Translator

Rabu, 30 November 2016

November Rain



Tak terasa hari sudah memasuki tanggal tigapuluh bulan November di tahun 2016. Hemm, rupanya hidup itu begitu indah dan membuat betah hingga tanpa terasa hari lepas hari berlalu begitu saja. Sayang sekali kalau hari-hari yang telah saya lalui itu hampir semua berlalu tanpa sebuah catatan. Rasanya jadi menyesal karena tidak mengenal budaya menulis sejak kecil. Dulu waktu SD saya tidak sempat mengenal yang namanya menulis diary, sayang budaya menulis itu tidak hadir di keluarga atau bahkan di lingkungan sekolah sekalipun. Yang saya tahu saat itu saya hanya gemar membaca majalah Bobo dan majalah remaja Gadis, milik kakak perempuan saya yang paling tua. Beruntung banget, saat itu saya sudah punya seorang kakak perempuan yang sudah bekerja dan hobby fashion. Karena gara-gara dia, saya dan salah satu kakak perempuan yang usianya tepat dia atas saya terkena imbas bisa membaca majalah yang ia beli. Jeleknya, kita sering berebut jika majalah baru itu datang.

Cerita tentang kegemaran membaca itu entah datangnya dari mana, yang jelas jika si majalah datang kita berusaha menjadi orang nomor satu yang membaca. Entah mengapa keinginan tahu pada masa itu gede banget. Rasanya enggak asik aja kalau bukan menjadi pembaca pertama majalah-majalah itu. Bahkan pernah di rumah ada satu bundel majalah tahunan, apa nama majalahnya saya lupa, yang abis kita baca bahkan bisa berulang-ulang membacanya, maklum gak punya bacaan lain. Haha, mungkin jaman dulu itu, untuk membeli majalah saja susah, hingga apa pun itu bentuk bacaannya akan dibabat habis.

Dulu, jika saya sudah membaca "Dongeng Oki dan Nirmala" di majalah Bobo, otak saya akan mengembara, berimajinasi seenak jidat. Jika dalam dongeng si Oki dan Nirmala suka duduk-duduk di awan, saya malah berimajinasi bahwa awan-awan itu adalah es krim. Dengan santai saya akan duduk di awan-awan itu sambil mencolek awan yang di mata saya berubah jadi es krim. Yummy! Ngiler banget dah kalau saya sudah berhayal seperti itu.

Selain Oki dan Nirmala tentunya banyak cerita-cerita lain yang menarik ; ada Juwita dan Si Sirik, Bona gajah kecil berbelalai panjang, Paman Kikuk, Husin & Asta, kisah Keluarga Bobo atau Arena Kecil dan Tak Disangka-nya Bobo, yang ceritanya tentunya menarik dan lucu. Bahkan, hanya membaca Surat Pembaca saja, pembaca selalu dapat sesuatu. Pokoknya selalu ada value dalam setiap rubriknya. Thanks ya Bo!

Dari kegemaran membaca itu sayangnya tidak dibarengi dengan kegemaran menulis. Bukan, maksudnya bukan tidak gemar, tetapi tidak mengenal budaya menulis. Menyesal sekali rasanya jika ingat itu. Andai, jika boleh berandai-andai, jika saja dulu sudah ada internet, atau minimal mengenal dunia menulis, waahh pastinya banyak cerita yang akan saya toreh di setiap perjalanan hidup saya ini. Meski cerita hidup saya itu sederhana, paling tidak itu bisa membuat kisah perjalanan hidup hadir sepanjang waktu jika saya tulis. Hingga kelak anak cucu saya bisa membaca kisah-kisah itu. Nyesel rasanya!

Stop dulu ah sesal-menyesalnya. Lebih baik saya mencoba mengingat jaman-jaman saya kecil dulu.

Ini cerita masa kecil saya. Suatu hari, waktu saya masih duduk di kelas dua SD sekitar bulan yang curah hujannya tinggi - ya, sekitar bulan November seperti sekarang ini -  saya berangkat sekolah dengan berbekal payung. Ya, saat itu meski tidak hujan saya harus membawa payung karena bulan November itu musim penghujan. Saya berangkat dengan berjalan kaki meski letak sekolah cukup jauh dari rumah. Sayang, belum lama saya berangkat hujan mulai turun, payung segera saya buka. Ternyata hujan turun cukup deras bahkan cenderung mengandung badai bagi saya yang anak kecil itu. Saya basah kuyup. Badan, tas yang kebetulan terbuat dari jalinan wool itu pun terkena guyuran hujan. Kan, bawa payung. Iya saya bawa payung, tetapi payung saya itu ternyata terbuat dari bahan kain bukan plastik, jadilah hari itu saya basah kuyup yup banget. Meski hujan, saya tetap berjalan terus menuju sekolah sambil kedinginan. Hujan masih turun ketika saya sampai di sekolah, belajar sudah dimulai. Saya terlambat. Saya masuk ke kelas dengan tubuh basah kuyup, saya duduk di kursi yang letaknya paling depan. Saya perhatikan tidak satu orang pun yang kebasahan apalagi kuyup seperti saya. Tampaknya hanya saya seorang yang terkena hujan dan basah basah basah... seluruh tubuh, ah ah ah mandi madu. Sorry kok malah nyanyi. Saya terduduk dengan tubuh menggigil. Guru saya seorang perempuan muda, ia menghampiri saya kemudian bertanya kepada saya. Saya tidak tahu apa pertanyaan ibu guru itu saat itu, yang saya ingat saya malah menangis sesegukan. Lalu saya lupa kejadian setelah itu, hahaha.

Basah, basah, basah, seluruh tubuh...!

Intinya, gak ada intinya sih, saya pernah mengalami pengalaman pahit seperti itu masa kecil dulu. Pengalaman seperti itu kata anak saya, Caca,  adalah pengalaman yang menyedihkan, seperti yang ia pelajari di pelajaran IPS-nya. 

Seperti kata Caca,  setiap orang punya pengalaman menyenangkan atau menyedihkan. Pengalaman itu adalah peristiwa yang pernah terjadi. Dan, peristiwa adalah kejadian yang luar biasa atau kejadian sehari-hari, ucapnya pintar.

Senin tanggal empat belas november lalu, Caca distrap oleh gurunya bersama sepuluh orang temannya yang lain. Ketika saya tanya, apakah itu merupakan pengalaman yang menyedihkan buatnya, ternyata jawabannya bukan. Saya kaget. Menurut dia, kejadian distrap di depan kelas lain itu adalah pengalaman yang menyenangkan buatnya. Kok bisa? tanya saya padanya penasaran. Ia mom, soalnya aku jadi bisa bertemu dengan teman-teman kelas IB ku dulu, katanya sambil tersenyum senang. Dari pancaran matanya saja saya bisa melihat ke-genuine-an kata-katanya. Saya takjub melihat sisi polosnya seorang kanak-kanak. Pancaran cerianya tulus dan tidak pernah dibuat-buat. Saya hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Distrap kok malah senang. Kalau kejadiaannya itu terjadi pada saya, bisa mewek bombay saya, malu berat pastinya.

Anak-anak yang distrap. Yang mana Caca? Gak ada, hehe *pinjem google

Malamnya, saya bertanya padanya apa yang membuat ia distrap bersama sepuluh orang teman laki-laki lainnya itu. Menurut dia, teman laki-lakinya itu ngata-ngatai dia, katanya begini ; Caca Marica hai hai, Caca Marica hai hai, pantatnya robek digigit bebek, mereka bernyanyi sambil berlarian di kelas, dan tanpa berdosa ia balas mengejar teman-temannya tersebut. Jadilah kelas menjadi gaduh. Kemudian ibu guru menyetrap kesepuluh anak laki-laki  dan satu murid perempuan yang gaduh tersebut untuk distrap di kelas IIC, sedang mereka adalah murid kelas IIB. Begitu ceritanya. Terus bu guru bilang apa, tanya saya lagi. Bu guru baik mom, semua anak laki-laki temanku itu harus minta maaf sama aku, aku salaman sama mereka sambil tersenyum-senyum, katanya dengan lucu. Oh itu toh pengalaman menyenangkan buat kamu. Woow... so sweet my dear :)

Cerita, saya dan anak saya itu jadi berbeda ending ceritanya. Cerita saya menyedihkan, sedang baginya pengalaman distrapnya itu menyenangkan. Jika diambil kesimpulan, pengalaman baik atau buruk itu bisa dianggap menyenangkan atau menyedihkan tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Mungkin jika kejadian kehujanan saya itu yang mengalami adalah anak saya, bisa jadi akhir ceritanya malah menyenangkan. Karena anak saya itu tipikal anak yang ceria, mungkin kehujan itu malah membuat ia merasa diperhatikan oleh gurunya dan teman-temannya. Sedang saya? Saya malah merasa malu dan nelongso. Hahaha... pret banget deh gue!

Segitu dulu deh cerita November Rain-nya, soalnya bulan novembernya dah mau habis. See you :)


Jakarta, 30 November 2016





Note : Seorang penulis memang harus menulis, meski hasilnya belum memuaskan hajar saja karena ini adalah jalan menuju tulisan yang lebih baik #Keep spirit Sist!




Salam,
Auntie 'eMDi' Dazzling


Youth Has No Age

Semangat Muda! Entah karena alasan apa, setiap saya pulang dari arah kebayoran lama ke arah Mayestik, tepatnya entah di sekitar ...