Translator

Jumat, 18 Maret 2011

Piring = Talenta

Membaca article seorang teman bu yeanny tentang "satu piring" , yang menceritakan tentang seorang pengemis yang hanya memiliki harta CUMA sebuah PIRING selama hidupnya hingga ia tua dan mati dan ia tidak pernah tau bahwa piring itu BERNILAI TINGGI    -   sungguh sangat tragis.

Dalam kisah ini diceritakan bahwa Si pengemis tua ini setiap hari hanya mengandalkan piring tersebut untuk mencari sesuap nasi  dan pada petang hari ia akan membersihkan piring tersebut dengan harapan jika piring tersebut bersih pasti nanti ada rejeki untuknya hari itu.
Kehidupannya-pun berlalu begitu saja tanpa ada peningkatan hingga ia mati dan kematianya tersebut mendorong seorang ilmuwan/sejarawan untuk meniliti piring peninggalan sang pengemis, dan tak disangka ternyata piring tersebut peningalan Kaisar China yang bernilai tinggi.
Sungguh tragis-kan bahwa selama hidupnya ia tidak pernah tau bahwa ia memiliki harta yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan hidup-nya tanpa harus ia berkesusahan sepanjang hidupnya.

Disini saya memiliki sedikit sisi pandang yang berbeda dalam mengambil kesimpulan cerita tersebut.  

Piring disini bisa kita anggap TALENTA, ya setiap orang pasti memiliki talenta  - disadari atau tidak .
Talenta bisa tergali atau terkubur tergantung bagaimana kita mau membawa kemana talenta yang kita miliki.
Berkaca dari si Pengemis , kita bisa melihat betapa ia tidak mengenali barang berharga yang ia miliki - ia hanya menggunakan satu fungsi dari piring tersebut,  ya itu tadi  "untuk mengemis"  -  maka ia sama sekali tidak berusaha mencari fungsi2 lainnya, ia tidak berusaha mencari tau seberapa berharganya NILAI JUAL   piring tersebut  - So terrible -

Sama seperti kita, terkadang kita tidak menyadari talenta dalam diri kita sendiri, kita terpaku pada satu fungsi dari talenta yang kita miliki dan parahnya kadang kita mempercayai bahwa "Kemampuan/Talenta"  kita hanya sampai disitu - stuck - tanpa berusaha menggalinya lebih dalam  -  itu sama saja dengan pengemis tadi  -   is that right ?
Jika kita ingin mengetahui seberapa besar talenta kita cobalah kita memulai dengan Mengenali-nya kemudian Menggalinya dan Meningkatkannya setelah semua itu, kita akan tau bahwa kita memiliki PIRING/TALENTA yang BERNILAI TINGGI  -  sama seperti si pengemis .. sayang ia tidak tau  -  dan jangan pernah membiarkan talenta yang ada pada kita itu terkubur bersama dengan berlalunya hidup kita  -  Oh No ... ! 

Perlu diingat, jika kita memilki sesuatu pada diri kita, cobalah kenali,gali,dan tingkatkan jangan sampai setelah kita   -  passed a way - orang lain-lah yang mengetahui sebenarnya kita punya talenta yang luar biasa yang kita tidak pernah tau, dan itu tentunya sudah tidak berguna lagi buat diri pribadi  - hahaha sure  itu berguna buat orang lain yang menemukannya ....  tapi at least berguna buat diri kita sendiri juga tentunya ... ya jangan sama seperti si pengemis tadi  -  That's so terrible.

  
Catatanku :
"Kenali talentamu,kemudian gali,dan tingkatkan" 
Mulailah mengenali talenta diri, jangan biarkan hidup menderita karena tidak mengetahui talenta yang dimiliki.


Salam
eMDi



Senin, 14 Maret 2011

Ketertekanan menimbulkan Keberanian

Keinginan untuk mati itu ternyata sempat juga menghampiriku ... duuuhh Gusti maafkan hambamu ini.
Ketika sebuah persoalan begitu "MENGUASAI" diri kita dan kita tidak bisa "MENGENDALIKAN-nya" sungguh sebuah keberanian memilih mati itu bisa lebih "BERKUASA" dibandingkan menghadapi persoalannya yang belum tentu akan seberat yang dibayangkan.

Sebenarnya kata "BETTER I'M KILLING MY SELF" itu sebenarnya hanya lucu-lucuan saja kalau sedang ber-pesbuk- ria dengan teman-teman pesbuk di English forum, tapi ketika sebuah persoalan yang sebenarnya juga bukan kesalahan pribadi (bukan bermaksud meng-EXCUSE-diri) tapi kerja tim work tetap saja rasa bersalah yang terbesar ada padaku ... ya mungkin responsibility-nya ada padaku.

Aku bahagia karena mempunyai teman "REAL" yang senantiasa meng-supportku (thanks ya buat Anyi,Puput) dan beberapa teman pesbuk-ku yang kadang kujadikan "Tempat Sampah" untuk menampung segala keluh kesahku (thanks buat Nohara Sinosuke, John Kinami) buat support-support kalian yang sungguh menguatkan-ku.

Keberanian untuk mati itu tiba-tiba saja muncul dibenakku ketika aku merasa persoalannya begitu berat dan tidak ada jalan keluarnya, aku cuma bisa melihat celah kecil yang tidak bisa kulewati sama sekali .... dimanakah PINTU itu atau bahkan hanya JENDELA-pun jadi asal aku bisa KELUAR dari RUANG GELAP ini ... ataukah ini sebuah LABIRIN ?  Oh no .... aku tidak bisa menemukan jalan keluar dari labirin ini ... , My Lord help me ... !!!

Sebuah KEBERANIAN timbul karena masalah yang sangat MENEKAN ........................................... !!!!
Ternyata untuk mati itu mudah (ini kesimpulanku) setelah kutelaah semua yang terjadi, yang menjadi sulit justru orang-orang yang ditinggalkan tentunya dengan berbagai macam pertanyaan yang ada di benak mereka mengapa itu orang memilih mati padahal masih banyak cara untuk jalan keluarnya.

Rasanya punya pengalaman ini bagus juga setidaknya kita ambil segi positipnya saja .... !

Kesimpulannya adalah :
" Jika kita dalam kondisi TERTEKAN kadang kita malah BERANI mengambil suatu RESIKO "
Resiko baik atau buruk tergantung kita mau mengambil langkah apa dan resikonya bagaimana.

Semoga tulisan ini mengingatkan saya terutama dan kita semua untuk bisa melihat segi positip dari segala masalah.

Salam
MyeMDi