Translator

Kamis, 10 November 2011

Dear Pahlawanku : Teruntuk Pak Isa Alamsyah

Jakarta, 10 Nopember 2011

Kepada Yth : Pak Isa Alamsyah


Salam hangat,

Pak, hari itu saya mendadak membuat satu akun blogger. Bapak tau tidak, saya awam tentang dunia maya, intinya saya gagap tehnologi alias "gaptek". Saya juga sebenarnya tidak mengerti sama sekali tentang dunia tulis-menulis, terlebih menulis di sebuah blog. Sehari sebelumnya, saya baru membaca satu tulisan bapak di group "Komunitas Bisa" yang berjudul "Haji 28 Kali".  Dari tulisan bapak itulah yang mendorong saya, untuk membuat satu blog, sebuah blog yang mungkin bisa menyalurkan pikiran-pikiran saya atau curahan hati saya atau mungkin pengalaman hidup saya.

Pak, tulisan bapak itu sungguh luar biasa, memotivasi saya untuk mulai menulis.. Percaya atau tidak, hati dan jiwa saya bergetar saat saya selesai membaca tulisan bapak. Otak saya dipenuhi keinginan menulis, jiwa saya sangat bersemangat pada saat itu. Saya baru sadar,  ternyata sebuah tulisan bisa sangat berpengaruh pada jiwa-jiwa pembacanya. Saya seperti menemukan pintu keluar dari kegelapan, yang membelenggu saya selama ini.
Saya ibarat sebuah rumah yang tertutup rapat, dan kini memiliki pintu yang baru bisa terbuka. Pintu yang bisa membawa saya melihat dunia atau bahkan mengubah dunia.

"Buatlah minimal satu buku dalam hidup" itu adalah motivasi yang telah bapak tularkan pada saya. Saya sadar, saya bukanlah seorang penulis, yang mungkin  bagi seorang penulis "menulis" satu  buah buku mungkin bukanlah pekerjaan sulit, tapi bagi saya ini adalah suatu pekerjaan rumah yang panjang, ya pekerjaan rumah yang entah kapan bisa saya selesaikan. Satu hal yang bisa saya kerjakan adalah hanya memulainya dengan menulis di blog, mungkin kelak jika saya telah mumpuni dalam menulis saya bisa membuat buku. Insya Allah.

Pak Isa Alamsyah yang saya kagumi, terimakasih bapak telah menjadi Pahlawan di hati saya, bapak telah melepaskan saya dari belenggu ketidak berani dalam menulis atau ketidak beranian dalam mengungkapakan pikiran-pikiran saya, sebab karena bapaklah saya bisa terbebas dari keterbelengguan. Mungkin "satu buku" dalam hidup adalah pekerjaan rumah yang  harus diselesaika, agar kelak saya bisa "hidup abadi" melalui buku tersebut. Seperti kata bapak, buku adalah warisan harta yang abadi, dan saya ingin bisa mewariskan harta abadi tersebut pada anak cucu saya kelak.

Bapak Isa Alamsyah yang terhormat, dibawah ini adalah tulisan bapak yang pernah bapak posting di "Komunitas Bisa", karena saya tidak ingin mengurangi atau menambahkan isi dari tulisan bapak tersebut, saya sertakan tulisan bapak tersebut disini, begini bapak menulis :


Isa Alamsyah 22 Oktober 2010 jam 16:45
 
Haji 28 kali

Saya mengenal seorang pembimbing Haji yang sangat bijak.
Usianya baru 50 tahunan tapi sudah pergi haji sebanyak 28 kali.
Tidak salah dengar? Tidak ini benar, bahkan kalau ditambah umrah mungkin sudah 50 sampai 70 kali bolak balik ke tanah suci, karena dalam setahun bisa dua atau tiga kali ke tanah suci jika dihitung dengan umrah.
Bisakah Anda bayangkan betapa banyak pengalaman yang sudah dilaluinya.
Betapa banyak hal bisa kita tanyakan dan kita pelajari darinya.
Saya pun sering memanfaatkan waktu untuk bertanya jika kebetulan bertemu dengannya.
Tapi sayang, jika Anda punya list pertanyaan kini dia tidak bisa menjawabnya.
Kenapa? Beberapa bulan lalu ia telah pergi menghadap-NYa.
Ketika melayat saya merasa sedih, bukan saja karena kehilangan dia,
bukan saja karena Indonesia kehilangan salah satu ulama besar,
tapi lebih dari itu, hampir semua ilmu, pengalaman dan pengetahuannya ikut hilang terkubur.
Kenapa?
Karena ia tidak menulis. Tidak ada pikiran dan ucapannya yang dibukukan.
Menulis membuat kita abadi , membuat kita tetap hidup sekalipun kita telah dikuburkan.
Saya sebenarnya sudah menyiapkan ia untuk menjadi narasumber buku guide praktis haji yang sedang kita susun akan tetapi sayang, Allah sudah memanggilnya.
Saya percaya ada ilmu yang tersisa, ada pelajaran yang disampaikan ke anak dan murid-muridnya, tapi jika tertulis maka tidak ada degradasi ilmu karena semua berasal langsung dari sumbernya.

Bagaimana dengan Anda?
Anda mungkin orang tua yang sukses mengubah anak bandel menjadi alim.
Anda mungkin guru yang sukses membuat murid rusuh menjadi pemimpin.
Anda mungkin pegawai yang sukses berkarir dari bawah.
Mungkin Anda menjadi kaya walaupun dari keluarga miskin dan berjuang keras untuk sukses?
Mungkin Anda adalah pahlawan hidup yang dicari banyak orang
Tapi semua itu hanya menjadi kabar angin, dan akan hilang perlahan jika Anda tidak menulis.
Semua akan terkubur dan mulai pudar sedikit lebih lama dari pudarnya tubuh kita dalam tubuh.
Apakah ingin dikenang?
Apakah Anda ingin hidup dalam keabadian ilmu.
Apakah sejarah Anda hanya ingin tertulis di batu nisan atau lebih dari itu?
Bukankah amal jariyah adalah amal yang tetap mengalir sekalipun kita meninggal. 
Dan menulis adalah satu satu ilmu yang terus mengalir.
Tulislah pengalaman Anda, buatlah buku, buatlah diri Anda abadi.
Jangan biarkan orang lain mengalami kesalahan yang sama dengan kita.
Beri petunjuk orang lain agar hidupnya lebih mudah.
Selama kebaikan yang Anda sebar, maka amal akan mengalir.
Buatlah setidaknya satu buku, selama Anda masih hidup!
Satu buku, minimal.
Hidup hanya sekali, satu buku bukan target yang berlebihan.

Semoga tulisan bapak ini, bisa menyebarkan energi positip dan menular kepada setiap yang membaca.
Terimakasih saya ucapkan, buat pahlawanku bapak Isa Alamsyah.

Salam dari saya,
Cha2




Postingan ini diikutsertakan dalam Kontes Dear Pahlawanku yang diselenggarakan oleh
Lozz, Iyha dan Puteri” 









                  

Senin, 07 November 2011

Utamakan yang Utama









"Shalat dulu" itu kalimat yang keluar dari mulut teman saya Anies Cavalera, ketika saya tanya jam berapa dia mulai memasak.
Gak nyambung  ???  nanti dulu ...........

Siang itu, saya dan beberapa teman (Anies,Anyi,Anita & Aan ... hehehe gak sadar kok namanya berawalan A semua) makan siang bersama di kantor. Saat itu, teman saya yang bernama Anies membawa beberapa jenis masakan. Kami berlima makan siang dengan lahap, sampai-sampai kami kekurangan nasi (waah ini sih pada "lapar" atau memang pada "rakus"  hehehe gak atu ah!).
Disela-seala kenikmatan makan siang inilah, keluar pertanyaan dari saya yang menanyakan "jam berapa sih dia mulai memasak ?", teman saya ini menjawab dengan penuh keyakinan , "gue masak setelah Shalat Dulu (Shalat subuh maksudnya), baru deh gue mulai melakukan aktifitas lainnya".










Sebuah jawaban yang tidak pernah saya duga sebelumnya.

Tadinya saya pikir, sambil menunggu datangnya adzan subuh dia memasak dulu, kemudian mandi dan baru shalat, ternyata perkiraan saya itu meleset.
Prinsip teman saya "pekerjaan akan menjadi lebih mudah dan cepat terselesaikan" jika dikerjakan setelah dia melakukan shalat terlebih dahulu, jika tidak menurutnya semua pekerjaan menjadi berantakan  ......   (setuju banget ***)

Saya jadi teringat dengan sebuah semboyan "Ora et Labora  .... Berdoa dan Bekerja", rasanya teman saya ini mempunyai prinsip yang sama dengan semboyan ini  (saya juga :D).
Disini saya seperti diingatkan Tuhan melalui teman saya ini, untuk lebih mengutamakan-Nya daripada melakukan hal-hal lainnya.
Sebuah pencerahan.
Ada keyakinan, jika kita mengutamakan Tuhan, Tuhan ada menjadi *garda kita.


Sebuah pelajaran berharga disela-sela makan siang.








* garda : Pengawal /Pelindung







Salam


























Kamis, 03 November 2011

Jangan Mudah Tertipu



Hari ini pokoknya saya pingin menulis, menulis apa saja yang terlintas di pikiran. Ide tidak ada tapi keinginan menulis ini cukup besar  .... hmmmm apa ya yang bisa saya tuangkan di sini ( still no idea - dizzzyy***).

Dari kemarin saya mulai getol lagi buka twitter , jarang sekali saya buka twitter alasan utamanya adalah karena saya kurang mengerti  cara ber-twitter ria seasik ber-pesbuk yang jadi maskot utama  saya ... hehehe.
Di twitter saya bertemu dengan my niece Mega Kristiani namanya, dia bercerita ada kejadian lucu di Fery's home, begini ceritanya : ada telpon ke rumah yang mengatakan Fery  kecelakaan dan si penelpon minta di transfer uang sebanyak Rp.8 juta untuk biaya Rumah Sakit, kontan seisi rumah  (saat itu yang ada  : ibu,ayah,tante-nya Fery) shock dan bersedih, dalam keadaan masih khawatir,takut & bingung akhirnya diputuskanlah ayahnya Fery pergi ke sekolah dimana Fery bersekolah untuk memastikan keberadaannya. Sampai disekolah setelah bertanya pada guru disekolah dan dipastikan tidak ada kejadian kecelakaan yang menimpa murid mereka dan murid-murid pun sudah pulang lima menit sebelum kedatangan ayahnya Fery, akhirnya dengan perasaan masih tak tenang pulanglah si ayah, sampai di rumah tidak ada satu orangpun yang tampak selain suara petikan gitar  dari arah atas rumah, setelah masuk si ayah celingukan sambil menghampiri arah datangnya suara gitar dan ternyata sang pemain gitar adalah Fery .Gubbraakk !!

Penipuan. Ya, itu adalah salah satu bentuk penipuan yang mengatasnamakan suatu institusi tertentu, dan masih banyak  lagi penipuan yang menggunakan institusi lainnya ,beruntung keluarga Fery belum mentransfer dana seperti yang diminta sang penipu.Kejadian seperti ini banyak terjadi di masyarakat, dengan dalih kecelakaan para penipu meminta si korban untuk mentrasfer sejumlah uang, ada banyak orang yang sudah tertipu dan uangnya habis digondol penipu.

Dari kasus diatas kita bisa melihat, bagaimana jika kita dalam kondisi : takut,khawatir,tertekan mudah sekali tertipu dan tak berdaya. Nalar kita mendadak mandek.
Hal seperti ini bisa saja terjadi pada siapa saja, bisa pada anda atau pada saya sendiri. Ya, siapapun juga bisa mengalaminya.Yang menjadi permasalahan adalah bagaimana kita bisa menyikapi hal-hal seperti ini dengan nalar yang baik sehingga kita tidak mudah tertipu daya.

Yuk kita coba bahas, hal-hal apa saja yang harus kita lakukan jika terjadi pada diri kita, agar kita tidak terjebak dengan hal-hal yang tidak kita inginkan :

1. Pastikan dari siapa atau darimana asal telpon.
2. Cobalah bersikaplah tenang
3. Jangan mentrasfer sepeserpun juga uang yang diminta si penelpon
4. Hubungi via telpon orang yang dikabarkan terkena kecelakan tersebut
5. Jika orang yang dikabarkan terkena kecelakaan tidak bisa dihubungi, hubungi orang-orang yang kita anggap tau keberadaannya
6. Jika kita buntu tidak bisa mendapatkan kepastian keberadaannya, hubungi rumah sakit yang dikatakan si penelpon
7. Pastikah apakah ada nama korban kecelakaan atas nama keluarga kita
8. Jika memang ada jangan serta merta mentrasfer dana yang diminta si penelpon, tapi datangilah rumah sakit yang dimaksud
9. Pastikan apakah nama orang yang dimaksud adalah benar anggota keluarga kita
10. Tetaplah bersikap tenang dengan situasi apapun yang terjadi, sehingga tindakan yang kita lakukan tepat dan terkendali, nalar kita bisa bekerja dengan baik.


Ini mungkin hanyalah sedikit rambu-rambu bagi kita, sehingga kita tidak terjebak oleh tipu daya. Semoga tulisan ini bisa mengingatkan kita untuk lebih waspada dalam menghadapi situasi yang tak terduga. 


 Salam



Selasa, 03 Mei 2011

Keluargaku


Tiba-tiba saja aku teringat masa kecilku, yang kuhabiskan di kota Bandung. Aku berasal dari keluarga besar ya... benar-benar "Big Family", anggota keluarga kami seperti kesebelasan sepak bola saja, seluruhnya ada sebelas anak dan ditambah kedua orang tuaku menjadi tiga belas orang (hehehe ... coba bayangkan sejenak betapa ramainya rumah kami dengan jumlah anggota keluarga yang sebegitu banyak).

Aku anak kesepuluh dari sebelas bersaudara, yang tertua kakak laki-laki selebihnya perempuan dan satu adikku laki-laki, jadi kami diapit oleh dua orang laki-laki.
Ya, keluarga kami layaknya asrama putri dengan dua pengawal  ... hehehe.

Ayahku adalah seorang anggota Militer Angkatan Udara dengan pangkat Letda.
Ayahku tipe seorang pendiam,manut dan tidak banyak protes. Ia seorang yang sangat jujur dan baik hati, bahkan karena kepolosannya ada saja orang yang memanfaatkan kebaikannya, kalau sudah begitu biasanya kami anak-anaknya - maksudku kakak-kakakku - karena aku masih kecil saat itu akan ribut membahas kepolosan ayah kami yang kami anggap sebagai kebodohan. Sebenarnya mereka bukan tidak suka ayah berbuat baik pada orang lain, yang menjadi persoalan karena orang yang memanfaatkan ayah itu biasanya  sangat merugikan pihak ayah (baik bentuk materi & immateri) dan setelah itu merekapun tidak ada ucapan terimakasihnya, kalau ingat itu, aku juga ikut gemes deh sama kebaikan ayah. Tapi itulah ayahku, seorang jujur dan  penuh kasih.

Ibuku seorang ibu rumah tangga biasa yang luar biasa, karena beliau bisa mengurus keluarga besar kami dengan sangat baik (sungguh aku sangat kagum sama beliau hingga detik ini). Ibuku seorang tipikal tegas, bahkan ibu saat itu kami kategorikan ibu galak. Padahal sih kalau sekarang, aku baru mengerti dari semua maksud tindakan ibu, ibu menginginkan anaknya mandiri dalam hidup, thanks mom.

Anggota keluarga kami memiliki tempat lahir yang berbeda-beda  - sesuai ayah bertugas saat itu tentunya - ada yang lahir di Yogyakarta, Kalijati, Makasar,dan tentunya kota Bandunglah yang paling banyak - kota terakhir ayah bertugas - dan tentunya disitu juga aku lahir.

Hidup dan dibesarkan dengan dua orang yang memiliki karakter yang berbeda membuatku belajar mengenal perbedaan sifat dari mereka. Sifat tulus dan lemah lembut kudapat dari ayahku, sedangkan sifat tegas,cerdas & tajam dalam berfikir kudapat dari ibuku, sungguh dua sifat yang sangat bagus jika aku miliki semuanya itu.

Saat ini kedua orang tuaku sudah berpulang ke haribaan. Aku rindu kalian, ayah ibu. Semoga kami anak-anakmu bisa mengambil sisi baik dari kalian berdua. Amin



Salam,
eMDi



Rabu, 20 April 2011

" Penulis "


Waaah ingin banget saya jadi penulis ... ya saya pingin bisa menulis kemudian jadi penulis, tapi tampaknya menjadi penulis itu ga gampang ya bahkan cenderung sulit.
Kalau begini apa mungkin impian untuk jadi seorang penulis itu terwujud ?? (but ... hmmm  who knows ya hehe...?)

Saya pernah membaca sebuah tulisan seorang  penulis (maaf saya lupa nama penulis-nya), dia bercerita bahwa saat dia menulis artikel tersebut dia sedang berada disebuah restoran di pinggir pantai (wow ... betapa nikmatnya jadi penulis, bisa bekerja dimana saja tanpa harus dibatasi ruang dan waktu.... gile saya ngiri tenan rek!), asal tau saja dia bukan seorang lulusan dari sastra apa gitu ... tapi dia justru sarjana tehnik lulusan Institut Teknologi Bandung  .....(wah .. ternyata pekerjaan seseorang dikemudian hari kadang bisa melenceng jauh dari latar belakang pendidikannya loh ... hmm sebuah masukan bagus nih buat kita, jadi apapun latar belakang kita tidak menutup kemungkinan kita bisa jadi apa yang kita minati termasuk menjadi seorang penulis tentunya).

Membaca artikel si penulis ini sungguh membuat saya tambah "bersemangat" untuk belajar menulis, menurut beliau "bekerja sebagai penulis itu sangat menyenangkan dia bisa bekerja dimana saja,kapan saja dan menulis apa saja", kata beliau jika kita ingin mempertajam "tulisan" yang kita buat, kita dianjurkan untuk sering-sering membaca tulisan orang lain, perbanyaklah referensi even bahasannya sama dengan orang lain tetapi dengan tingkat referensi /pengetahuan yang berbeda yang dimiliki akan menghasilkan bobot tulisan yang berbeda (Note : saya menulis ini hanya berdasarkan daya ingat saya saja, jadi jika ada hal yang kurang sesuai dengan apa yang ditulis oleh sang penulis saya mohon maaf, dimana saya membaca tulisan beliau tersebut sudah cukup lama dan saya-pun sudah lupa kapan,dan dimana saya membaca tulisan tersebut, yang ada dalam memori saya hanya point yang dimaksud si penulis, maaf). 

Saya sangat interest dengan tulisan penulis ini, sayang saat itu saya tidak segera menyimpannya atau apalah untuk bisa membaca dan melihat kembali tulisan beliau tersebut (sayang sekali saya melupakan hal itu ..  waah menyesal sekali saya !)

Sepertinya saya harus mulai dengan langkah awal yaitu dengan memperbanyak membaca tulisan orang lain dan tentunya banyak menambah pengetahuan saya sehingga kelak jika saya menulis  sebuah "tulisan" meskipun orang lain menulis dengan bahasan yang sama pasti akan berbeda hasil akhirnya (ya ... semoga saja, harapan saya sih seperti itu ya hehe ...)


Note : Terimakasih banyak buat penulis yang telah banyak mengispirasi saya.



Salam
MyeMDi




Jumat, 18 Maret 2011

Piring = Talenta

Membaca article seorang teman bu yeanny tentang "satu piring" , yang menceritakan tentang seorang pengemis yang hanya memiliki harta CUMA sebuah PIRING selama hidupnya hingga ia tua dan mati dan ia tidak pernah tau bahwa piring itu BERNILAI TINGGI    -   sungguh sangat tragis.

Dalam kisah ini diceritakan bahwa Si pengemis tua ini setiap hari hanya mengandalkan piring tersebut untuk mencari sesuap nasi  dan pada petang hari ia akan membersihkan piring tersebut dengan harapan jika piring tersebut bersih pasti nanti ada rejeki untuknya hari itu.
Kehidupannya-pun berlalu begitu saja tanpa ada peningkatan hingga ia mati dan kematianya tersebut mendorong seorang ilmuwan/sejarawan untuk meniliti piring peninggalan sang pengemis, dan tak disangka ternyata piring tersebut peningalan Kaisar China yang bernilai tinggi.
Sungguh tragis-kan bahwa selama hidupnya ia tidak pernah tau bahwa ia memiliki harta yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan hidup-nya tanpa harus ia berkesusahan sepanjang hidupnya.

Disini saya memiliki sedikit sisi pandang yang berbeda dalam mengambil kesimpulan cerita tersebut.  

Piring disini bisa kita anggap TALENTA, ya setiap orang pasti memiliki talenta  - disadari atau tidak .
Talenta bisa tergali atau terkubur tergantung bagaimana kita mau membawa kemana talenta yang kita miliki.
Berkaca dari si Pengemis , kita bisa melihat betapa ia tidak mengenali barang berharga yang ia miliki - ia hanya menggunakan satu fungsi dari piring tersebut,  ya itu tadi  "untuk mengemis"  -  maka ia sama sekali tidak berusaha mencari fungsi2 lainnya, ia tidak berusaha mencari tau seberapa berharganya NILAI JUAL   piring tersebut  - So terrible -

Sama seperti kita, terkadang kita tidak menyadari talenta dalam diri kita sendiri, kita terpaku pada satu fungsi dari talenta yang kita miliki dan parahnya kadang kita mempercayai bahwa "Kemampuan/Talenta"  kita hanya sampai disitu - stuck - tanpa berusaha menggalinya lebih dalam  -  itu sama saja dengan pengemis tadi  -   is that right ?
Jika kita ingin mengetahui seberapa besar talenta kita cobalah kita memulai dengan Mengenali-nya kemudian Menggalinya dan Meningkatkannya setelah semua itu, kita akan tau bahwa kita memiliki PIRING/TALENTA yang BERNILAI TINGGI  -  sama seperti si pengemis .. sayang ia tidak tau  -  dan jangan pernah membiarkan talenta yang ada pada kita itu terkubur bersama dengan berlalunya hidup kita  -  Oh No ... ! 

Perlu diingat, jika kita memilki sesuatu pada diri kita, cobalah kenali,gali,dan tingkatkan jangan sampai setelah kita   -  passed a way - orang lain-lah yang mengetahui sebenarnya kita punya talenta yang luar biasa yang kita tidak pernah tau, dan itu tentunya sudah tidak berguna lagi buat diri pribadi  - hahaha sure  itu berguna buat orang lain yang menemukannya ....  tapi at least berguna buat diri kita sendiri juga tentunya ... ya jangan sama seperti si pengemis tadi  -  That's so terrible.

  
Catatanku :
"Kenali talentamu,kemudian gali,dan tingkatkan" 
Mulailah mengenali talenta diri, jangan biarkan hidup menderita karena tidak mengetahui talenta yang dimiliki.


Salam
eMDi



Senin, 14 Maret 2011

Ketertekanan menimbulkan Keberanian

Keinginan untuk mati itu ternyata sempat juga menghampiriku ... duuuhh Gusti maafkan hambamu ini.
Ketika sebuah persoalan begitu "MENGUASAI" diri kita dan kita tidak bisa "MENGENDALIKAN-nya" sungguh sebuah keberanian memilih mati itu bisa lebih "BERKUASA" dibandingkan menghadapi persoalannya yang belum tentu akan seberat yang dibayangkan.

Sebenarnya kata "BETTER I'M KILLING MY SELF" itu sebenarnya hanya lucu-lucuan saja kalau sedang ber-pesbuk- ria dengan teman-teman pesbuk di English forum, tapi ketika sebuah persoalan yang sebenarnya juga bukan kesalahan pribadi (bukan bermaksud meng-EXCUSE-diri) tapi kerja tim work tetap saja rasa bersalah yang terbesar ada padaku ... ya mungkin responsibility-nya ada padaku.

Aku bahagia karena mempunyai teman "REAL" yang senantiasa meng-supportku (thanks ya buat Anyi,Puput) dan beberapa teman pesbuk-ku yang kadang kujadikan "Tempat Sampah" untuk menampung segala keluh kesahku (thanks buat Nohara Sinosuke, John Kinami) buat support-support kalian yang sungguh menguatkan-ku.

Keberanian untuk mati itu tiba-tiba saja muncul dibenakku ketika aku merasa persoalannya begitu berat dan tidak ada jalan keluarnya, aku cuma bisa melihat celah kecil yang tidak bisa kulewati sama sekali .... dimanakah PINTU itu atau bahkan hanya JENDELA-pun jadi asal aku bisa KELUAR dari RUANG GELAP ini ... ataukah ini sebuah LABIRIN ?  Oh no .... aku tidak bisa menemukan jalan keluar dari labirin ini ... , My Lord help me ... !!!

Sebuah KEBERANIAN timbul karena masalah yang sangat MENEKAN ........................................... !!!!
Ternyata untuk mati itu mudah (ini kesimpulanku) setelah kutelaah semua yang terjadi, yang menjadi sulit justru orang-orang yang ditinggalkan tentunya dengan berbagai macam pertanyaan yang ada di benak mereka mengapa itu orang memilih mati padahal masih banyak cara untuk jalan keluarnya.

Rasanya punya pengalaman ini bagus juga setidaknya kita ambil segi positipnya saja .... !

Kesimpulannya adalah :
" Jika kita dalam kondisi TERTEKAN kadang kita malah BERANI mengambil suatu RESIKO "
Resiko baik atau buruk tergantung kita mau mengambil langkah apa dan resikonya bagaimana.

Semoga tulisan ini mengingatkan saya terutama dan kita semua untuk bisa melihat segi positip dari segala masalah.

Salam
MyeMDi

Selasa, 22 Februari 2011

Minimal Satu Buku

Terispirasi dari group "Komunitas Bisa" tulisan Bp. Isa Alamsyah tentang pentingnya kita menuangkan sesuatu dalam bentuk tulisan mengispirasi saya untuk mencoba membuat blog yang saya sendiri masih awam tentang tulis menulis apalagi bentuknya blog seperti ini.
Karena saya belum mempersiapkan materi apa yang akan saya tuangkan disini, saya mencoba membagikan tulisan dari Bp. Isa Alamsyah yang sangat "Inspiratif" yang saya copas dari tulisan beliau di group Komunitas Bisa. 
Berikut adalah tulisan beliau yang semoga bisa mengispirasi kita semua.

Isa Alamsyah 22 Oktober 2010 jam 16:45
Haji 28 kali
Isa Alamsyah

Saya mengenal seorang pembimbing Haji yang sangat bijak.
Usianya baru 50 tahunan tapi sudah pergi haji sebanyak 28 kali.
Tidak salah dengar? Tidak ini benar, bahkan kalau ditambah umrah mungkin sudah 50 sampai 70 kali bolak balik ke tanah suci, karena dalam setahun bisa dua atau tiga kali ke tanah suci jika dihitung dengan umrah.
Bisakah Anda bayangkan betapa banyak pengalaman yang sudah dilaluinya.
Betapa banyak hal bisa kita tanyakan dan kita pelajari darinya.
Saya pun sering memanfaatkan waktu untuk bertanya jika kebetulan bertemu dengannya.
Tapi sayang, jika Anda punya list pertanyaan kini dia tidak bisa menjawabnya.
Kenapa? Beberapa bulan lalu ia telah pergi menghadap-NYa.
Ketika melayat saya merasa sedih, bukan saja karena kehilangan dia,
bukan saja karena Indonesia kehilangan salah satu ulama besar,
tapi lebih dari itu, hampir semua ilmu, pengalaman dan pengetahuannya ikut hilang terkubur.
Kenapa?
Karena ia tidak menulis. Tidak ada pikiran dan ucapannya yang dibukukan.
Menulis membuat kita abadi , membuat kita tetap hidup sekalipun kita telah dikuburkan.
Saya sebenarnya sudah menyiapkan ia untuk menjadi narasumber buku guide praktis haji yang sedang kita susun akan tetapi sayang, Allah sudah memanggilnya.
Saya percaya ada ilmu yang tersisa, ada pelajaran yang disampaikan ke anak dan murid-muridnya, tapi jika tertulis maka tidak ada degradasi ilmu karena semua berasal langsung dari sumbernya.

Bagaimana dengan Anda?
Anda mungkin orang tua yang sukses mengubah anak bandel menjadi alim.
Anda mungkin guru yang sukses membuat murid rusuh menjadi pemimpin.
Anda mungkin pegawai yang sukses berkarir dari bawah.
Mungkin Anda menjadi kaya walaupun dari keluarga miskin dan berjuang keras untuk sukses?
Mungkin Anda adalah pahlawan hidup yang dicari banyak orang
Tapi semua itu hanya menjadi kabar angin, dan akan hilang perlahan jika Anda tidak menulis.
Semua akan terkubur dan mulai pudar sedikit lebih lama dari pudarnya tubuh kita dalam tubuh.
Apakah ingin dikenang?
Apakah Anda ingin hidup dalam keabadian ilmu.
Apakah sejarah Anda hanya ingin tertulis di batu nisan atau lebih dari itu?
Bukankah amal jariyah adalah amal yang tetap mengalir sekalipun kita meninggal.
Dan menulis adalah satu satu ilmu yang terus mengalir.
Tulislah pengalaman Anda, buatlah buku, buatlah diri Anda abadi.
Jangan biarkan orang lain mengalami kesalahan yang sama dengan kita.
Beri petunjuk orang lain agar hidupnya lebih mudah.
Selama kebaikan yang Anda sebar, maka amal akan mengalir.
Buatlah setidaknya satu buku, selama Anda masih hidup!
Satu buku, minimal.
Hidup hanya sekali, satu buku bukan target yang berlebihan.

Semoga tulisan diatas ini bisa menyebarkan energi positip dan MENULAR kepada setiap pembaca.
Thanks buat pak Isa Alamsyah.

Youth Has No Age

Semangat Muda! Entah karena alasan apa, setiap saya pulang dari arah kebayoran lama ke arah Mayestik, tepatnya entah di sekitar ...