Translator

Jumat, 09 Maret 2012

Cerita yang tersisa

Tadi pagi saat saya melintas di jalan yang biasa saya lewati jika saya berangkat bekerja, ada sebuah bendera kuning kecil bertengger di pinggir jalan tersebut perlambang ada seseorang yang berpulang ke Rahmattullah. Saya tertegun, siapa gerangan tanya saya dalam hati.

Tujuh tahun lalu saya mengenal seorang nenek tua yang berusia sekitar ... emm berapa ya ??? saya juga tidak tau persisnya, tapi menurut pengakuannya sih dia berusia sekitar seratus tahunan, entah benar atau tidak jika usianya sebegitu saya tidak terlalu mempersoalkannya, tapi jika menurut saya sendiri ya mungkin usianya berkisar sekitar delapan puluh tahunan.
Perkenalan saya dengan nenek ini, dimulai ketika saya mulai tertarik untuk  berbincang-bincang dengannya. Diawali dengan kunjungan saya yang pertama kemudian berlanjut menjadi kunjungan rutin. Dalam setiap pertemuan si nenek selalu bercerita tentang masa lalunya. Pernah suatu hari dia bercerita akan masa mudanya, menurut pengakuannya dia dulunya adalah seorang juru masak di rumah seorang taipan asal Jepang, karena kehandalannya dalam memasak sang majikan membawanya serta ketika ia pulang ke negerinya. Di Jepang ia dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga tetapi tugas utama dia adalah memasak emm semacam jadi chef , dan masih banyak lagi cerita-cerita lainnya yang si nenek ceritakan kepada saya dengan penuh antusias.

Dari hari ke hari nenek ini juga menjadi cukup dekat dengan saya ,dan menjadi akrab dengan kehidupan saya saat itu. Entah karena saya yang sedikit berlebihan dalam memperhatikannya atau entahlah yang jelas dia sudah menganggap saya ini anaknya. Oya, nenek ini hidup sebatang kara tanpa sanak dan keluarga, ia tinggal disebuah rumah kontrakan yang jika dilihat sangat kurang layak huni, karena kondisi rumahnya yang sudah sangat jelek dan reot *maaf bukan bermaksud menghina  dan ia tidak dikenai biaya seperserpun untuk rumah tinggal ini atas  belas kasihan si empunya kontrakan. Intensitas pertemuan yang semakin sering itu membuat si mbah (biasa saya memanggilnya demikian)  ini semakin akrab saja dengan saya, bahkan ia tidak segan-segan meminta sesuatu yang ia butuhkan pada saya dan  dengan rela hati pula saya memenuhinya sepanjang saya mampu memberinya *bukan sombong. Hingga suatu hari, ketika saya kembali mengunjunginya , berkatalah ia pada saya dalam bahasa Jawa (si mbah ini tidak bisa bahasa Indonesia) yang notabene saya sendiri tidak bisa bicara bahasa Jawa tapi sekedar mengerti saja , begini kira-kira jika saya artikan ke dalam bahasa Indonesia :  "nak kita ke rumah pak RT yu ! " katanya pada saya, "mau apa mbah ?"  saya balik bertanya padanya, "saya mau bilang pada pak RT kalau kamu itu anakku"  kata si mbah lagi, "trus mbah ?"  tanya saya penasaran, "ya aku mau bilang sama pak RT kalau kamu itu anakku terus aku mau ikut tinggal dengan kamu",  katanya lagi menjelaskan lebih detail maksud ajakannya tersebut. Saya terdiam.Tak berdaya menolak.

Setelah kejadian si mbah berkeinginan tinggal bersama saya ini, membuat saya berfikir untuk menjauh dari si mbah. Awalnya saya mulai mencari alternatif jalan lain jika saya berangkat bekerja supaya saya tidak bertemu si mbah, dan setelah saya menemukan jalan alternatif tersebut, hampir dua tahun kemudian setelah kejadian itu saya tidak pernah menemui si mbah kembali. Pernah beberapa kali saya melewati rumahnya hanya untuk mengetahui keadaannya, dan supaya si mbah tidak mengenali saya kadang blazer yang saya kenakan saya coba untuk menutupi wajah saya (sebenarnya saya tidak tega sama sekali) dan beberapa kali juga ia tetap mengenali saya, bahkan ia akan berteriak begini : Jayantiii ... itu kayonya Yanti yo, teriaknya (bukan menghentikan langkah, saya malah berjalan lebih kencang lagi. Jahatnya saya !!). Sebenarnya nama saya juga bukan Jayanti atau Yanti tapi entah karena apa si mbah ini kalau memanggil saya ya itu tadi Jayanti atau Yanti, meskipun saya sudah bilang padanya bahwa nama saya bukan itu # ah mbah buat geli saya saja.  Dan setelah sekian lama tidak bertemu dengan si mbah lagi, akhirnya si mbah hampir tidak mengenali saya lagi. Selamat, kata saya dalam hati saat itu. Setelah saya rasa si mbah sudah tidak mengenali saya lagi, akhirnya saya putuskan untuk lewat depan rumahnya kembali. Dan si mbah memang benar-benar tidak mengenali saya lagi karena matanya yang semakin rabun  #maaf kan saya 'mbah !

Mungkin sahabat menganggap saya tidak punya hati, tapi sebentar saya masih punya alasan mengapa saya menghindarinya. Alasan utama saya adalah :
                                Saya belum mampu membiayai orang
  (ini adalah hal paling buruk dalam hidup, tidak bisa menolong orang yang membutuhkan pertolongan)
Mungkin juga sahabat bertanya , mengapa saya tidak berterus terang  saja pada pada si mbah, maaf saya sudah sangat mengerti sifat si mbah  : 
                                            Ia akan memaksa
                                                                           (ini hal yang tidak bisa saya tolak)
Dan asal sahabat tau, pada saat itu saya juga hidup sendiri dan masih ngekost pula, mana mungkin saya bisa menampung si mbah ini. Jika saya masih bisa memberi sedikit saja rejeki saya pada si mbah, itu juga bukan karena saya berlebihan tapi karena saya mencoba untuk menyisihkannya buat si mbah.

Sahabat saya akui saya telah salah dalam mengambil sikap. Tidak seharusnya saya menjauhi si mbah ini ,  saya telah salah ambil langkah. Semoga jika sahabat menemui hal semacam ini, jangan pernah menghindar mungkin masih ada  jalan lain yang lebih baik.

Dan hari ini, ketika saya melewati rumahnya kembali  ada bendera kuning kecil bertengger, ya itu adalah tanda kepergian si mbah ke Rahmattulah. Dan pada hari ini juga saya baru tau nama si mbah, yang ternyata bernama "Saliyem" (selama saya dekat dengannya saya tidak pernah menanyakan namanya # teganya saya!)

Maafkan semua kesalahan saya mbah.
Selamat Jalan mbah, semoga dilapangkan jalannya.Amin.


17 komentar:

  1. Amin ... semoga si mbah mendapatkan tempat yang lebih baik di sisi Nya. Amin ^^

    BalasHapus
  2. Sebuah dilema, dan sayapun belum tentu bisa menerima keinginannya manakala saya ada dalam posisi Mbak MD.
    Kadang kita menghadapi pilihan yang sulit, yang kita sendiri tak berdaya.
    Ada cerita yang hampir sama. Seorang kakek tua penjual gentong & pot yg sering lewat rumah saya. Iba sekali melihatnya, tapi karena potnya terbuat dari tanah dan saya tak membutuhkan, maka saya tak pernah beli. Dan karena rasa kasihan, Kakek tersebut sering saya suruh istirahat dan saya kasih minum + uang yang tak seberapa.
    Bedanya, kakek tersebut tak pernah ngajak saya kerumah Pak RT...

    BalasHapus
  3. Waaah aku juga kalau jadi mbak milih ngehindar. Bingung juga ya. Serba salah.
    innalillahi, semoga mbah saliyem baik baik di sana...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Una, saat itu bingung untuk bertindak

      Hapus
  4. innalillahi wa inna ilaihi rojiun ,,,, semoag smbah diterima di sisiNya..

    postingan yang inspiratif

    salam bahagia dan follow juga ya
    Revolusi galau

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks kunjungannya, dah saya follow tuh :D

      Hapus
  5. Innalillah, semoga mbah saliyem tenang disisi-Nya yah
    Mrasa bersalah jg gak apa, sbg bahan introspeksi bagaimana semestinya bersikap kedepannya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Syam bener banget, sebuah pembelajaran.

      Hapus
  6. Innalillahi Wainnailaihi Roji'un
    semoga dilapangkan jalan Almarhumah di sisi-Nya..

    BalasHapus
  7. Amien. Semoga di terima disisi-Nya

    BalasHapus
  8. inalillahi, semoga amal ibadahnya di terima oleh Alloh.

    BalasHapus

Kunjungan anda adalah harapan bagi saya, tinggalkan jejak anda pada kolom komentar sebagai tanda harapan buat saya. Dan, semoga ini bukan harap-harap cemas :)
Dan diatas semua harapan, saya haturkan terimakasih atas kunjungannya :)