Translator

Senin, 29 Oktober 2018

Roadtrip - Berlibur ke Australia Barat



Mau wisata bersama keluarga ke luar negri?
Widiihh, mau banget!


Liburan bersama keluarga ke luar negri adalah salah satu impian saya, dan saya baru saja membaca sebuah tulisan di Kompas.com tentang roadtrip berlibur ke Australia Barat. Wow, baru membayangkannya saja saya sudah sangat exicited. Waktu saya membaca tulisan tentang berlibur di Australia Barat dengan roadtrip ini yang hal pertama yang muncul  di otak saya adalah berapa budget rupiah yang harus dikeluarkan andai saya dan keluarga berlibur ke negara Kanguru tersebut. Heemm pastinya cukup gede deh dana yang harus saya cadangkan, jika saya benar-benar ingin mewujudkan mimpi berlibur tersebut #puter otak deh 😏

Nampaknya, keinginan untuk berlibur ke Australia ini harus saya redam dulu, mengingat belum ada cadangan dana untuk itu. Tetapi ingat, REDAM bukan DIMATIKAN. Karena, kelak mimpi ini akan terwujud seiring kuatnya citra ini. Biar gambar mimpi saya itu tetap hidup, maka saya akan menghidupkan gambar mimpi itu di sini.

Trek mobil yang memudahkan pengunjung berkeliling di The Pinnacles, Taman Nasional Nambung, Australia Barat ((Kompas.com)

Suasana Kings Park di Fraser Avenue, Perth, Australia Barat.(Kompas.com/Nabilla Tashandra)

Sebenarnya tahun depan, tahun 2018, saya dan keluarga sudah ada ticket on hand  untuk berlibur ke beberapa negara Asia sekaligus. Ya, alasannya biar sekalian jalan, dua tiga negara tersinggahi. 😀 Tapi, yang namanya liburan ke negara empat musim itu adalah impian banget, makanya ketika saya baca liburan tak biasa ini langsung membuat angan saya ikut terbang. Haduh biyung, keinginan saya kok gede bingit sih! Ketertarikan untuk travelling ke berbagai negara berkulit putih itu sudah terpatri di hati sejak dulu, masa saya kecil. Dahulu, saya pernah melihat buku tentang negara-negara di dunia berikut peta dan hasil bumi dan alamnya. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah ketika saya membaca tentang negara terkecil di dunia Liechtenstein (Versi dulu, kalau versi Zaman now, saya enggak tahu apakah masih menjadi negara terkecil di dunia kah?). Seingat saya negara kecil ini berbatasan dengan negara Swiss, Austria dan Jerman. Batas lainnya saya lupa. 😜

Gambaran tentang Swiss dan si Negri imut itu dengan pemandangan alam yang indah, dan rumah-rumah desa yang menawan dengan background pegunungan yang mempesona tidak pernah hilang dari ingatan saya. Sejak saat itu, saya mempunyai cita-cita bisa berkunjung ke Swiss dan tentunya ke Liechtenstein ini. Angan saya terlalu tinggi, hingga mimpi untuk berkunjung ke dua negara tersebut tidak pernah pudar. Oya, sebenarnya masih ada satu lagi negara yang juga saya ingin kunjungi adalah England. Dan, mimpi untuk suatu hari menginjakan kaki ke negara-negara Eropa tersebut masih hidup hingga detik ini.
 
Jermannya mana ya?
   
Gambar yang pernah saya lihat, lebih indah dari ini lho!  (#credit Google)

Lucu ya bentuk rumahnya (#credit Google)
Pegunungan yang indah (#credit Google)


Sedikit out of topic. Saya mempunyai teman, sebutlah si Geulis. Dia sebenarnya kurang bisa berbahasa Inggris, tetapi dia orangnya berani dan sangat suka dengan bule. Hingga suatu hari dia bertemu dengan turis bule, laki-laki tentunya. Dari pertemuannya tersebut, dia diajak si bule ikut travelling keliling Indonesia. Dan, sssttt... menurut pengakuan dia sama saya, dia making love sama si bule. Shit! Off the record ah. Tapi bukan itu inti bahasannya! Ini yang dimaksud, beberapa tahun kemudian, si Geulis dapet kesempatan stay di Swiss mengikuti jejak pacarnya yang orang Indonesia dan mendapat bea siswa sekolah ke Swiss. Berhubung Swiss itu jaraknya cukup jauh dari Grogol, halah, maksudnya Indonesia, maka orang tua si Geulis menikahkan mereka dulu. Sampai di Swiss, dasar si Geulis ini orangnya kegatelan, ia malah melanjutkan hubungannya dengan si Bule yang pernah bertemu dengannya di Indonesia itu. Si Geulis dengan tidak segan mengirim surat buat cowok bulenya. FYI, bule ini masih abg lho usianya di bawah 20 tahunan, sedang si Geulis waktu itu sudah lulus kuliah usiannya sekitar 23 tahun. Dasar si Geulis ini tipe cewek perayu cap nenek sihir naekin sapu lidi, untuk dapetin hati si bule ini termasuk easy gels. Si Bule yang masih unyu-unyu ini bener-bener jatuh cinta. Hingga suatu hari mereka berjanji bertemu di perbatasan negara Swiss dan Austria. Oia, kebetulan bule ini orang Austria sodara-sodara sebangsa dan setanah air. Maka tanpa merasa berdosa si Geulis berjanji untuk menemui bule unyu ini di pos perbatasan kedua negara. Ternyata si Bule ini sudah bercerita tentang si Geulis kepada kedua orang tuannya, dan saat ini mereka sedang menunggu kedatangan si Geulis yang sudah janjian untuk bertemu itu. Mungkin si Bule gak pernah tahu bahwa Geulis sekarang sudah menikah, sehingga dia yakin banget kalau cinta mereka bak gayung bersambut. Iya sih, sebenarnya cinta itu bersambut, tapi apa boleh seorang perempuan sudah menikah punya hubungan spesial dengan lawan jenisnya? gak usah dijawab, pikir saja sendiri. Cuma yang jadi pikiran saya saat itu cuma satu, kasihan sekali si unyu bule ini kena tipu Geulis.

Alkisah, akhirnya Geulis dan Bule bener-bener bertemu di perbatasan, di sini Bule mengajak Geulis ke rumahnya saat itu juga, ia bahkan bilang pada Geulis bahwa ia ingin menikahi Geulis dan keinginannya itu sudah ia bicarakan dengan kedua orang tuanya, jelalahnya kedua orang tua Bule mengijinkan kemauan anaknya itu. Sampai di sini Geulis mulai merasa resah, apa ia harus ikut Bule atau kembali ke sang suami?

Dari lubuk hatinya yang paling kecil Geulis ingin mengikuti Bule, tapi ia juga bingung bagaimana nanti dengan Sang suami yang sekarang ini masih menuntut ilmu di negri bersalju ini?! Apa yang ia akan ceritakan pada keluarga besarnya di Indonesia? Bagaimana reaksi kedua keluarga besar ia dan suami??

Geulis and Bule  (Credit : Google)

Geulis memutuskan untuk tidak ikut, hatinya ciut untuk mengambil langkah besar mengikuti Bule. Bule imut, ganteng itu menangis tersedu-sedu, mungkin ia benar-benar sudah falling in love sama Geulis sampai ia memohon-mohon pada Geulis untuk ikut dengannya. Sayang banget, si Bule eggak pernah tau kalo Geulis sekarang sudah menikah, mungkin kalo ia tau belum tentu juga ia memohon sebegitunya pada Geulis meski ia cinta mati, tapi enggak tau deng siapa tau si bule juga ngedadak gila gak peduli dengan segalanya, hayo!.

Kalau boleh bercerita, sebenarnya Geulis tidak mencintai suaminya ini, tetapi karena ia akan tinggal dan bersekolah di Swiss maka ia mau saja menikah dengannya, tujuannya jelas ia ingin ke luar negri alias ke Swiss, ia ingin tau bagaimana negri yang terkenal dengan kelezatan cokelatnya ini, belakangan setelah ia pulang ke Indonesia saya mendapat oleh-oleh cokelat darinya, ya dari negri Swiss. Swiss memang patut dibanggakan, ia tidak mempunyai perkebunan cokelat, dan hanya mengolah bahan mentah cocoa yang berasal dari Afrika, Amerika Selatan dan bahkan Indonesia ini justru bisa menghasilkan cokelat ter-enak di dunia, wouw two thumbs buat Swiss. #tunggu perjalanan saya ke Swiss ya.

Balik lagi ya setelah sedikit melanglang buana ke Swiss.

Menurut saya Australia tampaknya bisa masuk wishlist selanjutnya, mengingat letaknya yang tidak terlalu jauh dari Indonesia dan memiliki musim yang hampir sama dengan Eropa, tetapi musim di Australia berkebalikan dengan musim di belahan bumi utara itu. Desember sampai Februari musim panas, Maret sampai Mei musim gugur, Juni sampai Agustus musim salju dan september sampai November musim semi, beda ya dengan negara-negra di belahan bumi utara. Mau tau perbedaan tepatnya, yuk chek it out :

Musim-musim dibelahan bumi utara
Musim semi : 21 Maret � 21 Juni
Musim panas : 21 Juni � 23 September
Musim gugur : 23 September � 22 Desember
Musim Dingin : 22 Desember � 21 Maret


Musim-musim dibelahan bumi selatan
Musim semi : 23 September � 22 Desember
Musim panas : 22 Desember � 21 Maret
Musim gugur : 21 Maret � 22 Juni
Musim Dingin : 21 Juni � 23 September



Jadi perbedaannya seperti ini :

Tanggal Belahan Bumi Selatan Belahan Bumi Utara
21 Maret – 21 Juni
21 Juni – 23 Sept
23 Sept – 22 Des
22 Des – 21 Maret
Musim gugur
Musim dingin
Musim semi
Musim panas
Musim semi
Musim panas
Musim gugur
Musim dingin



Kalo mau tau lebih detailnya, benua atau negara-negara mana saja yang masuk kedalam BBU (Belahan Bumi Utara) dan BBS (Belahan Bumi Selatan) googling aja sendiri ya, biar pinter 😀



Cukup sekian dulu ya ceritanya, nanti kita cerita-ceita lagi. Bye bye 👋



Latepost   💗  (publish : 29/10/2018)



Note : Make your dreams come true



Salam,
Auntie "eMDi" Dazzling


Selasa, 02 Oktober 2018

Jalan-Jalan


Dalam Gerbong kereta...



Perjalanan ini baru saja akan dimulai. Waktu menunjukkan pukul sepuluh tepat. Ini malam hari. Kereta Senja Utama mulai bergerak meninggalkan stasiun Senen, menuju stasiun Solo Balapan, sebagai stasiun terakhir tujuan. Kami rombongan cewek-cewek masa kini, eh salah, maksudnya emak-emak masa gitu, mendapat duduk di gerbong 5. Kebetulan, saya dapat seat No.9A, seorang diri. Di sebelah masih kosong. Dalam hati sempet berdoa semoga kondisinya seperti itu terus sampe tujuan, biar bisa tidur berselonjor kaki dengan nyaman, hmm pastinya asik sekali. Baru saja hayalan itu mengembang, tiba-tiba seorang laki-laki muda menghampiri saya. Dengan wajah datar, dia memandang saya, raut mukanya bak bilang, "Heiiii itu seat gue kaleee! Lo duduk jangan mengkangkang gitu, minggiiirrr kalo gak mau gue depak," begitu kira-kira dia bilang. Kenyataannya pikiran-pikiran buruk yang loncat dari otak saya itu stop hanya sampai di situ, si brondong tiba-tiba tersenyum manis, sambil menatap penuh makna. Sorot matanya lembut. Dia bicara sopan sekali, "Maaf, bisa geser... ini nomor seat saya," ujarnya santun bak malaikat penabur kasih.

Triiing!

Seketika saya tersadar, dengan sedikit grogi saya menggeser posisi duduk saya yang tadi dengan congkaknya duduk mengkangkang menguasai dua kursi sekaligus.

"Oya, silahkan mas," sahut saya dengan ujung mata sedikit menyelidik si pemilik suara malaikat ini. Gile, manis bingiiit. Glek! 😉

Waktu perjalanan dari stasiun Senen menuju stasiun Tugu-Yogya perkiraan delapan jam. Hah, rasanya waktu selama itu bakalan jadi gak ngebosenin kalo saja cowok ini pacar saya, haha mulai ngayal lagi tuh otak kotor. Buru-buru saya toyor nih otak, biar cepet siuman. Sadar woii sadar! Hiks.

Sebenernya kalo ngikutin nomor seat yang saya dapat, saya dapat seat no.7A, tapi berhubung waktu naik tadi terjadi pertarungan memperebutkan kursi, maka hasil yang didapat adalah : 

1. Yani berpasangan dengan Anis (paling depan, baris kiri)
2. Elik berpasangan dengan mba Wid (belakang pasangan no.1)
3. Bu Nur berpasangan dengan bu Sinta (paling depan, baris kanan)
4. Lastri berpasangan dengan Tini (belakang pasangan no.3)
5.Gue, eh maksudnya saya berpasangan dengan... si brondong manis. Tentunya! (duduk tepat dibelakang pasangan no.4). 

Gak nyesel deh, meski dituker duduknya. Setidaknya, saya dapat pasangan lain daripada yang lain. Cowok muda nan maniiiss. 

Jadi, siapakah sebenarnya sang pemilik seat no.9A itu?

Mau tau? atau mau tau banget?

Taraaaa...

Jadi, pemilik seat no.9A sebenarnya adalah bu Nur, berhubung (eh, malas ah cerita lagi, itu kan dah diceritain di atas. PEREBUTAN KURSI), maka keberuntungan bu Nur beralih pada saya, sebagai pemenangnya. Duduk bersebelahan dengan brondong manis akan terasa semakin manis seandainya ini kepala bersadar di dada bidang itu. Haha, tolong biarkan otak liar itu menari-nari mengikuti kegilaannya sesaat, sebelum kesadaran itu datang. (nakal ya, sentil!
 
Kalo dibilang untung dan ruginya, kayaknya dua-duanya untung deh. Saya dapat suasa baru dengan si brondong, bu Nur dapat tausiah baru dari bu Sinta.

1 - 1
SERI
Bukan SEURI (ketawa dalam bahasa Sunda) tapi kalo mau seuri juga gapapa sih, mengingat ketawa itu gratis tis, ibadah pula hehe.😇

Satu hal yang akan kurang dalam perjalanan ini adalah enggak bisa cekakak-cekikik bareng Anis atau Yani, karena jarak duduk yang cukup jauh. Bombay Cry. 😢😢😢  (puk puk jangan nangis ya!)

Cukup di sini ya masalah kursi. Case closed!

Sekarang yang saya rasakan adalah perut yang keroncongan, tanpa ada makanan sama sekali. Sebenarnya ada, cuma makanannya gak ada pada saya, mau minta agak malu-malu kucing neh (camilan mana, camilan mana... ?). Cukup nyiksa sih, cuma mau gimana lagi? Saya harus ikhlas dan enggak boleh marah, gak lucu ah kalo dikit-dikit marah apalagi cuma gara-gara makanan, kayak gak ada kerjaan aja. Atau, memang kerjaaannya marah? Haha, marah mah bukan kerjaan saya, mungkin kerjaan tetangga sebelah kalee haha... Ssssttt!

Dalam kelaparan saya malah teringat satu teman saya, Anyi, dia seharusnya ada dalam list perjalanan ini, tapi karena satu dan lain hal, dia tidak bisa bergabung (sayang banget ya Nyi). Selidik punya selidik, ternyata dia enggak dapat SIM alias Surat Ijin Monggo dari Ari, suaminya yang ganteng itu. Menurut sang suami, dia enggak perlu melarang atau mengijinkan tetapi biar Anyi yang memutuskan sendiri seandainya dia bersikeras untuk ikut. Nah, untuk hal ini kalian tebak aja sendiri apa itu artinya, ok!



***


Pukul 22.26. Kereta berhenti entah di mana dan mengapa, saya tidak tahu, soalnya ini pertama kalinya saya naik kereta ke arah Jawa. Kalau naik commuter line Jabodetabek sih udah katam, atau setidaknya udah tau lah, jadi ini adalah pengalaman berkereta ria dengan jarak tempuh yang lumayan cukup lama. 

Pukul 22.30. kereta bergerak kembali melaju menuju stasiun Balapan. Saya masih duduk sambil mengetik perjalanan ini. Lumayan duduk sendiri (eh lupa, berdua sama si brondong)  memberi kesempatan pada saya untuk menuliskan perjalanan ini, meski tetap terasa perih. Sakitnya tuh di sini (sambil menunjuk dada, eh bukan deng, menunjuk perut yang kelaparan).  whua 😞

Pukul 23.18. kereta berhenti lagi entah di mana. Di luar gelap gulita, tak terlihat pijaran lampu meski hanya setitik. Perlahan tapi pasti si tut tut tut ini berjalan lagi. Waktu sekarang sudah menunjukkan pukul 23.21. oh ternyata kereta sudah memasuki stasiun Cikampek. Di seberang, ada kereta dengan arah berlawanan tampak berhenti. Tiba-tiba sesuatu yang menyengat memenuhi lorong kereta. Bau minyak cap kampak menguar menempel di ujung hidung saya. Ah, mungkin ini ibu Sinta yang pakai, pikir saya. Soalnya dari sekian orang rombongan kecil ini, minyak cap kampak ini paling cocok dimiliki dan dipakai oleh bu Sinta. Kebetulan baunya berasal dari depan saya, tepatnya sih di depannya lagi, iya itu di depan kursi yang diduduki Lastri-Tini, yaelah muter-muter amat ngomongnya, bilang aja langsung, bau minyak itu berasal dari kursi bu Nur-bu Sinta. Titik (hadeuh, ngomong gitu aja kok susah). Okay deh.

Semriwing aroma minyak cap kapak ternyata cukup awet. Baunya bahkan sekarang mulai berkolaborasi dengan suara. Suara dan bau bercampur menjadi satu. Terdengar suara bu Sinta yang asik ngobrol dengan bu Nur, ditingkahi suara Anis yang cekikikan tepat di sebrang kursi mereka. Feeling saya sih mengatakan bu Sinta sedang memberi pencerahan pada bu Nur, sedang Yani sedang mendongeng buat Anis. Pencerahan bu Sinta jelas tentang agama, sedang dongengnya Yani mungkin dongeng pengantar tidur. Anis yang mendengarkan dongeng enggak tidur-tidur juga, malah suara cekikikkannya makin terdengar jelas. Bisa diduga sang Pendongeng mendongeng dengan versi ludruk atau ketoprak-nya sendiri, yang membuat Anis matanya bertambah segar bukan ngantuk. Ya, dongeng pengantar tidur ala Yani, si Yance Van Basten itulah yang membuat Anis mules bukannya pules. Perutnya mules kebanyakan tertawa. Hemmm...ngiri, jadi pengen didongengin juga, hiks. 😁 
Ini akibat didongengin Yance van basten, jadi bisa bobo cantik dengan damai 😇


***


Pagi itu matahari cukup bersinar terang, aroma kehidupan mulai menggeliat kembali di dalam gerbong kereta ini. Tampaknya kereta sudah mau memasuki stasiun Tugu Yogyakarta, stasiun tujuan kami. Saya bangun dengan perasaan ringan. Halloo Yogya... I'm coming, teriak saya dalam hati. Ada secercah harapan menyambut perjalanan hari ini. Semoga semuanya lancar.

Keluar dari stasiun kami disambut dua buah mobil Kijang Innova.

"Selamat pagi," sapa seseorang yang adalah driver yang akan mengantar kami selama perjalanan ini. Ada dua driver, yang satu bernama mas Agung, yang satu mas Harry. Rombongan kami pecah menjadi 2. Satu rombongan terdiri dari : Saya, Yani, Anis, Lastri dan Tini ikut driver yang namanya mas Agung. Sedang rombongan satunya, bu Nur, bu Sinta, mba Wid dan Elik drivernya adalah mas Harry. Klop deh kita. Dan dari sinilah petualangan emak-emak asal Jakarta dan Tangerang ini dimulai. Harapannya semoga perjalanan ini menambah wawasan dan menjadikan pribadi baru yang lebih baik buat semua. Amin.

Yuk, kita lanjut ceritanya.

Mobil mengantar kami langsung ke hotel tempat menginap, Maranatha Grand Hotel namanya. Lokasinya sekitar kawasan Dagen, Malioboro. Hotelnya masih terbilang baru. Bisa dilihat dari tampilan hotel yang masih anyar, dengan kamar bersih nan asri. Haduuh, nyaman banget deh, ingin rasanya langsung loncat ke kasur dan meneruskan tidur panjang, atau sekedar leye-leyean di kasur juga boleh. Tapi, kami ke hotel hanya sekedar titip tas, seharusnya kami chek-in jam 14.00. beruntungnya kami bahkan dapat early chek-in (pengertian banget nih hotel, thanks a bunch ya)


Ini kamar yang saya tempati bersama Yani dan Elik. Plus ada tambahan kasur yang enggak pernah kita pakai. lha ber-3 juga ini muat kok  👍

Setelah menyimpan tas dan urusan kamar mandi selesai (sekedar bersih-bersih badan plus ganti baju), kami semua segera berkumpul kembali di lantai satu, dan segera berangkat.

Let's go gels! 

Sebelum berangkat, mejeng dulu ah :)

Dari  hotel mobil langsung membawa kami ke sebuah rumah makan, ceritanya sih mau breakfast. Tempat yang dipilih adalah penjual soto kudus. Kalo gak salah rumah makannya namaya "Soto Kudus Pak Dewo" deh, tapi gak tau juga sih tepatnya, soalnya agak-agak lupa juga bray hehe. Soto di sini terbilang enak, makannya bisa dicampur nasi atau dipisah. Ada banyak tambahan camilannya, ada : bacem tempe, tahu, sate telur puyuh, ati-ampela, bakwan, perkedel dan deelel, plus teh hangat gratis tis yang rasanya enak banget (teh apa itu ya? asli enak banget!).  

Penampakan soto kudus yang rasanya yummy itu
Rencananya setelah makan soto ini, kami akan langsung menuju candi Prambanan dan candi Borobudur, kemudian esok harinya, hari sabtu dilanjutkan ke Imogiri. Sayang, belakangan kami malah batal ke Imogiri (semoga besok-besok bisa ke Imogiri. Pray for that) 

Terusin ya ceritanya.

Hari itu, kami berkunjung ke Prambanan dan Borobudur, tak lupa pulangnya nyempetin belanja di pasar Beringharjo, yang katanya pasarnya murmer, tapi sih harganya standar kok gak murmer juga.

Ini kenang-kenangannya...
Gak bisa bahasa Jawa, jadi gak bisa nawar deh :(



Bergaya dulu meski buka abg lagi :)
Oia, ini dia foto pertama kita sampai di Prambanan.

Nyampe, langsung bergaya :)

Sayang banget saya sudah agak-agak lupa ke mana saja kami jalan, mengingat perjalanan ini hampir 2 tahun silam. Yang masih terpatri salah satunya adalah wisata ke goa Pindul, lokasinya di Gunung Kidul. Di sini kami melakukan aktifitas Cave tubing. Cave tubing itu aktifitas menyusuri sungai yang ada di dalam goa dengan menggunakan sebuah ban pelampung. Seru banget deh, meski deg-degan karena sedikit ciut nih nyali.

Waktu pertama masuk ke goa langsung takjub menyaksikan keajaiban alam, deg-degannya terobati dengan pemandangan dalam goa. 

Ini sih gak relax tapi deg-degan, coba di zoom muka-muka ketakutan itu. Padahal ini baru zona terang lho :)
Baru mau masuk goa aja dah keliatan tuh muke takut :(

Ban pelampung kami perlahan mulai memasuki goa, awalnya sih masih agak-agak terang tapi lama-kelamaan gelap makin menyergap. Dalam goa tiba-tiba saya parno dengan air yang warnanya gelap itu, bisa diduga gelapnya air itu artinya kedalamannya semakin dalam. Hhiii merinding juga saya melihat semua ini. Dalam kegelapan pemandu memberikan arahan dan menjelaskan segala hal tentang goa Pindul, termasuk kedalaman air yang saat ini ada di bawah kami. Saat itu kami berada tepat di tengah-tengah goa, menurut pemandu, lokasi saat ini berada dalam zona gelap. Si Pemandu bilang, goa Pindul ini memiliki panjang 350 meter dengan lebar 5 meter, dan ini terbagi menjadi 3 zona, yaitu : zona terang, zona gelap, dan zona remang. Berarti bisa dibayangkan dong bahwa saat ini kami berada di titik tengah goa. Itu artinya air di bawah kami kedalamannya paling dalam dan goanya paling gelap, hanya senter yang menerangi wisata air ini. Dalam rasa takut saya hanya bisa berdoa dalam hati, bu Sinta terdengar bershalawatan, suaranya terdengar nyaring dalam goa ini. Dan ini mungkin termasuk wisata air yang bernuansa agamis, hehe two thumb buat bu Sinta. 

Ini sudah memasuki zona gelap. Asli gelap, hanya senter sebangai penerang. Lihat mukanya Elik, ketakutan apa lagi bergaya ngecengin pemandu ya?
Semua memandang ke atas dinding, lihat kelelawar yang banyak bergantungan. Ini bisa dilihat berkat senternya pemandu.
Setelah cukup menegangkan, akhirnya sampailah kami di zona remang, hmmm rasanya senang bisa kembali melihat terang  👏

Baru inget tadi waktu mau sampe di zona remang, saya melihat serombongan wisatawan yang sedang beradu nyali untuk loncat ke dalam dinginnya air. Rata-rata mereka cowok, ada juga sih ceweknya. Saya sempat melihat salah satu dari mereka yang gelegepan setelah menceburkan diri ke air, tangannya menggapai-gapai dengan kepala naik turun dalam air. Tidak seperti yang lain, tampaknya itu orang kurang pandai berenang, sama seperti saya rupanya hahaha... 👅

Gembira di zona remang. Lihat sebelah kanan atas, nah itu mereka yang sedang adu nyali nyeburin diri dengan cara loncat ke air.
Ke luar dari zona remang saatnya adventure ria kembali. Petualangan selanjutnya adalah menyusuri sungai dengan arus yang lumayan deras. Hiii agak takut juga euy melihat air yang lumayan kenceng itu. Satu-persatu dari kami dilepas. Masing-masing dengan bannya sendiri.


Enjoy the adventure 
Setelah bertegang-tegang sedikit, air kemudian mulai menenang, semua kembali ke formasi awal saling berpegangan satu dan yang lainnya. Pemandu memberi tantangan, siapa diantara kami yang berani menceburkan diri. Lastri, Anis, Tini dan saya mencoba menjawab tantangan itu, satu persatu dari kami disuruh menceburkan diri tanpa ban pelampung. Ingat saya tidak bisa berenang ya, walaupun badan sudah memakai rompi pelampung tetap saja rasa takut itu ada, hehe.

Gue.. eh saya mencoba memberanikan diri dengan menceburkan diri di sungai
Tini si orang Bogor yang jago renang
Kalo Lastri sih dari orok dah jago renang neh
Anis dengan gaya kura-kura ninjanya hahaha...

Puas bermain-main air, akhirnya tibalah di air terjun. Waahhh air terjunnya cukup cantik. Di sini kita ternyata harus merasakan gerujukan dari siraman air terjun ini, mungkin biar afdol, biar ngerasin gimana yang namanya digerujuki air terjun alami waaahhh.

Tuh yang kena gerujukan air terjun langsung mengap-mengap saking gedenya air, tebak siapa coba? Iya betul, itu mba Evi :)

Selesai urusan basah-basahan, kami berjalan menyusuri sungai menaiki tebing ya licin. Dari tebing pemandangannya cukup cantik, dan di sini kami berfoto ria kembali.


Setelah pendakian tebing, disuguhi pemandangan ini. No pain no gain! cihuuuiii
Selesai sudah berpetualang di Goa Pindul ini, setelah ini kami kembali dengan dijemput mobil bak terbuka. Keseruan terjadi dalam perjalanan ini. Ada saja cerita yang terangkai, dari tukang baso yang kita lewati, lalu kita dadah dadah padanya dengan menyebutkan sebuah nama. Iya, kita namai saja tuh abang baso dengan nama yang kita dapat saat itu. Waktu ditanya, "emang siapa itu?" jawabannya mana kutehe lha wong kita asal kasih nama aja, SKSD gitu deh, sok kenal sok deket hahaha. 

Tuh tetep cantik-cantik kan setelah basah-basahan
Setelah sampai kita semua pada ganti baju bersiap-siap kembali ke hotel. Tapi waktu itu kita sempetin mampir makan di warung bakmi jawa yang terkenal, namanya "Bakmi Mbah Mo"  di daerah Bantul. Letaknya di pelosok desa, waktu sampai saya malah takjub. Warung yang sederhana ini pengunjungnya hampir semua bermobil, meski letaknya jauh dari pusat kota Yogyakarta. Tampaknya nama "Bakmi Mbah Mo" ini cukup membuat orang penasaran untuk mencicipinya, termasuk kami tentunya. Sayang saking ramenya, kami makan pun harus sabar mengantri. Sudah dapat kursi pun kami harus sabar menunggu hidangan mie-nya tersaji. Gak sabar deh waktu itu, nunggunya kelamaan, giliran dapet rasanya menurut saya sih biasa-biasa wae, lebih enak mie kuah langganan di daerah di blok M deh. Hemm jadi gak worth it deh. Mungkin itu histeria massa saja, hingga orang semua ikut-ikutan, termasuk kita gak ya??

Waduh ceritanya sebenernya masih panjang, tapi waktu untuk menulisnya terbatas. Jadi, saya rasa cukup di sini dulu deh cerita petulangan emak-emaknya, lain waktu disambung lagi (halah).


Note : Life is simple, eat, sleep and enjoy your life.


Late post. Again!



Salam,
Auntie 'eMDi '  Dazzling

Roadtrip - Berlibur ke Australia Barat

Mau wisata bersama keluarga ke luar negri? Widiihh, mau banget! Liburan bersama keluarga ke luar negri adalah salah satu impian saya...