Translator

Selasa, 08 Januari 2013

Suara Lembut Sang Perayu


Suara itu masih mengaum-aum mengikuti saya, tak peduli kemana saya melangkah.

Sebenarnya saya merasa takut padanya, karena ia selalu membuntuti saya. Bersahabat dengannya, bisa jadi karena ketidaksengajaan saja atau karena saya sudah terjerat rayuan mautnya, sehingga tanpa disadari saya telah menjadi sahabat karibnya.

Perkenalan saya dengannya mungkin sudah berjalan sejak saya kanak-kanak. Tetapi seiring berjalannya waktu saya merasa gerah juga berdekatan denganya terus, saya lebih banyak meruginya dibanding untungnya sehingga saat ini saya memutuskan untuk putus hubungan saja dengannya. Dan ini membuat ia tidak terima. Ia marah pada saya. Mungkin ia mengganggap saya penghianat atau seorang yang tidak setia kawan. Atau mungkin juga ia merasa saya telah  meninggalkannya tanpa saya berani terus terang padanya untuk tidak berhubungan lagi dengannya.

Kenakalan-kenakalan yang kami buat dulu, mungkin tidak separah seperti dikemudian hari, saat saya menjadi beranjak besar - dewasa - dan menjadi tua seperti sekarang. Tetapi kenakalan-kenakalan yang dulu dianggap lucu dan lumrah itu berubah menjadi tidak lucu dan tidak lumrah. Cela-celaan yang dulu hanya lucu-lucuan saja berubah menjadi celaan kedengkian atau menjadi sebuah keirian hati.

Saya memang telah takut untuk berterus terang padanya, bahwa persahabatan saya dengannya sudah tidak ideal lagi.  Saya merasa dirugikan. Tetapi ia berkata "Apanya yang rugi ?", tanyanya pada saya suatu waktu. Saya terdiam tak bisa menjawab atau memberikan satu alasanpun padanya ketika ia mendesak menanyakannya. Yang saya tau saya telah diperbudak olehnya. Saya sudah merasa seperti tokoh Haji Muhidin atau Hajjah Maemunah saja di sinetron tipi "Tukang Bubur Naik Haji", yang akan merasa bahagia atau teramat senang jika melihat orang lain kesusahan. atau sedang ditimpa musibah. Atau ketika diri saya yang sedang dalam kesusahan maka saya akan menyalahkan orang lain.



Kelakuan yang seperti Haji Muhidin atau Hajjah Maemunah ini sudah seperti mendarah daging saja pada diri saya. Persis seperti mereka, sayapun kadang merasa diri seorang yang suci layaknya malaikat. Yang selalu mengaku diri sebagai orang benar, seperti yang Haji Muhidin sering katakan "Saya kan Haji dua kali, Haji Mambrur. Allah itu akan sayang pada orang yang benar seperti saya" katanya. Waah saya sudah ngaco menganggap diri benar. Bagaimana saya bisa menjadi orang benar, jika saya saja masih bersahabat dengannya ?!.

Tapi belakangan ini saya mulai tersadar dari bius rayunya. Saya merasa diri saya ini kotor. Banyak dosa sudah saya perbuat karena bersekutu dengannya. Kesadaran kadang datang setelah suatu peristiwa terjadi. Dan saat kesadar itu datang, tidak ada kata terlambat untuk bertobat.

Akhir tahun 2012 baru saja berlalu, dan diawal yang tahun 2013 ini sayapun ingin memperbaiki diri, menjadi pribadi yang lebih baik. Meski mantan sahabat saya terus menguntit saya, saya tidak boleh tergoda. Saya harus mulai memakai kacamata kuda, hingga saya berjalan lurus tidak perlu tengok kanan atau kiri lagi. Banyak tawaran yang menggiurkan darinya, tetapi saya tidak ingin iman saya tergoda lagi oleh mantan sahabat saya itu.

Jika iman saya saja sudah saya bentengi sedemikian rupa, saya rasa saya tidak akan mudah tergoda oleh apapun juga. Tetapi sssssebentar, si Iman tetangga saya yang ganteng itu masih terus menggoda saya. Memandangi saya dengan tatapan mata penuh nafsu. Merayu saya. Mengajak saya berkencan. Dan sejuta ajakan-ajakan lain. 

Disaat lain, ketika anak saya menangis meminta dibuatkan susu, saya malah lagi asik masyuk berciuman dengan si Iman tetangga saya itu. Suara tangis anak saya yang kehausan itu bertabrakan dengan suara helaan nafas kami berdua, yang sudah terkena bius hawa nafsu. Suara itu mengencang, tersenggal, kemudian lambat laun menurun dan melemah, hingga tinggal suara dengkuran nafas saja yang terdengar.


Suara auman si Iblis diluar itu rasanya lebih kencang dari sebelumnya. Seperti suara sebuah kemenangan. Dan saya merasakan auman itu sekarang milik saya. # hiiii amit-amit



My Note : Banyak hal yang membuat kita mudah tergoda.



Salam,
Auntie Dazzling

32 komentar:

  1. masalalu tetaplah masalalu yang selalu berkata jujur pada dirinya sendiri...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masa lalu adalah pengalaman dalam melangkah kedepan :)

      Hapus
  2. bangun...bangun.. insyaf dong hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha ini udah bangun dari 'mimpi' sekejap hehe

      Hapus
  3. hmmmm ... ayo bangkit sekali lagi jeng ... #atau saya yg mengaummm???

    BalasHapus
    Balasan
    1. Please jangan mengaum ah, aku takut mendengarnya * hehe

      Hapus
    2. #gak yakin neh kalo takut :P

      Hapus
    3. Bener kok takut, ini aja bacanya sambil tutup muka wew :)

      Hapus
  4. Great post.^^
    Maybe follow each other???
    My Blog

    BalasHapus
  5. manusia akan selalu di goda oleh para iblis sampai kapanpun :D

    BalasHapus
  6. terimakasih atas pencerahannya ...d tunggu follow dan komentar balikny :)

    BalasHapus
  7. ikuti kata hati sobat, saya yakin semuanya akan baik baik saja sobat...? enjoy saja dan beri sedikit sikap agak cuek

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe ... itu mas cuma fiksi kok bukan sebenarnya :D

      Hapus
  8. great blog! would you like to follow each other? let me know!

    BalasHapus
  9. Balasan
    1. Iman dan godaan kan emang pasangan yang ideal. hehe :)

      Hapus
  10. ini cerita fiksi apa berdasarkan cerita nyata mbak ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah say itu fiksi kok cuma dibuat seperti kejadian sebenarnya, jangan sampe deh saya kaya gitu :)

      Hapus
  11. godaan dr mna dan.kpan aja ya jeng..butuh perjuangan utk menangkis dr semua serangan itu. krn yg ada jika terbawa arus godaan itu..jelas merugi banyak bgi kita sbg manusia....

    smg terhindar dr semua itu...aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, ya Mi itu cuma fiksi aja kok Mi :)

      Hapus
  12. Kalau bisa jangan seperti haji muhidin sob. Nanti sia-sia belaka amalannya karena hilang oleh sifat riya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah bener banget bro, semoga saja ini hanya cerita & tidak pernah terjadi sesungguhnya :)

      Hapus
  13. waw. godaan itu kalo diikuti bisa membuat kita "terlihat hina" sekali dihadapan Tuhan. Maka ayo semangat untuk merubahnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, dan semoga saja itu tidak pernah terjadi dalam kenyataan dan hanya terjadi dalam 'imajinasi nakal' tulisan saya saja hehe :)

      Hapus
  14. selalu buka mata agar dapat melihat kebenaran :)

    BalasHapus

Kunjungan anda adalah harapan bagi saya, tinggalkan jejak anda pada kolom komentar sebagai tanda harapan buat saya. Dan, semoga ini bukan harap-harap cemas :)
Dan diatas semua harapan, saya haturkan terimakasih atas kunjungannya :)

Youth Has No Age

Semangat Muda! Entah karena alasan apa, setiap saya pulang dari arah kebayoran lama ke arah Mayestik, tepatnya entah di sekitar ...