Translator

Kamis, 01 Desember 2016

Mengenal Wawan Kurn



http://www.wawankurn.com/


Membaca blog seorang sahabat Wawan Kurn selalu membuat saya takjub. Entah mengapa, saya selalu merasa takjub dengan hasil karya tulisnya. Entah itu tulisan mengenai sebuah buku atau tulisan tentang kisah-kisah hidupnya sendiri. Kata-kata dan ceritannya selalu inspiratif. Tulisan di header blognya : "Saya menulis untuk belajar mendengar dan menegur diri sendiri" merupakan representasi bahwa ia seorang yang mampu menegur dirinya sendiri lewat tulisan-tulisannya. Sayang jika pembaca belum mengenalnya. Jika ingin mengenalnya lebih dekat, berkunjunglah ke Blognya. Blog yang banyak menelurkan tulisan-tulisan cerdas. Tulisan yang kadang mudah dipahami, meski tak jarang rumit dipahami untuk ukuran otak seperti saya. Ketertakjuban saya tetap hadir di setiap tulisannya. Takjub dengan segala kecerdasan tulisan maupun segala kerumitannya.


Blog Wawan Kurn :  http://www.wawankurn.com/




Jakarta, 01 Desember 2016




Salam,
Auntie 'eMDi' Dazzling

   

 My Dictionary :
Arti dari representasi adalah:
re.pre.sen.ta.si
Nomina (kata benda)
(1) perbuatan mewakili;
(2) keadaan diwakili;
(3) apa yang mewakili; perwakilan


Pengertian representasi adalah sebuah proses ataupun keadaan yang ditempatkan sebagai suatu perwakilan terhadap sebuah sikap / perbuatan dari sekelompok orang / golongan tertentu di dalam sebuah lingkungan.24 Des 2015




Note : Seorang penulis memang harus menulis, meski hasilnya belum memuaskan hajar saja karena ini adalah jalan menuju tulisan yang lebih baik #Keep spirit Sist!





Rabu, 30 November 2016

November Rain



Tak terasa hari sudah memasuki tanggal tigapuluh bulan November di tahun 2016. Hemm, rupanya hidup itu begitu indah dan membuat betah hingga tanpa terasa hari lepas hari berlalu begitu saja. Sayang sekali kalau hari-hari yang telah saya lalui itu hampir semua berlalu tanpa sebuah catatan. Rasanya jadi menyesal karena tidak mengenal budaya menulis sejak kecil. Dulu waktu SD saya tidak sempat mengenal yang namanya menulis diary, sayang budaya menulis itu tidak hadir di keluarga atau bahkan di lingkungan sekolah sekalipun. Yang saya tahu saat itu saya hanya gemar membaca majalah Bobo dan majalah remaja Gadis, milik kakak perempuan saya yang paling tua. Beruntung banget, saat itu saya sudah punya seorang kakak perempuan yang sudah bekerja dan hobby fashion. Karena gara-gara dia, saya dan salah satu kakak perempuan yang usianya tepat dia atas saya terkena imbas bisa membaca majalah yang ia beli. Jeleknya, kita sering berebut jika majalah baru itu datang.

Cerita tentang kegemaran membaca itu entah datangnya dari mana, yang jelas jika si majalah datang kita berusaha menjadi orang nomor satu yang membaca. Entah mengapa keinginan tahu pada masa itu gede banget. Rasanya enggak asik aja kalau bukan menjadi pembaca pertama majalah-majalah itu. Bahkan pernah di rumah ada satu bundel majalah tahunan, apa nama majalahnya saya lupa, yang abis kita baca bahkan bisa berulang-ulang membacanya, maklum gak punya bacaan lain. Haha, mungkin jaman dulu itu, untuk membeli majalah saja susah, hingga apa pun itu bentuk bacaannya akan dibabat habis.

Dulu, jika saya sudah membaca "Dongeng Oki dan Nirmala" di majalah Bobo, otak saya akan mengembara, berimajinasi seenak jidat. Jika dalam dongeng si Oki dan Nirmala suka duduk-duduk di awan, saya malah berimajinasi bahwa awan-awan itu adalah es krim. Dengan santai saya akan duduk di awan-awan itu sambil mencolek awan yang di mata saya berubah jadi es krim. Yummy! Ngiler banget dah kalau saya sudah berhayal seperti itu.

Selain Oki dan Nirmala tentunya banyak cerita-cerita lain yang menarik ; ada Juwita dan Si Sirik, Bona gajah kecil berbelalai panjang, Paman Kikuk, Husin & Asta, kisah Keluarga Bobo atau Arena Kecil dan Tak Disangka-nya Bobo, yang ceritanya tentunya menarik dan lucu. Bahkan, hanya membaca Surat Pembaca saja, pembaca selalu dapat sesuatu. Pokoknya selalu ada value dalam setiap rubriknya. Thanks ya Bo!

Dari kegemaran membaca itu sayangnya tidak dibarengi dengan kegemaran menulis. Bukan, maksudnya bukan tidak gemar, tetapi tidak mengenal budaya menulis. Menyesal sekali rasanya jika ingat itu. Andai, jika boleh berandai-andai, jika saja dulu sudah ada internet, atau minimal mengenal dunia menulis, waahh pastinya banyak cerita yang akan saya toreh di setiap perjalanan hidup saya ini. Meski cerita hidup saya itu sederhana, paling tidak itu bisa membuat kisah perjalanan hidup hadir sepanjang waktu jika saya tulis. Hingga kelak anak cucu saya bisa membaca kisah-kisah itu. Nyesel rasanya!

Stop dulu ah sesal-menyesalnya. Lebih baik saya mencoba mengingat jaman-jaman saya kecil dulu.

Ini cerita masa kecil saya. Suatu hari, waktu saya masih duduk di kelas dua SD sekitar bulan yang curah hujannya tinggi - ya, sekitar bulan November seperti sekarang ini -  saya berangkat sekolah dengan berbekal payung. Ya, saat itu meski tidak hujan saya harus membawa payung karena bulan November itu musim penghujan. Saya berangkat dengan berjalan kaki meski letak sekolah cukup jauh dari rumah. Sayang, belum lama saya berangkat hujan mulai turun, payung segera saya buka. Ternyata hujan turun cukup deras bahkan cenderung mengandung badai bagi saya yang anak kecil itu. Saya basah kuyup. Badan, tas yang kebetulan terbuat dari jalinan wool itu pun terkena guyuran hujan. Kan, bawa payung. Iya saya bawa payung, tetapi payung saya itu ternyata terbuat dari bahan kain bukan plastik, jadilah hari itu saya basah kuyup yup banget. Meski hujan, saya tetap berjalan terus menuju sekolah sambil kedinginan. Hujan masih turun ketika saya sampai di sekolah, belajar sudah dimulai. Saya terlambat. Saya masuk ke kelas dengan tubuh basah kuyup, saya duduk di kursi yang letaknya paling depan. Saya perhatikan tidak satu orang pun yang kebasahan apalagi kuyup seperti saya. Tampaknya hanya saya seorang yang terkena hujan dan basah basah basah... seluruh tubuh, ah ah ah mandi madu. Sorry kok malah nyanyi. Saya terduduk dengan tubuh menggigil. Guru saya seorang perempuan muda, ia menghampiri saya kemudian bertanya kepada saya. Saya tidak tahu apa pertanyaan ibu guru itu saat itu, yang saya ingat saya malah menangis sesegukan. Lalu saya lupa kejadian setelah itu, hahaha.

Basah, basah, basah, seluruh tubuh...!

Intinya, gak ada intinya sih, saya pernah mengalami pengalaman pahit seperti itu masa kecil dulu. Pengalaman seperti itu kata anak saya, Caca,  adalah pengalaman yang menyedihkan, seperti yang ia pelajari di pelajaran IPS-nya. 

Seperti kata Caca,  setiap orang punya pengalaman menyenangkan atau menyedihkan. Pengalaman itu adalah peristiwa yang pernah terjadi. Dan, peristiwa adalah kejadian yang luar biasa atau kejadian sehari-hari, ucapnya pintar.

Senin tanggal empat belas november lalu, Caca distrap oleh gurunya bersama sepuluh orang temannya yang lain. Ketika saya tanya, apakah itu merupakan pengalaman yang menyedihkan buatnya, ternyata jawabannya bukan. Saya kaget. Menurut dia, kejadian distrap di depan kelas lain itu adalah pengalaman yang menyenangkan buatnya. Kok bisa? tanya saya padanya penasaran. Ia mom, soalnya aku jadi bisa bertemu dengan teman-teman kelas IB ku dulu, katanya sambil tersenyum senang. Dari pancaran matanya saja saya bisa melihat ke-genuine-an kata-katanya. Saya takjub melihat sisi polosnya seorang kanak-kanak. Pancaran cerianya tulus dan tidak pernah dibuat-buat. Saya hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Distrap kok malah senang. Kalau kejadiaannya itu terjadi pada saya, bisa mewek bombay saya, malu berat pastinya.

Anak-anak yang distrap. Yang mana Caca? Gak ada, hehe *pinjem google

Malamnya, saya bertanya padanya apa yang membuat ia distrap bersama sepuluh orang teman laki-laki lainnya itu. Menurut dia, teman laki-lakinya itu ngata-ngatai dia, katanya begini ; Caca Marica hai hai, Caca Marica hai hai, pantatnya robek digigit bebek, mereka bernyanyi sambil berlarian di kelas, dan tanpa berdosa ia balas mengejar teman-temannya tersebut. Jadilah kelas menjadi gaduh. Kemudian ibu guru menyetrap kesepuluh anak laki-laki  dan satu murid perempuan yang gaduh tersebut untuk distrap di kelas IIC, sedang mereka adalah murid kelas IIB. Begitu ceritanya. Terus bu guru bilang apa, tanya saya lagi. Bu guru baik mom, semua anak laki-laki temanku itu harus minta maaf sama aku, aku salaman sama mereka sambil tersenyum-senyum, katanya dengan lucu. Oh itu toh pengalaman menyenangkan buat kamu. Woow... so sweet my dear :)

Cerita, saya dan anak saya itu jadi berbeda ending ceritanya. Cerita saya menyedihkan, sedang baginya pengalaman distrapnya itu menyenangkan. Jika diambil kesimpulan, pengalaman baik atau buruk itu bisa dianggap menyenangkan atau menyedihkan tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Mungkin jika kejadian kehujanan saya itu yang mengalami adalah anak saya, bisa jadi akhir ceritanya malah menyenangkan. Karena anak saya itu tipikal anak yang ceria, mungkin kehujan itu malah membuat ia merasa diperhatikan oleh gurunya dan teman-temannya. Sedang saya? Saya malah merasa malu dan nelongso. Hahaha... pret banget deh gue!

Segitu dulu deh cerita November Rain-nya, soalnya bulan novembernya dah mau habis. See you :)


Jakarta, 30 November 2016





Note : Seorang penulis memang harus menulis, meski hasilnya belum memuaskan hajar saja karena ini adalah jalan menuju tulisan yang lebih baik #Keep spirit Sist!




Salam,
Auntie 'eMDi' Dazzling


Jumat, 28 Oktober 2016

Pembisik Berbisik dan Berisik


Pembisik Berbisik dan Berisik



Dikisahkan, ada sebuah kerajaan kecil yang mempunyai pemimpin seorang raja yang sangat bijaksana. Beliau memiliki beberapa orang pembisik yang cukup mumpuni dalam hal "berbisik". Satu di antara pembisiknya adalah seorang perempuan muda berparas menawan, entah kekuatan apa yang dimiliki si pembisik ini hingga sang raja bisa takluk jika ia sudah berbisik. Segala hal yang awalnya ia tidak setujui, menjadi sebuah anggukkan kepala dari sang raja.

Dulu, pembisik ini berasal dari kalangan rakyat biasa. Entah ini sebuah takdir atau hanya sebuah persinggahan sesaat, sekarang ia bisa menjadi salah satu pembisik raja, yang bisikannya paling didengar. Entah oleh sesama pembisik atau oleh sang Raja. Akibat kekuatannya ini sekarang kekuasaannya mulai beranak pinak. Dari satu sel membelah diri menjadi banyak sel. Dari yang awalnya sebagai pembisik raja, sekarang bertindak sebagai : penasehat, pembimbing, penyampai bisikan, hingga bertindak seolah-olah raja itu sendiri dan mengalungkan nama raja dilehernya. #weleh.

Raja terbuai.

Rakyat menderita.

Banyak kebijakan yang tumpang tindih atau bahkan ditabrak, jika menyangkut kepentingan pribadi. Jika dulu ada salah satu pembisik raja yang setiap hari jumat mengadakan sharing agama tertentu, dengan garang ia menolak dan berkicau kencang, persis seperti kicauan burung gagak.

Berbeda dengan sekarang. Jika pembisik terdahulunya akhirnya tidak meneruskan jadwal sharing mingguannya itu lagi, sekarang justru ia yang memiliki jadwal kegiatan mingguan tersebut. Tidak tanggung-tanggung semua rakyat yang bergender perempuan diwajibkan ikut. Jika menentang, hukuman gantung dan pancung siap menanti.

Rakyat takut.

Semua manut mengikuti sang pembisik.

Sekarang, negri yang dulu tentram itu masih terlihat tentram dari luar. Tapi di bawah sana ada riak-riak kecil yang seolah bergumpal. Dari permukaan terlihat tenang, tapi di bawahnya ada sumber tsunami yang hanya tinggal menunggu genderang berbunyi dan menumpahkan ombak besarnya. Betapa kini udara kebebasan itu seakan mahal harganya. Dulu, kaum perempuan itu jika menghadapi akhir pekan akan menyambutnya dengan suka cita. Bagai hendak bertemu sang pujaan hati, mereka akan mematut diri mereka secantik mungkin. Kadang mereka menggunakan gaun yang sangat cantik, kemudian mereka bersama-sama tamasya ke suatu tempat yang biasa mereka jadikan tempat kongkow, sekedar menghilangkan kejenuhan hari-hari kerja mereka. Tetapi kali ini berbeda, bagi mereka, akhir pekan yang jatuhnya hari jum'at itu seolah hari di mana mereka menghadapi ujian kelulusan. Wajah-wajah stress kadang membingkai mereka dalam sapuan bedak dan guratan gincu tanda bahwa mereka siap menyambut sang Maha Guru. Balutan baju gamis yang anggun seakan tidak bisa pula menutupi kegalauan hati mereka. Bukan, mereka bukan tidak suka kegiatan baru di akhir pekan itu, kegiatan yang dipelopori sang pembisik. Mereka hanya merasa tertekan saja, karena dengan terpaksa harus mengikuti aturan sang pembisik. Kegiatan yang sebenarnya sungguh mulia tetapi berakibat tidak baik karena keterpaksaan. Semua ketidaknyamanan ini timbul akibat kesewenang-wenangan yang tercipta.

Raja diam.

Layaknya ia tertidur.

Mungkin, suatu hari raja terbangun dan menyadari betapa sang pembisik kesayangannya itu telah menjelma menjadi raja kecil, bayang-bayang dirinya. Dan menguasai negrinya.

Raja hanya nama. Penguasa adalah si pembisik.


Jakarta, 28 Oktober 2016




Note : Seorang penulis memang harus menulis, meski hasilnya belum memuaskan hajar saja karena ini adalah jalan menuju tulisan yang lebih baik #Keep spirit Sist!




Salam,
Auntie 'eMDi' Dazzling

Kamis, 13 Oktober 2016

Opera Sabun



Opera Sabun
It’s show time



“Aku harus bagaimana ini, ikut saja atau… Mm, sudahlah.”

Reno melangkah perlahan dengan ragu mengikuti keranda bertudung hijau di depannya. Sebenarnya ia sedikit enggan mengikuti prosesi pemakaman ini, tetapi apa kata orang jika ia tidak ikut dalam prosesi ini. 

Huh! Dari mulutnya terdengar desahan tak jelas, napasnya yang sedikit tersengal ia hembuskan kuat-kuat. Langkahnya yang tadi lambat kini sedikit tergesa seolah terhipnotis oleh para pembawa tandu keranda yang berjalan cukup cepat. Sepatu kets kesayangannya sekarang dihiasi tanah merah kuburan di beberapa bagian. Ini adalah hari terakhir di mana ia bisa memandangi keranda yang membungkus jasad Sonya, pacarnya.

Sebulan lalu ia ingat betul bagaimana ia dan Sonya masih bersama-sama. Sonya yang manja itu memang berbeda dalam segala hal dengan perempuan-perempuan pilihan orang tuanya. Tepatnya pilihan ibunya. Terakhir, ibunya menyodorkan seorang gadis berusia belasan tahun yang membuatnya protes keras.

“Gadis seusia itu cocoknya masih berseragam SMP, bu. Mengapa ibu menyodorkannya padaku?”

“ Biar mudah diatur,” ibunya menjawab ketus.

Sudahlah, ia tahu gadis itu tidak jelek, bisa dibilang tergolong cantik. Tapi dia masih kecil, jangan-jangan ini termasuk kejahatan seksual pada anak. Polisi bisa menciduknya gara-gara ini. Hiii…, ia bergidik, bulu kuduknya seolah berdiri tegak.

Memang gara-gara Sonya lah hubungan dengan keluarga terutama ibunya menjadi rumit. Persis seperti benang kusut yang susah diurai kembali. Dan dirinya hanya pasrah saja akan keadaan itu. Hatinya begitu kuat dan yakin cintanya hanya untuk Sonya seorang.

Tak berbeda dengan Sonya, Reno adalah pujaan hatinya. Susah betul kedua anak manusia itu dipisahkan. Mungkin hanya maut yang bisa memisahkan mereka.

 Dan maut itu benar-benar datang menyapa Sonya, tepat di tahun ke sepuluh mereka berpacaran. 

Sepuluh tahun perjalanan cinta adalah bukan waktu yang sebentar. Bayi mungil anak kakaknya yang lahir sepuluh tahun lalu itu saja sekarang sudah beranjak besar, sudah kelas 5 SD ia sekarang. Dalam kurun waktu itu sebenarnya ia sangat ingin segera meminang Sonya. Tapi, keluarga besarnya malah kebakaran jenggot. Mereka melarang bahkan mengusirnya dari rumah.

Sakit rasanya. 

Sakitnya tuh di sini!

Suatu kali ibunya pernah merestui hubungan asmara mereka, tetapi sayang restu itu berjalan  hanya dalam hitungan detik saja. Karena di detik ketujuh restu itu hancur bersamaan dengan terjatuhnya ia dari kursi. 

Ah, rupanya itu hanya hayalan tingkat tingginya saja. Pret!

Apa sih yang diharapkan dari seorang laki-laki sepertinya?

Ia hanya mengharapkan seseorang yang mengerti dirinya. Cukup. Dan Sonyalah satu-satunya orang yang bisa mengerti dirinya. Mungkin, sangat mengerti. Jadi, untuk apalagi ia mencari-cari yang lain, jika sudah ada orang yang tepat.

Huh! Pusing ia memikirkan semua tentang itu. 

Atau mungkin sebaiknya aku dan Sonya pergi dari kampung ini, seperti pasangan lain yang “kawin lari” jika tidak direstui orang tua. Terbesit juga pikiran konyol ini. Tapi, segera dikuburnya niat itu.

Ia teringat, suatu malam Sonya bertandang ke rumahnya, cukup pintar Sonya mengambil hati ibunya. Dengan cerdas, dibawakannya makanan special kesukaan si ibu, serabi solo. Rasa yang sekarang bukan hanya original itu membuat air liur si ibu keluar tak tertahan, persis seperti seekor anjing yang lidahnya menjulur-julur keluar untuk mendinginkan suhu tubuhnya karena cuaca panas. Dalam sekejap ditandaskannya satu kotak serabi solo berisi 20 biji dengan rasa rupa-rupa itu ; coklat, keju, duren dan nangka. Untuk sementara, serabi solo bisa meredam kemarahan hati si ibu.

Ren, aku enggak tahan dengan semua ini, tapi aku juga enggak bisa hidup tanpa kamu.  Sonya sering berkeluh kesah seperti itu. Baginya keluhan kekasihnya ini adalah keluhannya juga.

Keluarga kedua belah pihak, baik Sonya maupun Reno tampaknya sama-sama tidak menyukai hubungan anak mereka itu.

“Jijik!” Suatu kali bapaknya bicara seperti itu padanya. Hati anak mana yang tidak hancur jika sang bapak saja sudah mengatakan itu.

Bapaknya bilang, jodoh itu harus seimbang seperti Ying dan Yang. Bukan semau deweke seperti kamu, sungut bapak. Bisa-bisanya bapak tahu istilah Cina Ying dan Yang, padahal moco aja enggak bisa, batinnya. 

Iya, dirinya memang bukan Ying, dan Sonya juga bukan Yang. Reno, ya Reno. Sonya, ya Sonya. Sudah, itu saja. Gerundel hatinya.

Tapi sejak Sonya jatuh sakit, ya sebulan yang lalu itu, tidak pernah terbesit sedikit pun Sonya akan meninggalkan dirinya, apalagi untuk selama-lamanya. 

Tiba-tiba saja kesedihan mendera dirinya. Ada segerombolan air mata mendesak untuk ke luar. Digigitnya bibirnya kuat-kuat untuk menahan tangis yang hampir tak dapat dibendung. Sebagai laki-laki pantang rasanya menangis. Laki-laki itu harus jentelmen begitu ibunya bilang. Dan sebagai laki-laki ia tidak mau terlihat cengeng di depan orang, meski hatinya sebenarnya mewek darah.

Sebenarnya, dua minggu yang lalu ia sudah membawa Sonya ke dokter. Selama sakit Sonya tidak mau dibawa ke dokter oleh keluarganya. Karena Reno lah ia mau pergi ke dokter. 

“Penyakitnya sepertinya sudah lama bercokol, mungkin tidak dirasa saja. Tapi, kita periksa lab dulu biar jelas,” ujar si dokter.

Kalau orang divonis suatu penyakit, seenteng apa pun penyakit itu pasti tetap berat terasa. Bagi Reno, penyakit Sonya yang belum tahu apa itu adalah pukulan terberat hidupnya. 

Andai ia bisa menciptakan dunianya sendiri, ia ingin pergi berdua saja bersama Sonya. Apa pun yang ia kerjakan andai itu bersama Sonya selamanya akan menyenangkan. Kata orang rasa demikian itu namanya kerjanya si hormon endorphin yang tahannya cuma sebentar kemudian rasa senang itu akan menurun seiring berjalannya waktu, dan kemudian hilang. Tapi nyatanya perjalanan cinta antara ia dan Sonya sudah memasuki tahun ke sepuluh, dan semua rasa itu masih sama. Masih seperti awal mereka jatuh cinta.

“Reno, kalau dokternya kamu, aku sakit gini juga enggak apa-apa. Kan, kamu yang periksa dan ngerawat aku,” ujar Sonya dengan tatapan mata lekat memandangnya. 

Reno hanya diam, tangannya yang sedikit basah meremas tangan Sonya kuat. Ada ketakutan yang menggelayutinya. Terbayang olehnya awal ia dan Sonya berkenalan. Sonya yang introvert itu bertemu dengan dirinya yang sebenarnya tipe extrovert. Tetapi, sejak mengenal Sonya, sifatnya yang terbuka itu berubah menjadi tertutup seperti Sonya. Banyak teman-temannya yang merasa heran dengan perubahan sifat Reno.

Bukan! Bukan itu sebenarnya. 

Perubahan sifat Reno bukan karena Sonya.

Tetapi justru satu tahun ke belakang sebelum ia mengenal Sonya. Ya, tepatnya sejak ia ditolak cintanya oleh salah satu cewek cantik paling beken di sekolah SMA-nya dulu. Bagi Reno cowok yang tergolong dalam jajaran tampan itu ditolak cinta pantang dalam kamusnya. Dan, kalau memang ia ditolak pun enggak masalah, lha wong masih banyak cewek yang antri buat dipacarinya. Tapi, bukan itu masalahnya. Masalah yang utama karena ia merasa dipermalukan di depan umum. Dipermalukan justru oleh orang yang ditaksirnya. 

Bayangkan saja waktu ia nembak si Lusi cewek cantik bertampang indo itu, bukannya diterima atau ditolak dengan lembut gitu, ia malah mendapat tamparan kencang tepat di pipi kanan dan kirinya. Tidak hanya sampai di situ, si cewek imut ini pun meludahinya.

“Ciih, jijik aku denger rayuanmu itu Ren! Kamu memang ganteng tapi jangan kamu pikir tiap perempuan akan mudah tergoda oleh rayuan gombalmu itu,” cerocosnya. Darah dalam tubuh Reno seakan mendidih, terkesiap ia mendapat perlakuan seperti itu dari Lusi. Mukanya memerah hangat. Dadanya bergemuruh kencang, mata tajamnya memandang  Lusi geram. Jari-jari tangannya membentuk kepalan kuat.

Ada luka menganga di hati Reno. 

Dan sejak itu Reno menutup diri. Ia tidak pernah bergaul dan menjadi seorang pendiam tingkat tinggi. 

Satu tahun sejak peristiwa itu ia bertemu Sonya, anak pindahan dari Jakarta. Dengan Sonya lah ia mulai mau terbuka. Hingga entah siapa yang memulai, mereka menjadi semakin dekat. Dan dengan bodohnya, mereka mengikatkan diri satu dan lainnya sebagai pasangan.

Barangkali itu sudah takdir mereka. 

Hubungan yang semakin intim antara Reno dan Sonya bukanlah hubungan yang mudah. Banyak orang yang memandang sebelah mata dengan hubungan ini. Bisik-bisik selalu ada di mana pun mereka berada. Tetapi keduanya tidak tergoyahkan. Mereka begitu akrab, dekat dan cenderung membikin iri atau mungkin benci orang yang melihat.

Pasangan yang aneh, begitu bisik-bisik orang.

Gila tuh si Reno, bisa-bisanya ia jadi berubah seperti itu. 

Ah, keluarkan saja tuh anak baru dari sekolah kita, buat virus saja di sekolah ini.

Bisik-bisik itu semakin sering terdengar dengan ritme dan irama yang sama, hari lepas hari hingga mereka lulus sekolah.

Reno terhenyak ketika seseorang menyerempet dan hampir menginjak kakinya. 

Mengembalikan segala kesadarannya.

Aku masih di sini. 

Reno berdiri mematung. Matanya tajam memperhatikan tanah-tanah merah yang menyeruak ke permukaan. Sekarang, matanya lebih bisa melihat dengan terang dan jelas. Air mata yang tadi hampir tumpah itu sedikit-demi sedikit terhapus oleh usapan tangan kokohnya. Prosesi pemakaman Sonya berjalan cukup hikmat. Ia melihat satu per satu keluarga Sonya. Ayah, ibu dan kakak serta adik Sonya tampak berwajah kusut. Mata mereka tampak sembab. 

“Maaf,” suara lirih Reno tanpa ada satu orang pun yang mendengarnya. Bibirnya bergetar dengan napas yang terputus-putus. Ia merasa menyesal dengan hubungannya dan Sonya. Mungkin kalau dulu ia tidak terlalu terbuka dan menjadi dekat dengan Sonya, bisa jadi ceritanya akan lain. Mungkin Sonya tidak akan semakin masuk ke dalam lembah dunia gelap ini. Dan ia semakin menyesal, ketika kematian Sonya menjadi sebuah keributan besar dalam keluarga besar Sonya.

Seumpama dulu rasa dendamnya terhadap perempuan tidak ia lampiaskan pada Sonya, mungkin ceritanya tidak begini. Bisa jadi hubungan ia dan Sonya hanya sebatas persahabatan yang indah. Atau kalau boleh ia memilih bisa jadi hubungannya menjadi sebuah persaudaraan. Karena jauh di lubuk hatinya, ia tiba-tiba saja merasa jatuh cinta pada adik Sonya yang cantik itu. 

Tapi, mana mungkin?

Apa mungkin masih ada yang mempercayai perasaan terdalamnya.

Bagaimana dengan Sonya?

“Maaf kan aku Sony. Aku sudah salah menterjemahkan kebaikanmu. Aku sudah mengubah engkau dari seorang anak laki-laki pemalu menjadi seorang perempuan jadi-jadian, pelampiasan dendam nafsuku. Maafkan aku sahabatku, Sony Praja Kusuma,” bisiknya pilu.

Suara doa masih terdengar dari arah makam Sony Praja Kusuma. Reno berjalan menjauh dari makam itu. Ada penyesalan dalam yang tidak akan pernah hilang dari hidupnya.



-           TAMAT    -




Note : Seorang penulis memang harus menulis, meski hasilnya belum memuaskan hajar saja karena ini adalah jalan menuju tulisan yang lebih baik #Keep spirit Sist!






Salam,
Auntie 'eMDi' Dazzling




 

Senin, 10 Oktober 2016

Mencari Rd


"Whassap aja ya say!"
"Pesbuk aja bu, soalnya saya gak punya whassap." 
"Ok."

Lalu ia menuliskan nama pesbuknya Rd.

"Pokoknya, yang ada gambar hatinya."

Saya mengangguk tanda setuju. 


Begitu bodohnya saya menyetujui kata-katanya  tanpa berpikir lagi bagaimana jika saya tidak menemukan akun namanya itu. Di otak saya saat itu akan mudah mencari Rd di pesbuk, ternyata oh my ghost ada ribuan akun yang awalannya bernama Rd. Pusing.

Kenapa saya saat itu tidak meminta no ponselnya saja?

Selain ia, kenapa saya tidak memberi nama akun pesbuk saya padanya?

Atau saya beri nomor ponsel saya. Tapi kalau nomor ponsel saya sendiri saya tidak ingat. Huh, pret!

Kenapa saat itu tidak terpikir sampai ke situ???


Yang jelas, setelah kemarin mengikuti Workshop menulisnya mbak Asma Nadia itu, ada moment di mana saya di foto bersama Hilma Hariwijaya - Penulis Lupus, Penulis Skenario -  difotonya menggunakan ponsel teman sesama peserta worshop bernama Rita.

Kenapa juga di foto pakai acara memakai ponsel orang? 

Ceritanya begini, Pagi hari di hari Minggu tanggal 09 Oktober 2016 itu, sebenarnya semua keperluan yang harus saya bawa sudah lengkap semua. Cuma satu hal, saya sengaja men-charge- ponsel saya lebih lama agar saya tidak kehabisan batteray lagi seperti minggu sebelumnya. Maklum, saya tidak punya power bank. Jadi, persiapan nge-charge sengaja saya lama-lamain. Ceritanya sih biar awet. Tapi, kisahnya jadi lain waktu saya sudah berada di Transjakarta si Bus Way itu, saya baru teringat dengan ponsel saya yang masih menancap di colokan listrik. Damn! Saya lupa. Untuk balik lagi ke rumah, waduuh mana mungkin. Enggak worth it lah. Bisa-bisa bukannya dapat ilmu malah datang terlambat dan gak dapat apa-apa. Yaelah, rugi bandar!

Akhirnya dengan perasaan enggak enak banget, secara sudah terbayangkan bakalan enggak bisa foto-foto sama para pembicara hari itu, di antaranya : Hilma Hariwijya, Helvy Tiana Rosa (Penulis, Dosen), Alim Sudio (Penulis Skenario), Isa Alamsyah (Penulis), Agung Pribadi (Penulis)  (ssstt... minggu lalu belum sempat foto bareng sama mas Isa dan mas Agung padahal mereka eksis dari minggu lalu) akhirnya saya hanya bisa menyesal.

Workshop pun dimulai pukul.09.00 s/d 17.00 WIB  (Kenyataannya : Dimulai sebelum pukul 09.00 dan selesai lewat pukul 17.00,  hehe... itu namanya bonus. Asik kan. Jangan ngiri!)

Singkat cerita, menjelang lunch sesi foto dimulai, hohoho mau difoto gimana lha wong gak ada kamera pembidiknya. Jadilah saya minta difotoin oleh salah satu teman saya Rita. Selain saya minta difoto berdua bersama Hilman Hariwijaya, saya pun difoto bersama-sama dengan si pemilik ponsel. Tak lupa saya minta difoto bersama Helvy Tiana Rosa. Dan, yaa menyesalnya itu tadi hasil jepretan di ponselnya berakhir seperti cerita di atas. Beruntung, saya masih punya foto bersama mas Alim Sudio, mbak Helvy T.R., dan mas Isa Alamsyah dari Elin, teman saya yang lain. Sayangnya bersama mas Agung Pribadi saya tidak sempat berfoto. Ketiga foto itu dikirim Elin via whassap. Lumayan. Meski tidak puas. Secara foto-foto itu cuma berjumlah masing-masing satu dan hasilnya kurang oke.Tapi, saya tetap bersyukur karena masih bisa mendapatkan ketiga foto itu.

Writing Workshop yang diselenggarakan tanggal 2 dan 9 Oktober ini memang keren punya. Selain dapat ilmu dari pakar-pakarnya, saya pun dapat kejutan lain. Kejutannya adalah foto-foto unggahan mas Guntur di pesbuk.

Nah, kemarin saya mendapat foto-foto hasil unggahan ponsel-nya mas Guntur Soeharjanto (Sutradara) yang di minggu sebelumnya, tanggal 02 Oktober 2016 menjadi pembicara di writing workshop ini. Dan saya pribadi masih punya beberapa foto bersama mbak Asma Nadia, mas Guntur Soeharjanto di ponsel saya. Sayang, foto-foto itu masih tersimpan rapi di ponsel. Tapi, biar saya bisa mengingat terus acara workshop ini, foto-foto yang diunggah mas guntur akan saya bagi di sini. Meski di foto itu saya lagi ngapain gitu, enggak masalah, yang penting eksist, hehe.


Bersinggungan dengan orang pintar

Sibuk ngapain tuh gue?

Bisa-bisanya pake nengok segala!

Writing Workshop Asma Nadia 2016

Mendengarkan orang-orang pintar sedang bicara (ada anaknya mas Guntur)  ;
Asma Nadia, mas Guntur Soeharjanto & mas Isa Alamsyah :)



Note : Belajarlah dari ahlinya, maka kamu akan mendapat lebih.




Salam,
Auntie 'eMDi' Dazzling