Translator

Rabu, 01 Maret 2017

I Proud of My Daughter




video

                                                       A Letter From Mom and Dad :)


A Letter from Mom and Dad

...My child,

When i get old, i hope you understand and have patience with me.
In case i break a plate, or spill soup on the table because i'm loosing my eyesight, i hope you don't yell at me.
Older people are sensitive.
...Always having selfpity when you yell.
When my hearing gets worse and i can't hear what you're saying, i hope you don't call me "Deaf!"
Please repeat what you said or write it down.
I'm sorry, my child.
...I'm getting older .
When my knees get weaker, i hope you have the patience to help me get up.
Like how i used to help you while you were little, learning how to walk.
Please bear with me.
When i keep repeating my self like a broken record, i hope you just keep listening to me.
Please don't make fun of me, or get sick of listening to me.
Do you remember when you were little and you wanted a ballon?
You repeated youself over and over until you got what you wanted.
...Please also pardon my smell.
I smell like an old person.
Please don't force me to shower.
My body is weak.
Old people get sick easily when they're cold.
I hope i don't gross you out.
Do you remember when you were little?
I used to chase you around because you didn't want to shower.
I hope you can be patient with me when i'm always cranky.
It's all part of getting old.
You'll understand when you're older.
And if you have spaare time, i hope we can talk even for a few minutes.
I'm always all by my self all the time.
And have no one to talk to.
I know you're busy with work.
Even if you're not interested in my stories, please have time for me.
Do you remember when you were little?
I used to listen to your stories about your teddy bear.
When the time comes and i get ill and bedridden, i hope you have the patience to take care of me.
I'm sorry if i accidentally wet the bed or make a mess.
I hope you have the patience to take care of me during the last few moments of my life.
I'm not going to last much longer, anyway.
When the time of my death comes, i hope you hold my hand and give me the strength to face the death.
And don't worry...
When i finally meet our Creator...
I will whisper in his ear to BLESS you.
Because you loved your Mom and Dad.
Thank you so much for care.

We love you.
with much love,

Mom and Dad



Gara-gara puisi di atas, putri saya menangis sesegukan. Saya memeluk dan menciumnya. Ada rasa haru dan bangga akan kepekaan yang dimilikinya, di usianya yang baru akan menginjak 8 tahun pada tanggal 28 maret 2017 ini. Ini bukan tangisan biasa! Tangisan ini seolah curahan hatinya pada saya. Curahan cintanya yang besar pada Mom dan Daddy-nya. Puisi berbahasa Inggris ini saya bacakan terjemahannya padanya, diluar dugaan ia langsung menangis terharu. Tangisannya mengisyaratkan kepekaannya terhadap sesuatu yang menyentuh hati. Saya terharu campur bangga.

Thank you so much "The apple of my eye!". Tangisanmu adalah gambaran hatimu yang penuh cinta terhadap kedua orang tuamu.


Love you,
Mommy and Daddy.



Note : Puisi ini dari pertama saya membaca sampai hari ini masih sama ; "Very touching", meski berkali-kali membacanya.




Jakarta, 01 Maret 2017




Salam, 
Auntie 'eMDi' Dazzling




Selasa, 07 Februari 2017

Doodle For Me ?



Yes! Hari ini saya cukup dibuat surprise oleh Google, gara-garanya waktu mau ngeklik Google Doodle ada tulisan ucapan selamat Ultah buat saya. Hahaha... rupanya hari ini tidak ada Doodle khusus yang dibuat Google, jadi Doodle hari ini rasanya spesial buat saya deh kayaknya haha kepedean   tapi sih kemungkinan Doodle kali ini dibuat khusus bagi mereka yang berulang tahun tepat di tanggal 07 pebruari ini. 

Horeeeee... terima kasih Google! Karena saya termasuk salah satu dari mereka itu. Thanks a lot, ya.

Dan, Google Doodle kali ini adalah, taraaaa...


Selamat Ultah Yuliana!

Kamis, 12 Januari 2017

Small Move, Big Change


Resolusi 2017

Resolusi Absurb

Memasuki tahun 2017 ini, seperti biasa setiap orang mempunyai resolusi baru. Entah itu resolusi yang benar-benar baru atau hanya pengulangan saja, karena resolusi tahun sebelumnya gatot alias gagal total. Demikian juga dengan saya, setiap memasuki tahun yang baru rasanya tidak afdol jika tidak punya resolusi untuk tahun yang baru tersebut. Sayang, resolusi tinggal resolusi, karena selebihnya hampir 90% resolusi saya gagal maning-gagal maning justru di hitungan hari saja. Entah mungkin resolusi itu terlalu absurb untuk dilaksanakan atau sebab lainnya.

Akhir tahun 2016 kemarin di bulan Desember, saya mengikuti webinar bedah buku "Small Move, Big Change" yang dipandu oleh mas Agus Setiawan dari Aquarius Learning. Saya merasa beruntung sekali karena pembahasan ini terkait dengan resolusi yang selalu gagal. Mengapa resolusi itu selalu gagal? Itu disebabkan resolusi itu dianggap sebagai suatu ancaman oleh otak reptil kita (kalau tidak salah ya), sehingga otak reptil membentuk semacam pertahanan diri. Ini yang mengakibatkan mengapa resolusi kita cepat atau selalu gagal bahkan hanya hitungan hari atau bulan saja. Ya karena itu tadi, resolusi kita dianggap suatu ancaman yang membahayakan diri kita, sehingga otak reptil membentuk suatu pertahanan menolak resolusi yang dianggap sebagai ancaman tersebut.

Micro Resolusi

Sebagai contoh, ada seorang ibu yang menderita suatu penyakit dan oleh dokter disarankan untuk olahraga lari selama setengah jam setiap hari. Dezziigg! Si ibu rasanya seperti ditonjok saja mendengar saran dokter tersebut. Si ibu yang hobinya nonton sinetron tv tersebut belum apa-apa sudah merasa terancam dengan saran dokter tersebut. Gila lari setengah jam setiap hari itu enggak gampang bray! Sebagai seorang yang tidak pernah olahraga saran dari dokter ini dianggap sangat memberatkannya, dan otak reptilnya segera meresponnya sebagai ancaman. Andai si ibu mengikuti langsung saran sang dokter, bisa dipastikan program olahraganya pasti hanya akan bertahan hanya beberapa hari atau pekan saja, selebihnya bisa ditebak program itu akan berakhir berantakan. 

Dalam bedah buku "Small Move, Big Change" ini kita diajarkan bagaimana mencapai sebuah resolusi. Rahasianya, sssttt... kita hanya perlu membuat resolusi itu menjadi micro resolution. Seperti contoh saran lari setengah jam buat si ibu di atas, ia membuat micro resolusinya yaitu berlari ditempat selama satu menit saja. Satu menit?  Iya, cukup satu menit. Sambil menonton tv ia lari di tempat selama satu menit. Lari yang cuma satu menit ini ia lakukan tanpa beban. Jelas tanpa beban, karena satu menit dianggap si otak reptil bukan ancaman, menjadikan aktifitas berlari ini dijalani dengan mudah tanpa beban. Ia tetap bisa menonton tv dan lari satu menit sekaligus. Karena lari satu menit ini akhirnya menjadi sebuah kebiasaan, dan suatu kebiasaan dengan sendirinya berjalan sendiri tanpa diperintah oleh otak. Karena satu menit sudah berhasil, ia menambah jam terbang larinya sedikit demi sedikit, hingga tanpa disadari ia bisa melakukan lari ditempatnya bukan hanya setengah jam bahkan hingga satu jam. Sesuatu yang dulu mustahil itu, sekarang bisa dilakukannya dengan mudah karena micro resolusinya.




Ada contoh lain dari : Small Move, Big Change ini. Seorang ibu suatu hari diberi bunga anggrek. Ketika ia menerima bunga itu ia merasa sangat senang. Ia meletakkan bunga tersebut di atas sebuah meja, dipandanginya bunga tersebut. Lalu ia melihat bunga tersebut, "Bunganya sudah cantik, tapi taplaknya kok jelek." Segera ia mengganti taplak mejanya. Dipandanginya lagi bunga dan meja tersebut. "Oh, bunga dan taplaknya sudah bagus, temboknya kok kusam ya," pikirnya lagi. Lalu dicatnya dinding rumahnya, hingga sekarang rumahnya menjadi lebih bersih dan terang. Ia memandangi bunga, taplak, dinding rumahnya, semuanya sudah perfect. Sekarang ia memandang ke cermin, ia melihat wajah kusut seorang perempuan tua dengan pakaian lusuh. Segera ia tersadar, lalu ia pergi mengunjungi salon. Dipotongnya rambutnya, difacial wajahnya, lalu ia membeli beberapa pakaian baru. Sekarang ia menatap dirinya dicermin. Seorang perempuan tua dengan wajah ceria dan penuh semangat dengan pakaian yang menambah kecantikan wajah tuanya. Ia tersenyum bahagia. Sekarang ia merasa hidupnya lebih bersemangat. Bunga yang cantik dengan taplak dan dinding rumah yang bersih dan cerah, dengan seorang perempuan tua yang dipenuhi wajah ceria dan bersemangat, membuat rumah tua yang tadinya kusam seperti tidak ada kehidupan itu, sekarang berubah penuh dengan semangat dan kecerian hidup. Hanya dengan melakukan perubahan-perubahan kecil, semua menjadi berubah.


Ya, itulah small move, big change. Lakukan perubahan kecil, maka perubahan besar  terjadi.

Terima kasih buat mas Agus Setiawan yang sudah memberikan pencerahan dengan webinar bedah buku "Small Mpove, Big Change" akhir tahunnya. Semoga ini bisa bermanfaat bagi setiap orang. Amin


Note : Belum terlambat juga kalau saya sekarang mau membuat resolusi tahun 2017, tepatnya micro resolusi. Menulis selama setengah jam, waktunya setengah jam sebelum jam istirahat kantor (pukul. 11.30 wib). 






Jakarta, 12 Januari 2017



Salam, 
Auntie 'eMDi' Dazzling




Rabu, 28 Desember 2016

TODAY ENGLISH

 

Slang

 

 
Couch potato



couch potato one who sits in front of the television for long periods of time, with little or no physical activity.



Note : Are you a couch potato?


Jakarta, 28 Desember 2016



Salam,
Auntie 'eMDi' Dazzling


 








Jumat, 23 Desember 2016

Holiday is Coming



Google Doodle "Musim Liburan!"




Musim liburan sudah tiba. Sebentar lagi hari Natal 2016 dan Tahun Baru 2017 tiba.  Om Telolet Om!



Buat saudaraku seiman : 


"Selamat Hari Natal 2016 "
 
&
Buat semua sahabatku : 



"Happy New Year 2017" 




Itu kata yang dapat mempersatukan kita semua.



"Met Tahun Baru 2017 Ye" 


 
Note : Biasanya kalau liburan malah lupa nulis, jadi apa salahnya ucapkan Natal & Tahun Baru dari sekarang, hehe




Jakarta, 23 Desember 2016


Salam,
Auntie 'eMDi' Dazzling





Kamis, 22 Desember 2016

Om Telolet Om! Selamat Hari Ibu 2016


"I Love You, Mam!" Meski kata ini tidak pernah kau dengar dari mulut anakmu ini.

Selamat Hari Ibu, buat ibu-ibu di mana pun berada.

Ibu saya sudah tiada, tetapi kenangan akannya tidak pernah pudar. Ibu saya adalah ibu yang hebat. Dengan pendidikan yang tidak pernah ia punya, ia bisa membesarkan kesebelas anaknya. Satu yang kurang dalam keluarga saya adalah, tidak pernah kami diajarkan untuk mengatakan sayang atau cinta padanya, atau pada ayah kami. Bukan ia tidak mau mengajari kami, anak-anaknya, menyatakan atau mengatakannya sayang, tetapi mungkin kebiasaan mengucapkannya itu yang tidak pernah ada. Bukan tidak sayang pula anak-anaknya padanya hingga kami tidak pernah mengatakan sayang. Rasa malu menyatakan perasaan, menjadikan kami anak-anaknya tidak pernah mengucapkan sayang pada kedua orang tua kami, khususnya ibu. Mengatakan sayang saja menjadi sesuatu yang memalukan untuk diutarakan, itu adalah pelajaran terburuk yang tidak pernah ingin saya ulangi dalam hidup saya. Sekarang kedua orang tua saya sudah tidak ada, kadang saya merasa sedih tidak pernah mengatakan sayang saya pada mereka. Jadi, di hari yang spesial ini ingin saya ungkapkan rasa cinta saya yang dalam padanya, lewat tulisan saya ini,

"Mam, aku sayang kamu. Maafkan aku, kalau dulu selalu menjadi monster kecil pembangkit kemarahanmu."

Mungkin, ibu tidak pernah mendengar perkataan sayang saya padanya, tapi saya percaya ia tahu anak-anaknya mengasihi dan menyayanginya. 

"We Love You Mam"  

Jika dulu kebiasaan menyatakan rasa sayang itu tidak ada, sekarang saya coba terapkan kebiasaan sebaliknya dalam keluarga kecil saya. Dengan tidak sungkan saya selalu mengatakan sayang, cinta, rindu,  pada anak dan suami saya. Terlebih anak saya, ia sejak kecil sudah terbiasa dengan magic words-nya pada kami. "I love you, mom", "I Miss you", "I'm Sorry", "Maaf ya, Mom", "Thank you", "Excuse me", "Please", "Terima Kasih", dan banyak kata magic lainnya pada kami, dan kebiasaan itu sudah menjadi bagian dalam hidupnya. Thanks my angel :)


Nah, sekarang saya merasa menjadi ibu yang beruntung karena selalu mendapatkan magic words dari anak saya. Dalam sehari saya bisa mendapatkan bertubi-tubi kata-kata magic itu darinya. Kebiasaan dulu yang kurang baik itu, sungguh sekarang menjadi pelajaran berharga bagi saya untuk mengubahnya menjadi kebiasaan baik. Karena kata-kata positif dari magic words itu memancar dan menularkan energi positif pula bagi sekelilingnya. Semoga mulai hari ini, semua ibu-ibu di dunia selalu mendapatkan magic words dari anak-anak dan sekelilingnya. Amin.

For my mom and dad, yang berada di surga, we love you both :) 



Jakarta, 22 Desember 2016



For my mom : "Mom, Thank you for all that you have given me. I am sure I am unable to reward you affection all my life."  Happy mother’s day, mom.
Ibu, terima kasih atas segala yang sudah engkau berikan kepadaku. Aku yakin tak akan mampu untuk membalas kasih sayangmu selama sisa hidupku. ~ Selamat hari ibu, ya ibu ~




Salam,
Auntie 'eMDi' Dazzling







Senin, 19 Desember 2016

Penjara Hati



Inbox yang bikin otak encer #mikir

Kata-kata di atas ada di inbox saya, dikirim oleh seseorang yang saya kenal via pesbuk. Sebenarnya meski saya hanya mengenalnya via pesbuk tapi kedekatannya dengan saya bisa dibilang cukup akrab. Saya sendiri menganggap dia seperti adik, dan ia menganggap saya kakak. Dan keakraban ini banyak dibumbui dengan percakapannya yang kadang-kadang membuat saya tercengang. Ya, seperti inbox di atas, saya terkesima dengan isi pesannya. Lalu, saya bilang padanya, "Jangan bercanda deh! Kalo di penjara, masa bisa pegang hp sih?" tulis saya. Dan, apa jawaban dia? Duuh, bikin wajah memerah saja. Coba saja baca, apa katanya ;


Jawaban yang selalu di luar dugaan #kecele


Maksudnya adalah : Penjara tak selamanya berbentuk fisik. Semua yang ada dan hidup itu sama, mereka dipenjara. Haha, jawaban yang membuat saya malu. Betapa dangkalnya cara saya berpikir. Mendengar kata penjara saja, yang ada di otak saya hanya jeruji penjara secara fisik. Padahal, seperti katanya, tak selamanya penjara itu berbentuk fisik.

Dari pesan cerdas itu, saya jadi mikir, apakah selama ini saya bebas tidak terpenjara oleh apa pun jua?
Fuuiiih, jawabannya ternyata : NO!

Contoh kecil saja, baru-baru ini teman-teman SMA saya mengadakan reunian, hati kecil saya sebenarnya ingin sekali ambil bagian dalam reunian bersama mereka. Tapi apa hendak dikata, saya tak jadi ikut dengan alasan saya malu sama teman-teman saya yang rata-rata sudah sukses itu. Ya, itu satu bukti bahwa saya masih terpenjara rasa minder. Itu baru satu contoh, terus kalau mau dicari contoh-contoh lainnya, pastilah masih banyak. Jadi, saya sangat setuju dengan kata-katanya, bahwa "Semua yang ada dan hidup itu sama, mereka dipenjara."


Mungkin kata yang ia tuliskan itu sederhana, tetapi artinya tidak sesederhana itu. Lihat saja, pesannya itu membuat saya bisa mencerna makna kata dari penjara yang ia lontarkan pada saya. Mungkin saya harus lebih banyak belajar lagi darinya. Dari anak muda, yang kadang cara berpikirnya membuat saya berdecak kagum. 



Lihat tulisan di atas! Betapa ia dengan gamblangnya mentertawakan ketidakmengertiannya yang justru sebenarnya sangat ia pahami. Karena ia paham betul, kapan ia bisa ke luar dari penjara. Menurutnya, itu tak sulit, hanya masalah waktu saja.

Saya setuju, apa pun yang membuat kita terpenjara, itu mungkin akibat cara berpikir sendiri. Bahkan untuk ke luar dari penjara itu mudah saja, kitalah yang menentukan kapan kita mau ke luar dari sesuatu yang memenjarakan kita. Tak ada penjara fisik, yang ada hanya penjara psikologis. Jadi, tinggal waktu, kita dan Tuhan saja yang tahu, kapan kita mau ke luar atau terbebas dari itu semua.

Itulah sepenggal pesan penuh makna darinya. Entah mengapa saya selalu tergelitik untuk menuangkan pesan pribadinya itu di sini. Mungkin sebagai bahan renungan atau pengingat diri saya pribadi.



Jakarta, 19 Desember 2016


Note : Buat kamu, yang kata-katanya selalu mencerahkan, thanks!


Salam,
Auntie 'eMDi' Dazzling