Translator

Selasa, 18 Juni 2013

[BeraniCerita #16] Ketika Hari Berganti



 “Jika kau membaca ini, aku tak tau, apakah kau telah berubah?” tulis si Ibu penuh harap.

Ku pandangi wajah tua tak berdaya itu, tersirat kesedihan yang dalam. Kecantikan masa mudanya masih terpancar jelas. Dan pantasnya, Ia berasal dari keturunan keluarga kaya. Tetapi yang aku tau, Ia hanya tinggal di rumah ukuran 21/60 m2 ini, sedangkan rumahnya bersama mantan suaminya yang kaya raya itu, Ia tinggalkan sejak sang Suami mengawini perempuan lain.

Dan hari itu, aku hanya terdiam, saat si Ibu berkeluh kesah lagi padaku. Ku jadikan diriku sebagai pendengarnya yang baik. 

“Aku tak punya apa pun, jika aku mati, maka aku hanya mewarisi hutang. Hutang kepada bu Prapti  Dua puluh juta, baru terbayar sebagian, sisanya Lima juta lagi,” tulisnya.
Aku tau, uang itu adalah hutang buat sang Anak, gara-gara terkena kasus narkoba, dan Ia harus menebusnya.

Lain waktu, seorang Polisi datang ke rumah, membawa kabar yang sangat tak di harapkan, “Anak ibu kami tahan, karena telah tertangkap menjarah toko emas,” kata si Polisi. Kabar ini, segera ia ceritakan padaku, katanya, “Anakku telah membuatku susah lagi, dengan terpaksa aku akan menjual rumah ini, setelah itu, aku tak akan pernah lagi membantunya, karena sejatinya dirinya sendirilah yang bisa menolong hidupnya, bukan orang lain katanya, lalu ia menorehkan sebuah tulisan cukup besar : “Buat anakku : Kamu tau nak, mencari uang itu tidak mudah.”

Lima tahun berlalu …..

“Aku harus pulang menemui ibuku, selamat tinggal Lembaga Permasyarakatan – Engkau adalah pelajaran terbesar dalam hidupku, dan aku, tidak akan menjadi pecundang lagi, aku telah salah langkah, sakit hatiku pada ayahku tidak seharusnya aku balaskan pada ibuku, ibuku telah habis hartanya olehku, sebelum aku sendiri bisa menghasilkan,” bisik si Pemuda dengan wajah berseri penuh keyakinan. 

Bergegas ia meninggalkan penjara, dan itu adalah hari pembebasannya.

Sampai di rumah, ia celingukan mencari sang Ibu. Rumahnya banyak perubahan. Di ketuknya  pintu rumahnya keras-keras, “Bu, ibu, aku pulang,” teriaknya kencang. Tak lama berselang, muncul perempuan muda dengan perut membuncit sedang hamil. 

“Maaf, mas  mencari siapa ya?” tanyanya.
“Saya mencari Ibu saya, Ibu Suryani”.
“Bu Sur ?!, oh, maaf, pemilik rumah ini sebelumnya?!”
“Beliau sudah meningga tiga tahun yang lalu, Ia menjual rumah ini pada kami untuk membiayai perkara pengadilan anaknya, dan Ia, tinggal bersama kami, hingga ajal menjemputnya,” terangnya.
“Jadi mas ini Putranya?" tanyanya
“Sssebentar mas, ada titipan darinya,” Perempuan muda itu masuk ke dalam, mengambil sesuatu dari laci. Di sodorkannya sebuah buku pada si Pemuda.
“Ini  titipan dari Ibu.”

Si pemuda mematung, di ambilnya buku yang di sodorkan padanya. 

“Diary!”  ucapnya lemah. 

Dipandanginya sampul Diary yang bertuliskan  “Never Spend your money before  you have Earned It – Thomas Jefferson."

Tak lama kemudian, ia membuka diriku - lembar demi lembar, membaca curahan hati dan harapan ibunya padanya, curahan hati yang selama ini di tumpahkan ibunya padaku, si Diary. Tetesan air mata membasahi tubuhku. Ada tangis penyesalan yang dalam. Dan aku tau, ia – sang Pemuda – telah berubah, seperti harapan ibunya.


Jakarta, 17 Juni 2013


477 Kata

25 komentar:

  1. sangat menyesal pasti putranya, ya

    BalasHapus
  2. Balasan
    1. Penyesalan memang datangnya belakangan. Tapi mungkin dengan cara itulah Allah menyadarkan seseorang kawan.

      Hapus
    2. Penyeselan emang datangnya selalu terlambat :)

      Hapus
  3. “Never Spend your money before you have Earned It

    keren quotenya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe quote dari challenge Berani Bercerita mba :)

      Hapus
  4. Masuk! Udah bagus, Daz! Tapi emosinya masih datar... Alurnya kecepetan! Gue suka gaya penulisannya! Sip! ;-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Daz! Kayaknya link yg disubmit gak tepat tujuan, deh! Coba dicek lagi dari Berani Cerita ... ;-)

      Hapus
    2. Thanks masukannya ya, iya ada yg salah tampaknya.

      Hapus
  5. Deuh, nyesel bgt pasti anaknya ini...

    BalasHapus
  6. pasti sangat menyesal itu sang anak. Belum sempet membahagiakan ibunya karena hendak bertaubat. Semoga setelah keluar dari penjara, pemuda itu sadar.

    BalasHapus
  7. wewdew, bisa berebes mili apa itu istilahnya, kalo jadi di kehidupan nyata non :p

    #roman romannya udah siap nyetak buku neh :P

    BalasHapus
  8. Banyak tanda baca yang salah, mungkin lebih diperhatikan lagi agar enak dibaca.

    Menurutku ceritanya masih datar dan greget.

    “..... hingga ajal menjemputnya” => secara pribadi aku gak suka kalimat ini diucapkan utnuk seorang ibu yang telah meninggal, terlalu kasar menurutku. mungkin bisa diganti dengan ".... hingga beliau meninggal"

    semangaat :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks ya koreksi dan masukannya, tampaknya saya harus belajar lagi EYD nih :)

      Hapus
  9. Jadi end crtanya ibunya meninggal?

    BalasHapus
  10. hiks.. sedih bacanya.. pastinya tuh anak nyesel bnget..

    BalasHapus

Kunjungan anda adalah harapan bagi saya, tinggalkan jejak anda pada kolom komentar sebagai tanda harapan buat saya. Dan, semoga ini bukan harap-harap cemas :)
Dan diatas semua harapan, saya haturkan terimakasih atas kunjungannya :)