang. Dalam kurun waktu itu sebenarnya ia sangat ingin segera meminang Sonya. Tapi, keluarga besarnya malah kebakaran jenggot. Mereka melarang bahkan mengusirnya dari rumah.

Sakit rasanya. 

Sakitnya tuh di sini!

Suatu kali ibunya pernah merestui hubungan asmara mereka, tetapi sayang restu itu berjalan  hanya dalam hitungan detik saja. Karena di detik ketujuh restu itu hancur bersamaan dengan terjatuhnya ia dari kursi. 

Ah, rupanya itu hanya hayalan tingkat tingginya saja. Pret!

Apa sih yang diharapkan dari seorang laki-laki sepertinya?

Ia hanya mengharapkan seseorang yang mengerti dirinya. Cukup. Dan Sonyalah satu-satunya orang yang bisa mengerti dirinya. Mungkin, sangat mengerti. Jadi, untuk apalagi ia mencari-cari yang lain, jika sudah ada orang yang tepat.

Huh! Pusing ia memikirkan semua tentang itu. 

Atau mungkin sebaiknya aku dan Sonya pergi dari kampung ini, seperti pasangan lain yang “kawin lari” jika tidak direstui orang tua. Terbesit juga pikiran konyol ini. Tapi, segera dikuburnya niat itu.

Ia teringat, suatu malam Sonya bertandang ke rumahnya, cukup pintar Sonya mengambil hati ibunya. Dengan cerdas, dibawakannya makanan special kesukaan si ibu, serabi solo. Rasa yang sekarang bukan hanya original itu membuat air liur si ibu keluar tak tertahan, persis seperti seekor anjing yang lidahnya menjulur-julur keluar untuk mendinginkan suhu tubuhnya karena cuaca panas. Dalam sekejap ditandaskannya satu kotak serabi solo berisi 20 biji dengan rasa rupa-rupa itu ; coklat, keju, duren dan nangka. Untuk sementara, serabi solo bisa meredam kemarahan hati si ibu.

Ren, aku enggak tahan dengan semua ini, tapi aku juga enggak bisa hidup tanpa kamu.  Sonya sering berkeluh kesah seperti itu. Baginya keluhan kekasihnya ini adalah keluhannya juga.

Keluarga kedua belah pihak, baik Sonya maupun Reno tampaknya sama-sama tidak menyukai hubungan anak mereka itu.

“Jijik!” Suatu kali bapaknya bicara seperti itu padanya. Hati anak mana yang tidak hancur jika sang bapak saja sudah mengatakan itu.

Bapaknya bilang, jodoh itu harus seimbang seperti Ying dan Yang. Bukan semau deweke seperti kamu, sungut bapak. Bisa-bisanya bapak tahu istilah Cina Ying dan Yang, padahal moco aja enggak bisa, batinnya. 

Iya, dirinya memang bukan Ying, dan Sonya juga bukan Yang. Reno, ya Reno. Sonya, ya Sonya. Sudah, itu saja. Gerundel hatinya.

Tapi sejak Sonya jatuh sakit, ya sebulan yang lalu itu, tidak pernah terbesit sedikit pun Sonya akan meninggalkan dirinya, apalagi untuk selama-lamanya. 

Tiba-tiba saja kesedihan mendera dirinya. Ada segerombolan air mata mendesak untuk ke luar. Digigitnya bibirnya kuat-kuat untuk menahan tangis yang hampir tak dapat dibendung. Sebagai laki-laki pantang rasanya menangis. Laki-laki itu harus jentelmen begitu ibunya bilang. Dan sebagai laki-laki ia tidak mau terlihat cengeng di depan orang, meski hatinya sebenarnya mewek darah.

Sebenarnya, dua minggu yang lalu ia sudah membawa Sonya ke dokter. Selama sakit Sonya tidak mau dibawa ke dokter oleh keluarganya. Karena Reno lah ia mau pergi ke dokter. 

“Penyakitnya sepertinya sudah lama bercokol, mungkin tidak dirasa saja. Tapi, kita periksa lab dulu biar jelas,” ujar si dokter.

Kalau orang divonis suatu penyakit, seenteng apa pun penyakit itu pasti tetap berat terasa. Bagi Reno, penyakit Sonya yang belum tahu apa itu adalah pukulan terberat hidupnya. 

Andai ia bisa menciptakan dunianya sendiri, ia ingin pergi berdua saja bersama Sonya. Apa pun yang ia kerjakan andai itu bersama Sonya selamanya akan menyenangkan. Kata orang rasa demikian itu namanya kerjanya si hormon endorphin yang tahannya cuma sebentar kemudian rasa senang itu akan menurun seiring berjalannya waktu, dan kemudian hilang. Tapi nyatanya perjalanan cinta antara ia dan Sonya sudah memasuki tahun ke sepuluh, dan semua rasa itu masih sama. Masih seperti awal mereka jatuh cinta.

“Reno, kalau dokternya kamu, aku sakit gini juga enggak apa-apa. Kan, kamu yang periksa dan ngerawat aku,” ujar Sonya dengan tatapan mata lekat memandangnya. 

Reno hanya diam, tangannya yang sedikit basah meremas tangan Sonya kuat. Ada ketakutan yang menggelayutinya. Terbayang olehnya awal ia dan Sonya berkenalan. Sonya yang introvert itu bertemu dengan dirinya yang sebenarnya tipe extrovert. Tetapi, sejak mengenal Sonya, sifatnya yang terbuka itu berubah menjadi tertutup seperti Sonya. Banyak teman-temannya yang merasa heran dengan perubahan sifat Reno.

Bukan! Bukan itu sebenarnya. 

Perubahan sifat Reno bukan karena Sonya.

Tetapi justru satu tahun ke belakang sebelum ia mengenal Sonya. Ya, tepatnya sejak ia ditolak cintanya oleh salah satu cewek cantik paling beken di sekolah SMA-nya dulu. Bagi Reno cowok yang tergolong dalam jajaran tampan itu ditolak cinta pantang dalam kamusnya. Dan, kalau memang ia ditolak pun enggak masalah, lha wong masih banyak cewek yang antri buat dipacarinya. Tapi, bukan itu masalahnya. Masalah yang utama karena ia merasa dipermalukan di depan umum. Dipermalukan justru oleh orang yang ditaksirnya. 

Bayangkan saja waktu ia nembak si Lusi cewek cantik bertampang indo itu, bukannya diterima atau ditolak dengan lembut gitu, ia malah mendapat tamparan kencang tepat di pipi kanan dan kirinya. Tidak hanya sampai di situ, si cewek imut ini pun meludahinya.

“Ciih, jijik aku denger rayuanmu itu Ren! Kamu memang ganteng tapi jangan kamu pikir tiap perempuan akan mudah tergoda oleh rayuan gombalmu itu,” cerocosnya. Darah dalam tubuh Reno seakan mendidih, terkesiap ia mendapat perlakuan seperti itu dari Lusi. Mukanya memerah hangat. Dadanya bergemuruh kencang, mata tajamnya memandang  Lusi geram. Jari-jari tangannya membentuk kepalan kuat.

Ada luka menganga di hati Reno. 

Dan sejak itu Reno menutup diri. Ia tidak pernah bergaul dan menjadi seorang pendiam tingkat tinggi. 

Satu tahun sejak peristiwa itu ia bertemu Sonya, anak pindahan dari Jakarta. Dengan Sonya lah ia mulai mau terbuka. Hingga entah siapa yang memulai, mereka menjadi semakin dekat. Dan dengan bodohnya, mereka mengikatkan diri satu dan lainnya sebagai pasangan.

Barangkali itu sudah takdir mereka. 

Hubungan yang semakin intim antara Reno dan Sonya bukanlah hubungan yang mudah. Banyak orang yang memandang sebelah mata dengan hubungan ini. Bisik-bisik selalu ada di mana pun mereka berada. Tetapi keduanya tidak tergoyahkan. Mereka begitu akrab, dekat dan cenderung membikin iri atau mungkin benci orang yang melihat.

Pasangan yang aneh, begitu bisik-bisik orang.

Gila tuh si Reno, bisa-bisanya ia jadi berubah seperti itu. 

Ah, keluarkan saja tuh anak baru dari sekolah kita, buat virus saja di sekolah ini.

Bisik-bisik itu semakin sering terdengar dengan ritme dan irama yang sama, hari lepas hari hingga mereka lulus sekolah.

Reno terhenyak ketika seseorang menyerempet dan hampir menginjak kakinya. 

Mengembalikan segala kesadarannya.

Aku masih di sini. 

Reno berdiri mematung. Matanya tajam memperhatikan tanah-tanah merah yang menyeruak ke permukaan. Sekarang, matanya lebih bisa melihat dengan terang dan jelas. Air mata yang tadi hampir tumpah itu sedikit-demi sedikit terhapus oleh usapan tangan kokohnya. Prosesi pemakaman Sonya berjalan cukup hikmat. Ia melihat satu per satu keluarga Sonya. Ayah, ibu dan kakak serta adik Sonya tampak berwajah kusut. Mata mereka tampak sembab. 

“Maaf,” suara lirih Reno tanpa ada satu orang pun yang mendengarnya. Bibirnya bergetar dengan napas yang terputus-putus. Ia merasa menyesal dengan hubungannya dan Sonya. Mungkin kalau dulu ia tidak terlalu terbuka dan menjadi dekat dengan Sonya, bisa jadi ceritanya akan lain. Mungkin Sonya tidak akan semakin masuk ke dalam lembah dunia gelap ini. Dan ia semakin menyesal, ketika kematian Sonya menjadi sebuah keributan besar dalam keluarga besar Sonya.

Seumpama dulu rasa dendamnya terhadap perempuan tidak ia lampiaskan pada Sonya, mungkin ceritanya tidak begini. Bisa jadi hubungan ia dan Sonya hanya sebatas persahabatan yang indah. Atau kalau boleh ia memilih bisa jadi hubungannya menjadi sebuah persaudaraan. Karena jauh di lubuk hatinya, ia tiba-tiba saja merasa jatuh cinta pada adik Sonya yang cantik itu. 

Tapi, mana mungkin?

Apa mungkin masih ada yang mempercayai perasaan terdalamnya.

Bagaimana dengan Sonya?

“Maaf kan aku Sony. Aku sudah salah menterjemahkan kebaikanmu. Aku sudah mengubah engkau dari seorang anak laki-laki pemalu menjadi seorang perempuan jadi-jadian, pelampiasan dendam nafsuku. Maafkan aku sahabatku, Sony Praja Kusuma,” bisiknya pilu.

Suara doa masih terdengar dari arah makam Sony Praja Kusuma. Reno berjalan menjauh dari makam itu. Ada penyesalan dalam yang tidak akan pernah hilang dari hidupnya.



-           TAMAT    -




Note : Seorang penulis memang harus menulis, meski hasilnya belum memuaskan hajar saja karena ini adalah jalan menuju tulisan yang lebih baik #Keep spirit Sist!






Salam,
Auntie 'eMDi' Dazzling




 

Senin, 10 Oktober 2016

Mencari Rd


"Whassap aja ya say!"
"Pesbuk aja bu, soalnya saya gak punya whassap." 
"Ok."

Lalu ia menuliskan nama pesbuknya Rd.

"Pokoknya, yang ada gambar hatinya."

Saya mengangguk tanda setuju. 


Begitu bodohnya saya menyetujui kata-katanya  tanpa berpikir lagi bagaimana jika saya tidak menemukan akun namanya itu. Di otak saya saat itu akan mudah mencari Rd di pesbuk, ternyata oh my ghost ada ribuan akun yang awalannya bernama Rd. Pusing.

Kenapa saya saat itu tidak meminta no ponselnya saja?

Selain ia, kenapa saya tidak memberi nama akun pesbuk saya padanya?

Atau saya beri nomor ponsel saya. Tapi kalau nomor ponsel saya sendiri saya tidak ingat. Huh, pret!

Kenapa saat itu tidak terpikir sampai ke situ???


Yang jelas, setelah kemarin mengikuti Workshop menulisnya mbak Asma Nadia itu, ada moment di mana saya di foto bersama Hilma Hariwijaya - Penulis Lupus, Penulis Skenario -  difotonya menggunakan ponsel teman sesama peserta worshop bernama Rita.

Kenapa juga di foto pakai acara memakai ponsel orang? 

Ceritanya begini, Pagi hari di hari Minggu tanggal 09 Oktober 2016 itu, sebenarnya semua keperluan yang harus saya bawa sudah lengkap semua. Cuma satu hal, saya sengaja men-charge- ponsel saya lebih lama agar saya tidak kehabisan batteray lagi seperti minggu sebelumnya. Maklum, saya tidak punya power bank. Jadi, persiapan nge-charge sengaja saya lama-lamain. Ceritanya sih biar awet. Tapi, kisahnya jadi lain waktu saya sudah berada di Transjakarta si Bus Way itu, saya baru teringat dengan ponsel saya yang masih menancap di colokan listrik. Damn! Saya lupa. Untuk balik lagi ke rumah, waduuh mana mungkin. Enggak worth it lah. Bisa-bisa bukannya dapat ilmu malah datang terlambat dan gak dapat apa-apa. Yaelah, rugi bandar!

Akhirnya dengan perasaan enggak enak banget, secara sudah terbayangkan bakalan enggak bisa foto-foto sama para pembicara hari itu, di antaranya : Hilma Hariwijya, Helvy Tiana Rosa (Penulis, Dosen), Alim Sudio (Penulis Skenario), Isa Alamsyah (Penulis), Agung Pribadi (Penulis)  (ssstt... minggu lalu belum sempat foto bareng sama mas Isa dan mas Agung padahal mereka eksis dari minggu lalu) akhirnya saya hanya bisa menyesal.

Workshop pun dimulai pukul.09.00 s/d 17.00 WIB  (Kenyataannya : Dimulai sebelum pukul 09.00 dan selesai lewat pukul 17.00,  hehe... itu namanya bonus. Asik kan. Jangan ngiri!)

Singkat cerita, menjelang lunch sesi foto dimulai, hohoho mau difoto gimana lha wong gak ada kamera pembidiknya. Jadilah saya minta difotoin oleh salah satu teman saya Rita. Selain saya minta difoto berdua bersama Hilman Hariwijaya, saya pun difoto bersama-sama dengan si pemilik ponsel. Tak lupa saya minta difoto bersama Helvy Tiana Rosa. Dan, yaa menyesalnya itu tadi hasil jepretan di ponselnya berakhir seperti cerita di atas. Beruntung, saya masih punya foto bersama mas Alim Sudio, mbak Helvy T.R., dan mas Isa Alamsyah dari Elin, teman saya yang lain. Sayangnya bersama mas Agung Pribadi saya tidak sempat berfoto. Ketiga foto itu dikirim Elin via whassap. Lumayan. Meski tidak puas. Secara foto-foto itu cuma berjumlah masing-masing satu dan hasilnya kurang oke.Tapi, saya tetap bersyukur karena masih bisa mendapatkan ketiga foto itu.

Writing Workshop yang diselenggarakan tanggal 2 dan 9 Oktober ini memang keren punya. Selain dapat ilmu dari pakar-pakarnya, saya pun dapat kejutan lain. Kejutannya adalah foto-foto unggahan mas Guntur di pesbuk.

Nah, kemarin saya mendapat foto-foto hasil unggahan ponsel-nya mas Guntur Soeharjanto (Sutradara) yang di minggu sebelumnya, tanggal 02 Oktober 2016 menjadi pembicara di writing workshop ini. Dan saya pribadi masih punya beberapa foto bersama mbak Asma Nadia, mas Guntur Soeharjanto di ponsel saya. Sayang, foto-foto itu masih tersimpan rapi di ponsel. Tapi, biar saya bisa mengingat terus acara workshop ini, foto-foto yang diunggah mas guntur akan saya bagi di sini. Meski di foto itu saya lagi ngapain gitu, enggak masalah, yang penting eksist, hehe.


Bersinggungan dengan orang pintar

Sibuk ngapain tuh gue?

Bisa-bisanya pake nengok segala!

Writing Workshop Asma Nadia 2016

Mendengarkan orang-orang pintar sedang bicara (ada anaknya mas Guntur)  ;
Asma Nadia, mas Guntur Soeharjanto & mas Isa Alamsyah :)



Note : Belajarlah dari ahlinya, maka kamu akan mendapat lebih.




Salam,
Auntie 'eMDi' Dazzling



Jumat, 07 Oktober 2016

"Life is Learning. Don't Forget Happy"



Kurang mengena! Teman saya menghampiri saya sambil mengatakan itu.

Deg!

Saya diam. Kecewa. Tapi itu kenyataan. Dan sebuah tantangan bagi saya. 

Saya baru saja menyelesaikan satu cerpen pendek berjumlah 5 halaman saja, tetapi cerita yang saya buat menurut teman saya, Anis, ceritanya kurang mengena.

Sebenarnya saya sendiri sejak awal kurang suka dengan ceritanya. Kurang asik. Bukan "gue" banget!

Iya bener! Cerita yang saya buat itu kurang 'sreg' di hati saya. Tapi saya paksakan untuk saya tuntaskan, meski akhirnya berbeda dari ide awal.

Waah gimana ya? 

Apa saya masih bisa mengirim cerpen sebanyak 6 halaman di hari ini? 

Sebenarnya cerpen ini seharusnya sudah dikirim seminggu yang lalu. Tepatnya tanggal 30 September 2016. Tapi berhubung workshop menulisnya masih ada satu kali lagi, jadi apa salahnya jika saya mengirim sekarang. Jadi cerpennya bisa dibahas di Writing Workshop Asma Nadia pada minggu tgl. 09 Oktober 2016 nanti. 

Pikir punya pikir, lebih baik saya tahan saja cerita itu. Saya mau cari ilham dulu padahal si Ilham ada di pojokan, gede banget tuh! siapa tau saya dapat ide lain.

Biasanya ide datang justru di saat sudah mepet pet!

Ngarep bisa nyelesaikan satu cerpen dulu! 


Pokoknya : Life is Learning. Don't Forget Happy!


Yippiiii.....




Salam,
Auntie 'eMDi' Dazzling



Selasa, 20 September 2016

Undangan Istimewa



My Destiny comes early


Seperti biasa, hari itu saya mengecek email saya lewat ponsel. Dan biasanya email-email yang masuk dan saya anggap penting dan belum sempat saya baca akan saya masukkan ke dalam foldernya masing-masing. Ketika mata saya jatuh pada sebuah email yang saya hafal betul berasal dari sebuah situs yang sering saya baca dan karena saat itu saya merasa belum bisa membacanya, dengan reflek jari saya segera mengklik email untuk dipindahkan ke foldernya. Ketika saya mencoba memindahkan, tiba-tiba saya merasa ada yang beda. Setelah saya teliti, ternyata benar, itu email berbeda dari email yang biasa masuk ke inbox saya. Saya sempat kaget dan tak percaya dengan yang saya baca. Apakah email ini tidak salah  alamat?

Hellooooo??? Apakah ini mimpi?
 
Dengan gugup saya mulai membaca email tersebut.

Mata saya mulai menelusuri kata demi kata surat elektronik ini. Ya, pagi itu, Rabu 14 September 2016, saya mendapat email dari seseorang yang saya kagumi, ia adalah mas Isa Alamsyah, suami dari mbak Asma Nadia (Siapa sih yang enggak kenal mereka berdua? Kalau gak tau, coba googling).

Isi emailnya tentu saja sebuah kabar gembira untuk saya. Sebuah undangan workshop menulis GRATIS dari beliau. Ya, bener gratis. Hampir saya tidak percaya membacanya, tetapi, setelah saya membaca sampai habis, baru saya percaya bahwa beliau benar menawarkan undangan istimewa itu buat saya.

Suatu kehormatan buat saya karena beliau mengundang saya di acara workshop menulisnya,  yang akan diselenggarakan pada 2 dan 9 Oktober 2016 ini di JDC Slipi Jakarta Barat.

Saya tercenung. Take it or leave it. 

Saya bingung. Satu sisi saya sangat exicited, di sisi lain saya merasa malu alias minder untuk menghadiri undangan workshop ini.

Penyebab rasa minder saya, karena saya merasa tidak mempunyai kemampuan menulis. Pendidikan yang mentok. Selain itu saya pun merasa sudah tua, rasanya enggak pantas, malu dengan yang muda-muda. Tetapi kemudian saya berpikir ulang. Ini adalah kesempatan. Dan ini adalah mimpi saya. Ambil! Raih! Perintah otak saya.

Akhirnya, saya memutuskan untuk mengambil tawaran ini dengan malu-malu. Saya yakin ini adalah kesempatan saya, dan saya tidak ingin melewatkannya begitu saja. Jika saya pernah menulis tentang seorang perempuan yang di usia senjanya justru bisa meraih mimpi-mimpinya. Mengapa tidak dengan saya? 

Saya percaya, ini adalah gerbang saya meraih mimpi-mimpi saya.Dan mimpi-mimpi itu bisa terwujud di usia saya sekarang. Amin. 


Note : Terima kasih yang sebesar-besarnya buat mas Isa atas undangannya. 




Salam,
Auntie 'eMDi' Dazzling
 

Selasa, 09 Agustus 2016

Teman Barumu Ada di Ujung Jarimu

Indahnya Kebersamaan


Ingin kumpul bareng sama teman-teman? 
Bisa makan bareng tanpa perlu bertandang?
Atau, sekendar kongkow bareng tapi nggak harus ke luar rumah?
Iya bener, itu kayak gambar di atas?

Mau kan? Mau kan?


Yes! Pastinya hampir semua orang menjawab "mau banget"! 


Tapi gimana caranya? 

Di rumah aja tak ada teman tak ada lawan. Gimana bisa kumpul bareng sama teman jika nggak ke luar rumah?

Ah, you cuma ngomong doang!

Kasih tau dooongggg....................



Eeiiittt! Tunggu dulu! Sabar bray :)

Itu mah gampang-gampang aja! 


Jaman dulu, apalagi jamannya Mr. Fred Flintstone dan Wilma Flintstone si pemeran utama film kartun "The Flintstones"  yang hidup di jaman batu, mungkin kecanggihan masa kini masih dalam sebatas mimpi. Tapi berawal dari mimpi lah sesuatu yang impossible itu bisa jadi kenyataaan. Seperti kata Martin Luther King Jr.  "I have a Dream" - yang memimpikan tulisan dan pidato dapat mengubah dunia - demikian juga mimpi untuk mendapatkan tempat tinggal yang nyaman, teman untuk tinggal bersama, berbagi biaya tempat tinggal bersama, bukan sekedar mimpi lagi. Itu sekarang bisa dimungkinkan hanya di Serumah.com. Di serumah.com biarkan jarimu yang mencari dan menemukan apa yang kamu butuhkan.

Beneran neh?

Of course! Di Serumah.com kamu bisa mencari berbagai macam tempat tinggal. Ada kost, apartemen, rumah sewa, terserah apa seleramu. Pokoknya kamu bisa pilih sendiri. Bahkan kalau kamu ingin mencari roommate juga bisa, ketimbang kamu cengo' sendirian di kamar nggak ada teman, mendingan juga kamu berbagi dengan teman lain. Setidaknya suasana nggak seperti di kuburan, tapi selayaknyalah seperti gambar di bawah ini dong. Seru kan!


Teman-teman baru yang sehati
Kongkow bareng tanpa harus ke luar rumah :-)






Teman baru yang seperasaan
Terus budget berapa?

Masalah uang? Itu juga semua tergantung sama kamu. Di Serumah.com ini kamu yang menentukan semua. Price range berapa sih yang sesuai dengan sakumu, semua bisa kamu atur sejak awal. Apalagi buat kamu para pelajar atau profesional muda yang masih membutuhkan teman berbagi, Serumah.com memang tempat yang tepat mendapatkan apa yang kamu perlu. Di kota-kota besar seperti sekarang ini, sangatlah tidak efisien kalo kamu gene hari masih harus ngaprak-ngaprak cari kost-an sendiri langsung ke lokasi, dah gak jaman deh. Tapi, kalau kamu keukeuh harus terjun langsung cari kost-an langsung ke lokasi itu seh terserah, yang jelas di jamin cape bray.  :-(

Jadi, kalau sekarang ada yang lebih mudah ngapain cari yang susah!

Intinya, kamu bisa mencari dan mendapatkan apa yang kamu butuh hanya dengan mengandalkan jari dan koneksi internet saja, tanpa harus buang-buang waktu dan cape-cape badan. Selanjutnya? Terserah kamu.

FYI, di Serumah.com ini juga bukan hanya sekedar untuk kamu-kamu yang sedang mencari tempat tinggal saja, tetapi juga Serumah.com berguna untuk pemilik properti (kost, apartemen, rumah sewa) yang dapat mengiklankan bisnis propertinya secara gratis di sini. Buat kamu-kamu pencari housemate/flatmate/kostmate/roommate bisa dilihat di sini. Siapa pun kamu, baik pemilik properti yang mencari penyewa atau kamu mahasiswa, profesional muda yang sama-sama membutuhkan yang namanya tempat tinggal, sangat diuntungkan sekali dengan kehadiran situs pencari tempat tinggal Serumah.com ini. Karena bukan hanya kamu, saya pun terbantu berkat kehadiran Serumah.com.

Sebulan lalu ada pesan masuk ke hp saya.

"Teh, bantuin aku cari kost-an di daerah Slipi, aku diterima kerja di daerah situ," bunyi pesan itu. awalnya saya bingung juga mau cari di mana, tapi beruntung berkat kehadiran Serumah.com saya cukup merekomondasikan website ini padanya, biar ia sendiri yang mencari dan menentukannya sendiri. Dan, seminggu lalu ia mengabari saya kabar gembira bahwa ia sudah menemukan tempat yang cocok dengannya, bahkan ia punya teman satu kamar yang kebetulan sama-sama datang dari kota Bandung.

"Teh nuhun, sambil menyelam minum air," pesannya.

Maksudnya? Saya binggung. 

"Iya, itu Teh dapat kost-an sekaligus bonus teman sekamar," tulisnya lagi.

Wuhuuiiii itu toh maksudnya!

Lega rasanya mengetahui sepupu saya sudah mendapatkan apa yang ia butuhkan.

Sekarang tinggal kamu-kamu semua, apa yang kamu butuhkan?

Cari saja di Serumah.com semua ada di sana.

Serumah.com
***


Note : nuhun (Bahasa sunda) : terima kasih
ngaprak istilah bahas sunda yang artinya "pergi mencari kemana-mana" atau suatu istilah artinya "berpergian".

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/halimramdani/ngaprak-kasundaan-di-tengah-zaman_552854316ea834f7588b4572
          ngaprak-ngaprak (Bahasa sunda) : pergi mencari ke mana-mana



My backlink from Serumah dot com
ngaprak istilah bahas sunda yang artinya "pergi mencari kemana-mana" atau suatu istilah artinya "berpergian"

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/halimramdani/ngaprak-kasundaan-di-tengah-zaman_552854316ea834f7588b4572



Salam,
Auntie 'eMDi' Dazzling



SAYA SUKSES - THE SECRET

The Secret - Rhonda Byrne Datangnya lebih awal. Di luar dugaan. Semesta telah bekerja begitu cepat buat saya. Ini adalah pelajaran berharga ...