Translator

Rabu, 26 Juni 2013

[BeraniCerita #17] Don't Judge a Book by Its Cover



Sepi, itu yang dirasakan Roni siang itu. Mungkin hanya beberapa anak saja yang berseliweran di lorong kelas saat jam ketiga. 

"Kesempatan. Mumpung sepi."

Roni tersenyum sambil bersyukur dalam hati karena sepertinya suasana sedang berpihak padanya. Diambilnya sebuah kursi, lalu membuka sebuah jendela kelas 8-H yang sudah rusak

Sepi … membangunkan bulu kuduknya. Jarinya mencengkram amplop hasil sumbangan.


Tujuh hari yang lalu Roni si Ketua Rohis itu mengadakan penggalangan dana untuk di sumbangkan pada kaum Dhuafa. Tetapi dana tersebut setengahnya raib entah kemana. Tak seorangpun tau. Hanya terdengar desas-desus Ripto si Nakal itu yang jadi tertuduh.

Jumat, 21 Juni 2013

Selasa, 18 Juni 2013

[BeraniCerita #16] Ketika Hari Berganti



 “Jika kau membaca ini, aku tak tau, apakah kau telah berubah?” tulis si Ibu penuh harap.

Ku pandangi wajah tua tak berdaya itu, tersirat kesedihan yang dalam. Kecantikan masa mudanya masih terpancar jelas. Dan pantasnya, Ia berasal dari keturunan keluarga kaya. Tetapi yang aku tau, Ia hanya tinggal di rumah ukuran 21/60 m2 ini, sedangkan rumahnya bersama mantan suaminya yang kaya raya itu, Ia tinggalkan sejak sang Suami mengawini perempuan lain.

Kamis, 13 Juni 2013

Lelaki Separuh Baya



Cerpen - Fiksi


Lelaki  separuh baya itu, kembali mendatangiku di pagi buta nan dingin.

Seperti pagi-pagi sebelumnya, ia sudah terbangun paling pagi, disaat seluruh keluarga – istri dan anak-anaknya – masih tertidur pulas. Aku tau, ia akan segera mendatangi kamarku yang letaknya ada di belakang rumah mereka, terpisah dari rumah utama. Dari langkah kakinya yang terdengar berjalan di seret itu, terdengar ia menghampiriku, membuka pintu kamarku pelan-pelan, memandangku penuh sayang, dan segera matanya akan menangkap tubuhku yang masih meringkuk kedinginan, kemudian ia memeluk tubuhku erat, mencium dan mengendus sekejap kepalaku, dan segera saja kehangatanpun merasuki tubuhku meski kantuk masih mengelayut. “Wes isuk saiki, yo tangi ”, ujarnya terdengar parau membangunkanku dengan “caranya” itu di setiap pagi buta.