Translator

Rabu, 26 Juni 2013

[BeraniCerita #17] Don't Judge a Book by Its Cover



Sepi, itu yang dirasakan Roni siang itu. Mungkin hanya beberapa anak saja yang berseliweran di lorong kelas saat jam ketiga. 

"Kesempatan. Mumpung sepi."

Roni tersenyum sambil bersyukur dalam hati karena sepertinya suasana sedang berpihak padanya. Diambilnya sebuah kursi, lalu membuka sebuah jendela kelas 8-H yang sudah rusak

Sepi … membangunkan bulu kuduknya. Jarinya mencengkram amplop hasil sumbangan.


Tujuh hari yang lalu Roni si Ketua Rohis itu mengadakan penggalangan dana untuk di sumbangkan pada kaum Dhuafa. Tetapi dana tersebut setengahnya raib entah kemana. Tak seorangpun tau. Hanya terdengar desas-desus Ripto si Nakal itu yang jadi tertuduh.


***


Roni tersentak. Wajahnya merah bercampur keringat. Jantungnya berdetak kencang membaca tulisan Ripto di selembar kertas.


“Aku memang nakal. Tapi aku bukan pencuri.”


Di remasnya kuat tulisan itu. 

Pandangannya kabur tertutup air mata yang meleleh. Wajah Ripto sepintas berkelebat dalam ingatannya.


“Ron, ngapain elo kemarin ada di gengnya si Fikri yang pecandu itu?”

“Ada perlu To!”



Itu adalah percakapan terakhirnya dengan Ripto di hari sebelum Ripto di sidang.


Ya, Ripto memang sudah berpulang. Kejadiannya sepulang sekolah setelah Ia di sidang. Ia tertabrak truk pengangkut tanah. Kepalanya hancur, dan ususnya terburai.


***


Semalam Roni tak bisa tidur nyenyak. Ia bermimpi buruk lagi. Dalam mimpi Ia bertemu Ripto. Ripto hanya tersenyum tanpa kata.

Roni terbangun dengan napas tersenggal. Badannya basah oleh keringat yang membanjir. Bau tak sedap menyebar dari mulutnya. Dilepasnya kaos bertuliskan “ROHIS” kebanggaannya. Kakinya yang kurus berjalan mondar-mandir tak menentu. Ia harus segera ke sekolah. Ada yang harus Ia selesaikan. 


Dan, hari masih teramat pagi.


***



6.30 pagi, sekolah sudah mulai terlihat ramai. Tetapi keramaian terlihat di lorong terujung kelas 8-H. Semua siswa berkerumun di situ. 

Roni tergantung, lidahnya terjulur kaku.


Di meja ada sebuah surat “Maafkan aku, karena akulah Ketua Rohis si Pencuri itu.”




                                                            ***  The End  *** 
                                                                                           291 Kata




* Rohis berasal dari kata "Rohani" dan "Islam." Rohis biasanya dikemas dalam bentuk ekstrakurikuler (ekskul). 




41 komentar:

  1. Waduw... duit rohis membawa petaka.

    BalasHapus
  2. wedeeew cerita sadiiis bgt mba :(

    BalasHapus
  3. Seddaapp.. sadis tapi keren.
    saran dikit: seharusya kata "si ketua rohis" gak perlu diulang berkali-kali. cukup sekali pengenalan pasti uda bisa tau maksudnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks ya Yu masukannya. Mksdnya tadinya kata yg awal sebgai pengenalan yg kedua (terakhir) itu cuma menegaskan saja bahwa org yg kita anggap sempurna bisa juga terjatuh. Tapi thanks banyak masukannya ya :)

      Hapus
  4. mantep! tinggal pemadatannya aja dikit... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh klo di padatin lg bingung bang mau pangkas yg mana ?
      Bantu dong mana yg hrs di pangkas.

      Hapus
    2. Inget, Bun! Show! Don't tell! Berikan sesuatu yang bikin ngerti orang secara tersirat, bukan tersurat ... IMHO :-)

      Hapus
  5. waduh kisah singkat yang penuh ketragisan :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nih terlalu tragis ya ?!

      Hapus
    2. hampir sama ceritanya kaya kehilangan di kantor saya hehe ..

      Hapus
    3. Oya yg office boy itu ya ?

      Hapus
    4. bukan.. tapi salah satu kru hehe

      Hapus
  6. yahh...
    kok...

    :(

    <-- dulu anak rohis

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kan tak ada ganting yg tak retak hehe

      Hapus
  7. senang membaca blog yang berisi cerita-cerita seperti ini karena saya paling nggak bisa nulis mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks masbro, tpi itu masbro nulis di blog apa ?

      Hapus
  8. gak suka ama akhirnya. mestinya rohis jadi contoh. coba dibiarkan pembaca menebak akhirnya, pasti tambah mantap ceritanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya sih kan ceritannya Roni nya mulai terpengaruh Fikri.
      Masukannya makasih mas, itu terlalu gamblang ya.

      Hapus
  9. waduh ternyata yang mencuri ketua rohis ya.
    kisahnya kok serem semua. Sampai ada gantung diri segala.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe iya. Besok2 jgn terlalu serem gitu ya.

      Hapus
  10. kalau dari segi flash fiction oke juga.
    kalau sobat jago bikin cerpen, bisa dikembangkan lagi ini ceritanya. Jadi pembaca bertanya-tanya siapa sih pelakunya.

    Bahan dasar untuk membuat cerpen, bagus juga ini.

    BalasHapus
  11. maaf, promptnya sepertinya terlalu dipaksa dengan kalimat di paragraf di awal. meskipun sebenarnya saya paham maksudnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks mba masukannya.
      Semoga ke depan lebih naik.

      Hapus
  12. glek...ternyata malu menjadi beban karena mengkambing hitamkan orang yang tak bersalah..akhirnya ditebus dengan bunuh diri...sudah berdosa dengan mengfitnah ,,malah bertambah dosa lagi karena bunuh diri....nice story :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nih nyesel endingnya di buat terlalu tragis.

      Hapus
  13. wadduh, berakhir dg bunuh diri :(

    BalasHapus

Kunjungan anda adalah harapan bagi saya, tinggalkan jejak anda pada kolom komentar sebagai tanda harapan buat saya. Dan, semoga ini bukan harap-harap cemas :)
Dan diatas semua harapan, saya haturkan terimakasih atas kunjungannya :)