Translator

Rabu, 01 Agustus 2018

"Man Jadda Wa Jadda"


Aku mau "A" maka jadilah. Ibarat mantra suci "Kun Fayakun" yang artinya "Jadilah maka terjadilah." Atau mantra suci “Man Jadda Wa Jadda” yang artinya "Siapa yang bersungguh-sungguh akan mendapatkan,"  begitulah yang terjadi dengan atasan saya, sebutlah si Boss, apa yang ia kehendaki pasti terlaksana tanpa seorang pun dapat menghalanginya.

Luar biasa! Pasti. Bagaimana tidak, semua yang ia inginkan akan terlaksana sesuai kemauannya tanpa ada seorang pun yang dapat mematahkannya even oleh  seorang direktur sekali pun.  Entah kekuatan apa yang ia miliki, pokoknya "Ruarrrr biasa!"

Di tempat saya bekerja hampir setiap akhir tahun perusahaan mengadakan sebuah acara, acara syukuran dan doa akhir dan awal tahun.

Ada yang menarik dari acara akhir tahun kali ini, biasanya acara akhir tahun diisi dengan doa, panggung hiburan dan ramah-tamah diakhiri dengan dibagi bonus tahunan, tetapi untuk kali ini berbeda, acara akan diisi dengan pembacaan al'quran dan saritilawah kemudian tausiah plus ada marawis. Yang keren, tausiah akan dibawakan oleh guru spiritualnya dan marawis dari kumpulan marawis di lingkungan rumahnya. Sebetulnya tidak ada yang buruk, yang terlihat kurang wajar justru semua acara adalah atas keinginannya sendiri. Dibuat, diputuskan dan dilaksanakan atas keinginannya sendiri, sedang masukan dari orang lain minggiiiirrr bang!

Pembacaan  al'quran, saritilawah dan tausiah adalah sesuatu yang baik. Lafalan doa dan pujian akan membawa kebaikan tentunya. Air putih yang dibacakan doa yang baik saja (doa dalam agama atau bahasa apa pun) akan bereaksi baik, apalagi acara tutup tahun ini pun diisi dengan doa, pastinya itu akan membawa kebaikan dan lebih afdol tentunya.


Kegiatan besutan si Boss ini tentulah adalah sesuatu yang baik, karena itu berarti ia lebih concern dengan yang namanya akherat dibanding duniawi. Yang jadi masalah, justru sekarang saya jadi bingung, semua orang menggunakan baju gamis sedang saya tidak, bagaimana saya bisa berkumpul di acara akhir tahunan ini jika semuanya tampak dibuat khusus untuk muslim sedang saya non muslim. tau ah gelap

Saya bingung!

Jika saya tidak ikut, kok sepertinya naif banget. Mau ikut juga jadi serba salah.

Saya bukan tipe orang yang menolak acara seperti ini, karena jauh sebelumnya di tempat kerja saya ini sering mengadakan syukuran yang diisi ceramah oleh seorang ustadz, saya sih sebenarnya no problem. Bisa duduk bareng, berkumpul mendengarkan ceramah dari ustadz dan mendengarkan ayat-ayat suci Al'quran yang dilafalkan oleh semua yang hadir. Saya menghargainya dengan duduk tenang dan mendengarkannya.


Sebenarnya tidak ada masalah yang krusial, cuma kok saya sangat penasaran saja dengan mantra-mantranya si Boss yang tokcer punya itu.

Jika si Boss bisa dengan fasih memantrakan matra suci "Man Jadda Wa Jadda," Maka saya harus melafalkan mantra suci “Man Shabara Zhafira,” yang artinya "siapa yang bersabar akan beruntung."


Dan semoga saya bisa sabar dan beruntung. Amin.


Aha, ini dia kalimat mandraguna yang menguatkan saya :

"mintalah, maka akan diberikan kepadamu;

carilah, maka kamu akan mendapat;

ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu."

~ Matius 7:7 ~


Note : Tulisan ini diambil dari : Blog saya yang lain 'Surat dari Auntie Dazzlling'

 

Salam,
Auntie 'eMDi '  Dazzling


Selasa, 24 Juli 2018

Hectic Day



God help me 💗




Today is Hectic 

I have to go!

Oh my ghost, it's a silly 👅










Salam, 
 
Aunti "eMDi" Dazzling







Kamis, 28 Juni 2018

Sayap Kiri


Beneran saya tidak ingin seperti 'dia'.

Siapa 'dia' ?

'Dia' posisi duduknya menghadap saya tapi tidak saling berhadapan, melainkan ia berada di posisi kiri saya dengan arah meja dan kursi menghadap saya. Sebut saja ini posisi 'sayap kiri'.

Posisi sayap kiri ini aura negatifnya sangat kuat. Almost every day kalau enggak salah wajahnya bak dipenuhi masalah. Rasanya yang namanya wajah happy itu bisa dibilang jarang singgah padanya, hanya sesekali saja wajahnya terlihat sumringah.

Tapi, tadi pagi ketika ia memasuki ruangan ia berucap salam cukup keras "Assalamu'alaikum" suara sapa salamnya terdengar meski saya sendiri belum melihat penampakan dirinya. Wouw wouw ... kemajuan nih, saya tersenyum dalam hati. Point 10 buat 'dia', 10 pahala kebaikan baginya. Coba kalau mengucap salamnya lengkap Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuhu wouw 30 point dong buatnya. Andai salam itu bisa meresap ke dalam hatinya, tidak hanya untuk orang yang diberi salam tetapi biarlah doa itu bisa membuat hatinya tenang, tentrem, damai loh jinawi. Amin.

Maaf tulisan ini bukan berniat menjelek-jelekan tetapi semacam keterkejutan saja.

'Dia' sekarang mulai pandai mengaji, dan pandai bertausiah, semoga kepandaiannya ini tidak membuat 'dia' menjadi pongah. Amin.



Note : Sebuah catatan di awal Desember 2015


Note : Tulisan ini diambil dari : Blog saya yang lain "Surat dari Auntie Dazzling"



Salam,
Aunti "eMDi" Dazzling


Rabu, 27 Juni 2018

Fase Kehidupan Baru


Pernah kepikiran gak, tiba-tiba saja lagi jalan-jalan ada orang yang menawari suatu tawaran menarik, yang ternyata tawaran tersebut adalah 'sesuatu' yang kita idamkan atau kita mimpikan sejak dulu?

Iya, pernah kepikiran seperti itu?

Kalau saya pribadi sih sering! 

Entah kenapa otak saya selalu 'menciptakan' adegan-adegan yang saya inginkan. Sebagai contoh, saya sering tuh ngebayangin ada orang tua kaya raya terus tiba-tiba ketemu saya, eehh dia menyukai saya - dalam artian bukan cinta lho - ia menganggap saya sebagai anaknya, terus saya dikasih mobil bagus deh! Hahhahaa.... itu sih maunya.

Atau, saya juga pernah kepikiran ketemu orang bule terus saya berbincang dengannya, kemudian ia bertandang ke rumah saya, ngobrol pakai bahasa Inggris, di scene itu bahasa Inggris saya oke banget! haha... itu mungkin mimpi saya yang belum tercapai ya, hingga saya sering punya pikiran seperti itu.

Ada juga saya kepikiran bisa keliling dunia, home stay bersama orang bule. Ngobrol cas cis cus Inggris, ah sedap banget!

Atau, saya ditawari menulis novel oleh sebuah penerbit papan atas, kemudian novel saya booming, lalu dibuat film, dan saya diundang diberbagai acara sebagai narasumber dari novel saya tersebut. Ah, sedap lagi!  ngayal boleh, tapi, jangan sombong deh!

Masih banyak "adegan2" dalam pikiran saya yang sering bersliweran dan berulang-ulang, persis kaset lawas yang disetel terus-menerus.

Oya, satu lagi, saya sering banget punya pikiran kalau my daughter ikut pertukaran pelajar, pertukaran pelajarnya ke Inggris, lalu orang tua ikut mendampingi. Dan, yang mendampingi anak saya itu tentu saja saya sendiri, hahaha itu emang mimpi besar saya.

Jika kelak dari pikiran-pikiran saya itu ada yang terwujud, apakah itu suatu kebetulan? Atau hidup memang rangkaian kebetulan-kebetulan yang sebenarnya sudah terangkai sejak kita ada?

Atau mungkin it's coincidence itu sebenarnya bukan coincidence sesungguhnya alias bukan kebetulan yang sebenarnya, tetapi mungkin itu merupakan hasil rangkaian passion hidup kita dari sejak dulu. Ya mungkin, sejak passion itu lahir dalam diri kita. 

Ngomong-ngomong, saya baru saja membaca artikel di metrotvnews.com tentang seorang perempuan berusia 56 tahun bernama Nicola Griffin yang didapuk menjadi  model di majalah Sports Illustrated Swimsuit Edition. Wow! Keren banget!

Bukan karena menjadi modelnya yang 'wow' itu, tetapi kesempatan yang datangnya tiba-tiba dan justru di usia yang tidak muda lagi, itu yang membuat saya takjub. Bagaimana tidak, di usianya yang sudah lewat setengah abad itu ia justru mendapat tawaran pekerjaan yang menakjubkan. Begini ceritanya, ketika ia bersama dua anak kembarnya sedang mengantre di sebuah Bank lokal, tiba-tiba, seorang Sales Promotion Girl (SPG) produk rambut menawarinya melakukan tes dan pemotretan untuk program kampanye yang akan dilakukan perusahaan tersebut. Tawaran ini menjadi gerbang baginya untuk menjadi seorang model. Dan setelah itu, tawaran-tawaran lain pun berdatangan padanya. 

Apakah ini sebuah kebetulan?

Saya rasa tidak, karena ternyata jauh sebelumnya ketika ia remaja ia sering mengeksplorasi pakaian, make up, menjajal dunia modeling, fashion show lokal dan melakukan pemotretan untuk produk renda Nottingham serta mengagumi David Bowie dan Bryan Ferry. Menurut saya, ini merupakan mata rantai dari passionnya yang terwujud justru di usia senjanya. Bisa dibilang sebenarnya kesempatan yang ia dapat sesuai dengan passionnya sejak muda. Secara tidak sadar sebenarnya si  Nicola Griffin ini sudah mempunyai passion di dunia ini, dan passion inilah yang menggiringnya mendapatkan pekerjaan menjadi seorang model. Misal ia tidak mempunyai passion di dunia modeling bisa dipastikan ia akan menolak tawaran yang ia dapatkan ini. Tetapi, karena pada dasarnya jiwanya berada di situ, maka ia mau menyambut tawaran itu dengan suka cita. Saya percaya, alam akan mendukung kita jika kita berada tepat di tempat yang tepat. Sama seperti alam mendukung Nicola Griffin mewujudkan mimpi masa mudanya.
 
Ini dia Nicola Griffin


Sekarang, saya mau mencoba berandai-andai.

Waktu saya remaja, saya sangat suka dengan membaca dan menulis cerpen, meski cerpen yang saya tulis itu hanya dinikmati oleh diri sendiri atau paling tidak dibaca oleh kakak perempuan saya yang usianya sedikit di atas saya atau oleh teman sekolah saya yang suka cengar-cengir sendiri membaca tulisan saya yang mereka anggap lucu. Maklum, waktu usia remaja tulisan-tulisan asal saya itu biasanya berkategori lucu dan bodoh. Menulis tentang orang bule yang tidak bisa berbahasa Indonesia dan orang Indonesia yang gak bisa bahasa Inggris, ceritanya tentu saja saya plintar-plintir dibuat lucu. Kadang pula saya terinspirasi dari novelnya Hilma Hariwijaya si penulis "Lupus" yang sedang top-topnya saat itu. Atau, saya membuat cerpen remaja setelah membaca cerpen di majalah Anita-Cemerlang misalnya, hahaha itu memang majalah tahun jebot sukebot tapi di situlah saya mulai tertarik menulis cerpen. Saya pernah menulis sebuah cerpen remaja, menurut saya sih sudah okay banget, tapi tiba-tiba kakak perempuan saya bilang, "Nih cerpen bahasanya bagus banget tapi ceritanya terlalu ringan," katanya. Mendengar pendapatnya saya hanya senyum-senyum saja, habis jaman dulu belum tahu bagaimana caranya membuat sebuah cerita. Coba kalau dulu saya sudah tahu tehnik menulis cerpen/novel, aahh rasa-rasanya hidup saya bak 1000 tahun saja. Saya juga pernah menulis sebuah cerpen kemudian saya kirim ke salah satu majalah, cerpennya saya ketik lho, jaman dulu kan belum ada komputer seperti sekarang. Eeh tunggu punya tunggu, kabar cerpen saya itu bagai ditelan bumi saja, tak ada kabar berita dari si penerbit, atau mungkin alamat rumah saya nyelip entah ke mana. Singkat cerita, saya melupakan cerpen saya itu, meski ada juga tersisa rasa galau, tapi gak sampai putus asa juga sih. Suatu hari saya membaca cerpen di majalah yang saya lupa nama majalahnya, rasanya cerita di majalah itu sama persis dengan cerpen yang pernah saya kirim ke satu majalah itu. "Sial, nih cerita sama bener dengan cerita gue," sungut hati saya. Meski hati saya tercabik-cabik tapi saya tak bisa berkutik, lha wong jaman dulu masih bingung gimana caranya menanyakan hal seperti itu ke si penerbit/majalah, meski rasanya itu cerita saya, tapi saya gak punya bukti otentik. Kan setelah saya ketik itu cerita, saya kirim cerita itu tanpa difoto copy terlebih dahulu, gak kepikiran ketik pakai double-an karbon dulu kek atau bagaimana gitu, pokoknya naif, bodoh bin stupid banget deh saya. Males banget ya ngomongin kebodohan masa lalu, meski saat ini masih bodoh juga hahaha. Oya seingat saya, waktu jaman SD dulu saya juga pernah menulis cerpen yang ceritanya agak aneh bin weird gitu, tentang seorang perempuan yang tubuhnya berubah ditumbuhi bulu, tapi saat itu saya belum pernah nonton film Wolf, besar kemungkinan inspirasinya menulisnya bukan dari situ, entah dari mana ide cerita konyol tersebut.

Dari hal-hal di atas, saya juga gemar bahasa Inggris. Sayang, Inggris saya jeblok. Kepingin ikutan kursus takut bilang sama nyokap, jangan-jangan bukan diberi ijin ikut kursus bahasa, yang ada malah dimarahi. Hahaha... maklum saja, saat itu biaya kursus untuk kantong ortu saya tergolong mahal, apalagi biaya hidup hanya nyokap yang tanggung karena ayah saya sudah tiada, jadilah saya belajar bahasa Inggris memakai jurus warisan guru bahasa Inggris saya, menghapal setiap kata-kata baru yang saya temui. Misal, jika saya pergi ke sekolah saya akan melewati beberapa gedung bioskop, nah guru saya bilang, "Coba kamu lihat judul film yang diputar hari ini, apa judul filmnya," katanya suatu hari, "Lalu kamu artikan judul film tersebut. Jika kamu tidak tahu artinya kamu lihat kamus apa arti judul film itu," petuahnya lagi panjang lebar pada kami murid-muridnya yang mendengarkannya sambil mengangguk-angguk tanda setuju, meski pada akhirnya bisa dipastikan hanya satu-dua murid saja yang melaksanakan petuahnya, salah satunya tentunya saya. Pada masa itu cinema paling sering memutar film luar berbahasa Inggris. Ketika saya di dalam bus DAMRI menuju sekolah SMAN 4 Bandung yang letaknya di jalan Gardujati itu, saya akan memilih duduk di sebelah kanan karena letak bioskop rata-rata sebelah kanan, jika saya harus duduk di sebelah kiri maka kepala saya akan tetap menengok ke arah kanan. Jadi, jika sekarang posisi kepala saya sedikit miring ke kanan enggak lurus, mungkin itu akibat saya terlalu banyak mengamalkan petuah guru saya, hahaha gak deng becanda. ^-^

Nah, dari rangkaian cerita saya di atas bisa ditarik benang merahnya dong, bahwa passion saya adalah MENULIS dan BAHASA INGGRIS. Meski begitu, sampai saat ini saya enggak jago-jago juga nulis maupun ngomong Inggris ckckc kemana saja sih bu?

Karena sekarang saya sedang berandai-andai ngayal dulu ya  jadi boleh dong saya mewujudkan semua impian saya itu. glek :)

Minggu lalu saya mendapat tawaran gratis home stay di negri Inggris bersama anak perempuan saya yang cantik dan cerdas itu, dan satu kejutan besar lainnya adalah saya mendapat tawaran menulis dari penerbit besar. "Yes, my dream come true!" teriak hati saya girang tiada tara. Seperti si ibu Nicola Griffin itu yang mimpinya terwujud justru di usia senjanya, saya pun mendapatkan tawaran-tawaran ini justru di usia saya yang ENGGAK muda lagi ini. Semua mimpi-mimpi saya itu terwujud. Wouw that's amazing! bim salabim abrakadabra

Tapi cerita barusan di atas itu baru khayalan saya saja belum kenyataan, kenyataan sesungguhnya tinggal selangkah di depan saya loh, hehe... hopefully i will. Make a wish, sist!

Andai saat ini semua passion saya bisa terwujud dan saya mempunyai kesempatan seperti si ibu bule itu, saya rasa itu memang destiny - takdir gue gitu - dan mungkin itu adalah rangkaian dari coincidence dan passion saya tentunya. Passion dan coincidence  itu tepat bertemu di satu titik yang dinamakan Destiny dan alam mendukung itu.

Itu fase kehidupan baru saya. Semoga. Amin. 



Note : Tulisan ini diambil dari : Blog saya yang lain "Surat dari Auntie Dazzling"





Salam,
Auntie 'eMDi' Dazzling


"Man Jadda Wa Jadda"

Aku mau "A" maka jadilah. Ibarat mantra suci "Kun Fayakun" yang artinya "Jadilah maka terjadilah." A...