Translator

Selasa, 18 Juni 2013

[BeraniCerita #16] Ketika Hari Berganti



 “Jika kau membaca ini, aku tak tau, apakah kau telah berubah?”, tulis si Ibu penuh harap.

Ku pandangi wajah tua tak berdaya itu, tersirat kesedihan yang dalam. Kecantikan masa mudanya masih terpancar jelas, dan pantasnya, ia berasal dari keturunan keluarga kaya, tetapi yang aku tau, ia hanya tinggal di rumah ukuran 21/60 m2 ini, sedangkan rumahnya bersama mantan suaminya yang kaya raya itu, ia tinggalkan sejak sang Suami mengawini perempuan lain.

Kamis, 13 Juni 2013

Lelaki Separuh Baya



Cerpen - Fiksi


Lelaki  separuh baya itu, kembali mendatangiku di pagi buta nan dingin.

Seperti pagi-pagi sebelumnya, ia sudah terbangun paling pagi, disaat seluruh keluarga – istri dan anak-anaknya – masih tertidur pulas. Aku tau, ia akan segera mendatangi kamarku yang letaknya ada di belakang rumah mereka, terpisah dari rumah utama. Dari langkah kakinya yang terdengar berjalan di seret itu, terdengar ia menghampiriku, membuka pintu kamarku pelan-pelan, memandangku penuh sayang, dan segera matanya akan menangkap tubuhku yang masih meringkuk kedinginan, kemudian ia memeluk tubuhku erat, mencium dan mengendus sekejap kepalaku, dan segera saja kehangatanpun merasuki tubuhku meski kantuk masih mengelayut. “Wes isuk saiki, yo tangi ”, ujarnya terdengar parau membangunkanku dengan “caranya” itu di setiap pagi buta.

Jumat, 31 Mei 2013

Setoran Akhir Bulan


Tak terasa, tanggal sudah menginjakan kakinya di hari terakhir bulan Mei, tanggal Tiga puluh Satu - tanggal tua - tetapi duit pastinya lagi nomplok, karena biasanya orang sudah menerima gaji di tanggal-tanggal seperti ini. Dan di detik-detik terakhir bulan Mei ini pun, saya tak mau melewatkannya tanpa di temani satu postinganpun, meski setoran postinganpun belum ada (*so, yang mau di posting apa ya? lieur dewek) tetapi niat saya sudah jelas ingin memposting sesuatu, sesuatunya itu apa?  waah, terserah si jari saja, mau kemana ia membawa.

Rabu, 22 Mei 2013

Oh, Indahnya Jatuh Cinta



Ternyata,  pada orang yang sedang jatuh cinta, selalu ada “hal”, yang dapat diperbincangkan.

Kesan ini saya tangkap, pada dua orang teman kerja saya, ketika tanpa sengaja, saya melihat ada  cinta di mata mereka. Di setiap perjumpaan mereka, dimanapun itu, selalu ada komunikasi yang terjalin. Apa yang diperbincangkan? Entahlah, hanya mereka berdua yang tau. Lalu, mengapa? Ada yang salah?? Tidak, tidak ada yang salah sama sekali, karena jatuh cinta itu, bisa terjadi pada siapa saja, dan pada kalangan mana saja, bebas, lepas, bagai tanpa batas. Dan tiada yang pernah tau, kapan cinta itu datang menyapa,  atau bahkan pergi tanpa pesan. Karena cinta itu sejatinya adalah universal - Milik semesta alam. 

Selasa, 14 Mei 2013

Arti Filosofi Nama Marchia Diandra



Tulisan ini ditulis pada tanggal 28 Maret 2013. Ditulis untuk mengenang kembali detik-detik kelahiran buah hati kami tercinta “Marchia Diandra Gusti”  - We Love You My dear :)

 

Hari ini, Kembali ke empat tahun silam, tepatnya Hari Sabtu tanggal Dua puluh Delapan bulan Maret tahun Dua ribu Sembilan jam 11.45 siang, saat itu adalah kemenangan perjuangan saya, dimana saya akhirnya berhasil menjadi seorang perempuan yang sempurna.  Seorang perempuan, yang akhirnya bisa melahirkan seorang anak.  Rasa bahagia, bangga campur haru, berbaur menjadi satu. Sang Pelita keluarga kami, baru saja terlahir. Seorang perempuan lucu nan cantik, dengan berat hanya 2,3 kg dan panjang 47 cm, sangatlah mungil terlihat. Saya memandangi bayi mungil ini, yang dokter letakan di atas perut saya, ketika ia baru saja terlahir, “Kecil banget, kayak cecak”, guman hati saya takjub.

Selasa, 26 Maret 2013

Terlempar Ke Dunia Luar



Ternyata hidup tanpa internet itu, ibarat hidup di pulau terpencil yang tak berpenghuni, dan hanya di temani sebiji buah kelapa, sebagai teman berbagi curhat. Komunikasi yang terjalinpun, cuma komunikasi satu arah, tak ada timbal balik alias tiada respon dari lawan bicara. Tragis!. Pasti. 

Seperti film “Cast Away”-nya Tom Hanks, dimana ia  terlempar keluar dari kehidupan normalnya. Hidup sebatang kara. Disuatu tempat – pulau terpencil tak berpenghuni, di negeri antah barantah, tanpa kawan terlebih lawan. Jauh dari jangkauan dunia luar. Sendiri. Sepi. Laksana kembali ke “Titik Nol “. Eeemmm ….., kayak judul bukunya Agustinus Wibowo aja ah! Merana. Hanya jiwa, dan sebuah biji kelapa yang menemaninya.  Sad.

Kamis, 14 Maret 2013

“ Selamat Pagi Bu “



Mengapa ada orang, yang memulai pagi hari, dengan wajah cemberut, asam, tak berseri ….. ?

Wajah tegang nan asam itu, saya dapatkan pada atasan saya di setiap perjumpaan di pagi hari. Saya tidak tau, apa yang menyebabkan ia begitu terlihat tegang di pagi hari. Apakah karena tugas-tugas kerjanya yang sebegitu berat, yang telah menantinya kah ? Hingga beban itu terasa melelahkannya, atau justru, mungkin Karena urusan keluarganya yang begitu ruwetnya, sehingga membuat hari-hari paginya begitu tidak berseri, penuh dengan kemurungan ?