Translator

Senin, 25 Februari 2013

Sebuah Safarnama - Catatan Perjalanan


Everything is Possible. Dan, kemungkinan itu sedang terbuka lebar di depan mata saya.

"Ini tiket perjalananmu itu," kata pak Budi Tjahyadi sambil menyerahkannya pada saya. Hati saya berdebar-debar tak menentu, girang tiada kepalang.

"Perjalanan ini, mungkin bisa sampai satu bulan," jelasnya lagi. Dari ujung mata, saya dapat menangkap raut wajah tampan dan baiknya boss satu ini. Saya terdiam. Saya pandangi tiket yang sekarang ada di tangan saya tersebut. Satu bulan! "Cukup lama," batin saya.

"Tapi pak, semoga saja saya bisa menyelesaikan tugas ini tidak sampai satu bulan," timpal saya meyakinkan.

Perjalanan ini pasti sangat menarik. Dan, tiket ini adalah gerbang untuk menggapainya.

Paspor yang saya miliki masih bagus dan baru ada cap imigrasi Singapura saja. Masa berlakunya masih untuk dua tahun ke depan. Tenang. Tinggal mengurus visa saja, beres. Dan, segera saja pikiran saya mengembara, terbang jauh bersama sang tiket.

Perjalanan panjang saya ini bukanlah perjalanan saya seorang diri. Saya yang tidak tau dunia luar ini, dengan terpaksa harus keluar kandang dengan ditemani oleh seorang anak muda, kenalan baik pak Budi, Agustinus Wibowo namanya. Menurut pak Budi, ia adalah seorang yang biasa melalang buana berkeliling dunia. Seorang petualang sejati, tambahnya lagi. Saya terdiam takjub mendengar penjelasannya.

"Kamu belum kenal dia Die?" tanya pak Budi lagi. Saya hanya mengeleng lemah sambil mengeluarkan kata "belum" yang hampir seperti orang berbisik.

"Dia akan menemani kamu selama perjalanmu itu Die," lanjut pak Budi. Saya hanya mengangguk kecil mencoba menenangkan diri karena terlalu excited mendengar kabar gembira ini. Kabar yang sedianya saya anggap isapan jempol ini menjadi kenyataan. Sebelumnya, saya pernah mendengar rumor di kantor bahwa ada salah satu dari kami akan dikirim ke luar negeri, tapi mana pernah saya menduga bahwa kado gratis itu justru jatuh pada diri saya sendiri. Surprise!!! Thanks God. The dream come true, kata orang sunda mah :)

Pertemuan saya dan Agustinus Wibowo ini cukup membuat saya kaget. Ia yang katanya seorang petualang itu, berperawakan jauh dari yang saya bayangan sebelumnya. Perawakannya sendiri kurus kecil. Kulitnya putih, dan matanya sipit. Tampaknya ia keturunan Tionghoa yang nenek moyangnya dari Mongoloid itu. Rasanya anak muda ini jadi cocok sekali dengan saya yang memang imut ini juga  :) grin.

Tanpa sadar, saya mencuri pandang padanya, dan tanpa diduga, ia melihat ke arah saya sambil tersenyum. Senyum seorang sahabat! Sedetik kemudian, secercah ketenangan saya dapatkan dalam senyum anak muda ini.

Di hari yang telah ditentukan, berangkatlah kami berdua. Tujuan kami dari China ke Capetown di ujung Afrika Selatan, titik terjauh. Dari Beijing ibu Kota China, kami akan melakukan perjalanan darat yang panjang dengan tujuan pusat "Tanah Suci", bukan Mekkah, tetapi Tibet - negeri terlarang yang selalu tertutup untuk dunia luar - sebagai pusat Tanah Suci di atap dunia.

Dan inilah Safarnama - Catatan Perjalanan kami  ..... (*Bahasa Persia : Safar : Perjalanan, Nama : Tulisan, Surat, Kitab)

Ujian pertama dalam perjalanan adalah pembuktian kesabaran. 
Tentu, kau perlu teknik spesial untuk bisa menyelinap di antara kerumunan penumpang kereta api di negeri berpenduduk paling banyak di muka bumi ini. Angka populasi satu koma tiga miliar itu memang bukan main-main. Satu stasiun kereta api di kota Beijing bisa mengangkut sampai sejuta penumpang dalam sehari. Manusia dijejal-jejalkan ke dalam setiap sudut kereta, mulai dari koridor sampai toilet. Bahkan tempat berdiripun tidak ada. Tentu, butuh sedikit kecerdikan untuk mencari ruang kosong di antara buntelan dan mendesak berbongkah-bongkah tas para penumpang. Tentu, kau butuh kengototan luar biasa untuk mengusir para lelaki desa yang duduk santai tanpa dosa di atas bangku yang seharusnya menjadi tempat dudukmu. Tentu, keringat bercucuran deras setelah perjuangan panjang di gerbong panas ini.

Tapi cukup sabarkah kau menghadapi tantangan sesungguhnya? Kereta ini akan melintasi tiga ribu tujuh ratus enam puluh delapan kilometer, berjalan tanpa henti selama empat puluh tiga jam plus lima puluh lima menit, dari Beijing menuju Urumqi nun jauh di barat sana. Semua ini harus dilewati di atas bangku keras yang sandarannya tegak lurus. Setegak itu pula seharusnya punggung,bahu,kepalamu sepanjang perjalanan panjang ini. Hampir tak ada kesempatan tuk berdiri meregangkan kaki, karena setiap tempat lowong di lorong sudah dipenuhi manusia malang yang terpaksa mengelesot dan berbaring. Empat puluh empat jam tanpa kursi! Tubuh macam apa yang sanggup melewati ujian fisik seberat itu? Belum lagi ketika petugas penjual makanan dengan kereta dorong metalik mulai berteriak garang. "Minggir! Ada yang mau beli mie instan? Kuaci? Minuman? Makan malam ..., makan malam, sekotak dua puluh yuan! Minggir!!!"

Dan siraman air panas dari mie  instan itu entah disengaja atau tidak, tumpah semua ke wajah saya. Saya kaget. Segera terbangun dan mengucek-ucek mata. Mata saya masih merah. Kantuk yang masih mengelayuti mata ini masih tidak bisa sirna segera. Saya berdiri sempoyongan. Sekuat tenaga saya mencoba membelalakan mata. Mata saya hampir terbuka lebih jelas. Samar-samar saya bisa melihat sosok lelaki di depan saya sedang menggenggam sebuah gelas kosong menatap saya terkejut. 

"Maaf, enggak sengaja," serak suaranya terdengar. Saya melotot kesal, tanpa bicara.  

"Makanya kalau tidur, jangan sembarangan di lantai! Jadi kakiku nggak sengaja nendang kaki kamu, dan air minumku tumpah semua deh," katanya menjelaskan lebih rinci. 

Saya geram, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Guyuran air minum suami membasahi wajah saya di pagi hari buta itu, dan telah membangunkan saya dari tidur lelap setelah dinina bobokan oleh sang buku. Lagu nina bobo buku Titik Nol  telah membawa saya menjelajah ke negeri-negeri nun jauh di sana bersama sang petualang sejati, si penulis buku. Dan tiba-tiba saya teringat sesuatu, "Bukuku ....!!!" teriak saya kencang. Terbayang buku kesayangan saya basah kuyup, sebasah wajah saya.


Note : Teks berwarna biru adalah penggalan tulisan dalam buku Titik Nol - Halaman 18-19 - Karya Agustinus Wibowo.



My Note : bacalah buku, karena dengan membaca membuat ruang imajinasimu lebih berwarna 



Salam,
Auntie Dazzling

Selasa, 19 Februari 2013

Titik Nol


Pagi-pagi saya sudah mendapat hoki. Gimana gak ? waktu boss saya baru datang, tiba-tiba saja ia memanggil saya dan menunjukkan koran yang sedang ia baca. "Dazz, tuh pilih buku yang kamu mau!" katanya yakin. Saya yang gak nyangka bakal dapet durian rontok, mateng, harum, dan legit di pagi hari ngedadak serasa melayang kelangit ketujuh. Meski tawarannya ini bentuknya buku, tetapi bagi saya buku itu mengandung arti lebih dibanding lainnya. Dengan senyum-senyum, saya membaca koran yang disodorkannya pada saya, yang memuat recommended book tersebut.

Kamis, 07 Februari 2013

Today Is My Day


“Today is my day. Today is my birthday. Happy ... happy birthday to me.
Yups, hari ini adalah hari jadi saya. Hari ulang tahun saya ke ... berapa ya ? ah, malu menyebutkannya.

Youth Has No Age

Semangat Muda! Entah karena alasan apa, setiap saya pulang dari arah kebayoran lama ke arah Mayestik, tepatnya entah di sekitar ...