Translator

Kamis, 10 November 2011

Dear Pahlawanku : Teruntuk Pak Isa Alamsyah

Jakarta, 10 Nopember 2011

Kepada Yth : Pak Isa Alamsyah


Salam hangat,

Pak, hari itu saya mendadak membuat satu akun blogger. Bapak tau tidak, saya awam tentang dunia maya, intinya saya gagap tehnologi alias "gaptek". Saya juga sebenarnya tidak mengerti sama sekali tentang dunia tulis-menulis, terlebih menulis di sebuah blog. Sehari sebelumnya, saya baru membaca satu tulisan bapak di group "Komunitas Bisa" yang berjudul "Haji 28 Kali".  Dari tulisan bapak itulah yang mendorong saya, untuk membuat satu blog, sebuah blog yang mungkin bisa menyalurkan pikiran-pikiran saya atau curahan hati saya atau mungkin pengalaman hidup saya.

Pak, tulisan bapak itu sungguh luar biasa, memotivasi saya untuk mulai menulis.. Percaya atau tidak, hati dan jiwa saya bergetar saat saya selesai membaca tulisan bapak. Otak saya dipenuhi keinginan menulis, jiwa saya sangat bersemangat pada saat itu. Saya baru sadar,  ternyata sebuah tulisan bisa sangat berpengaruh pada jiwa-jiwa pembacanya. Saya seperti menemukan pintu keluar dari kegelapan, yang membelenggu saya selama ini.
Saya ibarat sebuah rumah yang tertutup rapat, dan kini memiliki pintu yang baru bisa terbuka. Pintu yang bisa membawa saya melihat dunia atau bahkan mengubah dunia.

"Buatlah minimal satu buku dalam hidup" itu adalah motivasi yang telah bapak tularkan pada saya. Saya sadar, saya bukanlah seorang penulis, yang mungkin  bagi seorang penulis "menulis" satu  buah buku mungkin bukanlah pekerjaan sulit, tapi bagi saya ini adalah suatu pekerjaan rumah yang panjang, ya pekerjaan rumah yang entah kapan bisa saya selesaikan. Satu hal yang bisa saya kerjakan adalah hanya memulainya dengan menulis di blog, mungkin kelak jika saya telah mumpuni dalam menulis saya bisa membuat buku. Insya Allah.

Pak Isa Alamsyah yang saya kagumi, terimakasih bapak telah menjadi Pahlawan di hati saya, bapak telah melepaskan saya dari belenggu ketidak berani dalam menulis atau ketidak beranian dalam mengungkapakan pikiran-pikiran saya, sebab karena bapaklah saya bisa terbebas dari keterbelengguan. Mungkin "satu buku" dalam hidup adalah pekerjaan rumah yang  harus diselesaika, agar kelak saya bisa "hidup abadi" melalui buku tersebut. Seperti kata bapak, buku adalah warisan harta yang abadi, dan saya ingin bisa mewariskan harta abadi tersebut pada anak cucu saya kelak.

Bapak Isa Alamsyah yang terhormat, dibawah ini adalah tulisan bapak yang pernah bapak posting di "Komunitas Bisa", karena saya tidak ingin mengurangi atau menambahkan isi dari tulisan bapak tersebut, saya sertakan tulisan bapak tersebut disini, begini bapak menulis :


Isa Alamsyah 22 Oktober 2010 jam 16:45
 
Haji 28 kali

Saya mengenal seorang pembimbing Haji yang sangat bijak.
Usianya baru 50 tahunan tapi sudah pergi haji sebanyak 28 kali.
Tidak salah dengar? Tidak ini benar, bahkan kalau ditambah umrah mungkin sudah 50 sampai 70 kali bolak balik ke tanah suci, karena dalam setahun bisa dua atau tiga kali ke tanah suci jika dihitung dengan umrah.
Bisakah Anda bayangkan betapa banyak pengalaman yang sudah dilaluinya.
Betapa banyak hal bisa kita tanyakan dan kita pelajari darinya.
Saya pun sering memanfaatkan waktu untuk bertanya jika kebetulan bertemu dengannya.
Tapi sayang, jika Anda punya list pertanyaan kini dia tidak bisa menjawabnya.
Kenapa? Beberapa bulan lalu ia telah pergi menghadap-NYa.
Ketika melayat saya merasa sedih, bukan saja karena kehilangan dia,
bukan saja karena Indonesia kehilangan salah satu ulama besar,
tapi lebih dari itu, hampir semua ilmu, pengalaman dan pengetahuannya ikut hilang terkubur.
Kenapa?
Karena ia tidak menulis. Tidak ada pikiran dan ucapannya yang dibukukan.
Menulis membuat kita abadi , membuat kita tetap hidup sekalipun kita telah dikuburkan.
Saya sebenarnya sudah menyiapkan ia untuk menjadi narasumber buku guide praktis haji yang sedang kita susun akan tetapi sayang, Allah sudah memanggilnya.
Saya percaya ada ilmu yang tersisa, ada pelajaran yang disampaikan ke anak dan murid-muridnya, tapi jika tertulis maka tidak ada degradasi ilmu karena semua berasal langsung dari sumbernya.

Bagaimana dengan Anda?
Anda mungkin orang tua yang sukses mengubah anak bandel menjadi alim.
Anda mungkin guru yang sukses membuat murid rusuh menjadi pemimpin.
Anda mungkin pegawai yang sukses berkarir dari bawah.
Mungkin Anda menjadi kaya walaupun dari keluarga miskin dan berjuang keras untuk sukses?
Mungkin Anda adalah pahlawan hidup yang dicari banyak orang
Tapi semua itu hanya menjadi kabar angin, dan akan hilang perlahan jika Anda tidak menulis.
Semua akan terkubur dan mulai pudar sedikit lebih lama dari pudarnya tubuh kita dalam tubuh.
Apakah ingin dikenang?
Apakah Anda ingin hidup dalam keabadian ilmu.
Apakah sejarah Anda hanya ingin tertulis di batu nisan atau lebih dari itu?
Bukankah amal jariyah adalah amal yang tetap mengalir sekalipun kita meninggal. 
Dan menulis adalah satu satu ilmu yang terus mengalir.
Tulislah pengalaman Anda, buatlah buku, buatlah diri Anda abadi.
Jangan biarkan orang lain mengalami kesalahan yang sama dengan kita.
Beri petunjuk orang lain agar hidupnya lebih mudah.
Selama kebaikan yang Anda sebar, maka amal akan mengalir.
Buatlah setidaknya satu buku, selama Anda masih hidup!
Satu buku, minimal.
Hidup hanya sekali, satu buku bukan target yang berlebihan.

Semoga tulisan bapak ini, bisa menyebarkan energi positip dan menular kepada setiap yang membaca.
Terimakasih saya ucapkan, buat pahlawanku bapak Isa Alamsyah.

Salam dari saya,
Cha2




Postingan ini diikutsertakan dalam Kontes Dear Pahlawanku yang diselenggarakan oleh
Lozz, Iyha dan Puteri” 









                  

13 komentar:

  1. Saya juga menyesal karena tidak mencatat dengan tetib perjalanan saya ke 5 benua waktu dinas dulu nduk.
    Seandainya saya meniru beliau dan juga pak HOK Tanzil tentu sudah jadi buku yang lumayan tebal.

    Bannernnya belum dipasang ya, juga tulisan keiikut sertaan pada kontes.

    Semoga berjaya.

    Salam hangat dari Surabaya

    OOT: kolom komentar ini sebaiknya di edit settingnya agar non akun google bisa memberi komentar.
    Caranya: lihat disini http://abdulcholik.com/2011/08/04/cara-mudah-setting-form-comments-di-blogspot/

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Terimakasih pakde atas kunjungannya, waduhh hebat tenan toh pakde sudah sempat berada di 5 benua...!
    Pakde juga bisa kok mulai menulis, lah buktinya aja pengalaman kaki menginjak 5 benua bisa menjadi referensi tulisannya. Salut buat pakde.

    Pakde saya sudah coba merubah format commentnya, tapi kok belum berhasil ya (memang format blog saya agak beda sama yang pade contohkan,tadinya sama persis seperti yang pakde contohkan,tapi belakangan berubah dan saya juga tidak tau kapan berubahnya.
    Thanks ya info-nya nanti saya coba kotak-katik lagi.

    BalasHapus
  4. Pak Isa Alamsyah emang hebat..
    Pahlawan untuk memotivasi menulis..
    Kereen..

    Aku pernah dateng waktu ada workshopnya bersama Asma Nadia istrinya,orangnya pun ramah..

    Salam..

    BalasHapus
  5. membukukan apa-apa yang telah dilakukan agar kita hidup abadi. Benar sekali kata-kata beliau, hidup abadi adalah perbuatan kita selalu dikenang meskipun kita sudah tiada

    BalasHapus
  6. ah, jadi termotivasi untuk terus menulis. makasih ya udah ikutan dear pahlawanku

    BalasHapus
  7. @ Nchie : waah mba ini malah dah pernah ikut workshop beliau segala keren ... keren.
    Iya, pak Isa dan keluarga emang inspiring ya.

    @ mandor : yups setuju mas

    @ puteriamirillis : thanks udah berkunjung, makasih juga ya diberi kesempatan berpartisipasi.

    BalasHapus
  8. Semoga menang dalam kontesnya Emaknya Osar...

    BalasHapus
  9. @ Mas marsudiyanto : terimakasih atas doanya, tapi saingan bagus-bagus semua. Thanks ya mas

    BalasHapus
  10. Pahlawan yang luar biasa, dengan pena, beliau bisa menularkan kebaikan yang dapat menginspirasi banyak orang. Perjuangan memang bukan hanya di pucuk senjata kan?

    menulis, menulis dan menulis...
    ini bukti bahwa mbak sudah pandai menulis.. :)

    -artikel sedang dinilai-

    BalasHapus
  11. @ mba Triana : Terimakasih support-nya.

    BalasHapus
  12. Motto "Satu Buku Sebelum Mati!"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mas Isa terimakasih telah berkunjung sebuah kehormatan bagi saya. Terimakasih :)

      Hapus

Kunjungan anda adalah harapan bagi saya, tinggalkan jejak anda pada kolom komentar sebagai tanda harapan buat saya. Dan, semoga ini bukan harap-harap cemas :)
Dan diatas semua harapan, saya haturkan terimakasih atas kunjungannya :)