Translator

Jumat, 29 Januari 2016

Kebiasaan Baru



Ada kebiasaan baru yang akan diterapkan di rumah keluarga si boss di bulan pebruari ini. Kebiasaan itu adalah bersedekah tiap hari. 

Kebiasaan bersedekah ini ingin ia jadikan kebiasaan pada keluarga kecilnya. Tapi, bagaimana memulainya?

"Susah ya bersedekah setiap hari?" tanya ustadzah Sinta padanya.
"Iya bu susah, niatnya ingin memulai tapi bagaimana caranya ya bu? Bagaimana jika saya memulai  dengan cara sedekah itu saya taruh di celengan setelah sebulan baru sedekah itu saya serahkan? Apakah ini termasuk sedekah harian bu?" tanyanya.
"Ya itu hitungannya termasuk sedekah harian dan itu nggak masalah."

Demi mendukung niat sucinya ini, saya memberinya dukungan dengan cara membuatkannya celengan yang bertuliskan "Jalan Menuju Surga" sesuai dengan pesannya untuk menempelkan tulisan itu besar-besar di celengan tersebut, serta membuat daftar seluruh nama keluarga kecilnya.

Saya jadi teringat dengan "Keajaiban Sedekah"nya ustadz Yusuf Mansur yang fenomenal itu. Dari ustadz muda inilah pentingnya bersedekah ini sering digaungkan. Dan, ada model sedekah yang diputerin dulu, diputer di tempat yang aman.

Misalnya 100 orang masing-masing orang sedekah 20 ribu.  20 ribu dari 100 orang dikumpulin dulu. Dapetlah 2 juta. Lalu dibiayai dengan 2 juta itu 1 tukang bubur atau siomay atau bakso, atau apa saja yang bisa dibiayai. Maka 1 orang terangkat derajatnya. Dari nganggur menjadi berdagang.

Lalu 100 orang ini nitip program sama si tukang bubur ini. “Tolong ya Pak, tiap hari kasih 5 anak yatim, free 1 mangkok (total 5 mangkok).”

Sebulan si tukang bubur dagang, 150 orang bisa diberi makan free 1 mangkok bubur per orang. Jika si tukang bubur ini bisa dagang selama 1 tahun, maka 1800 orang bisa ikut mencicipi bubur tersebut. Dan keangkat pula harkat 1 orang.

Itulah salah satu the art of giving. Duit sedekah dikumpulin dulu, lalu disalurkan untuk pembiayaan ekonomi.

Begitu kata ustadz Yusuf Mansur. 

Dalam agama Kristen sebenarnya diajarkan juga yang namanya bersedekah. Seperti tertulis dalam :

Matius 6:1-4 (MILT)

"Perhatikanlah sedekahmu, supaya jangan melakukannya di hadapan manusia sehingga dilihat oleh mereka, dan jika tidak, kamu tidak memperoleh pahala di hadapan Bapamu yang di surga. Oleh karena itu, ketika engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkannya di hadapanmu, sebagaimana yang orang-orang munafik lakukan di dalam sinagoga-sinagoga dan di jalan-jalan agar mereka dimuliakan oleh manusia. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka telah menerima pahalanya. Namun engkau, selagi memberi sedekah, jangan biarkan tangan kirimu mengetahui apa yang tangan kananmu lakukan, sehingga sedekahmu itu ada dalam ketersembunyian, dan Bapamu yang melihat dalam ketersembunyian, Dia sendiri akan membalas kepadamu dalam keterbukaan."

Isa Al-Masih dan Injil mengajar agar sedekah diberi kepada semua orang, baik teman maupun musuh, baik orang percaya maupun orang tidak percaya. Orang Kristen tidak boleh membeda-bedakan. Jikalau orang memerlukan bantuan orang Kristen wajib membantu dia sedapatnya. 

Pemberi sedekah tidak menambah amal. Orang Kristen tidak diselamatkan oleh amal, ia diselamatkan oleh anugerah. Kita diselamatkan melalui iman (Efesus 2:7-8). Demikian pemberian sedekah itu sebagai tanda terima kasih kepada Allah dengan hati penuh sukacita (II Korintus 9:7).

Mendadak  sok agamis banget ah, tapi minimal itu postingan yang ingin saya bagi. Dan, semoga bermanfaat.



Salam,
Aunti "eMDi" Dazzling