Translator

Kamis, 05 September 2013

Cerita di Balik Kantor Polisi


"Hidup itu laksana air yang mengalir mengikuti alirannya. Kadang Ia berjalan lurus, membelok dengan elok, atau kadang berbelok tajam dan menukik. Ya, laksana itulah hidup kita, kadang tenang, kadang menemui rintangan. Tetapi, biarkanlah hidup mengalir mengikuti alurnya."

                                                                    ***


Beberapa hari lalu saya pergi ke kantor Polisi, tujuannya tidak lain membuat surat keterangan kehilangan. Sampai kantor Polisi sekitar jam sepuluh siang, matahari menyorot cukup hangat dan itu cukup menghangatkan kulit tubuh saya yang segera merasakan hangatnya sang mentari setelah sebelumnya kedinginan di ruang kerja saya yang cukup dingin nan mengigit.

Di luar kantor polisi cukup banyak orang mengantri, cukup aneh juga saya melihatnya karena biasanya tidak sebanyak itu  kerumunan orang di kantor Polsek ini. Dengan wajah sedikit terheran-heran saya kemudian masuk ke layanan pengaduan masyarakat. Seorang polisi datang menghampiri sambil tersenyum dan menyalami saya.

"Selamat siang, bisa di bantu?" Tanya Pak polisi dengan wajah ramah.
"Siang, saya mau buat surat pengaduan Pak!" Jawab saya.
"Oh, silahkan di sini Bu!" Balasnya ramah sambil menunjuk ruangan khusus pengaduan.

Saya tersenyum sambil mengucap terimakasih padanya. Di ruang pengaduan saya bertemu dengan petugas pembuat laporan dan bla bla bla saya berbincang dengan pak Polisi ini. 

"Pak, ada apa sih rame banget?" Tanya saya.
"Oh, itu ada acara halal bihalal!" Sahutnya sambil tersenyum.
"Kalau kemarin belum halal kalau sekarang sudah!" Candanya.
"Kalau yang ngantri itu Pak ?" Tanya saya lagi
"Hehe ... itu yang lagi antri buat SKCK," sahutnya sambil senyum-senyum genit ke arah saya.
Saya membalasnya dengan senyuman kecil.

Di luar sana, ada  sekelompok Ibu muda yang semuanya membawa anak kecil berumur sekitar satu sampai dua tahun. Mereka berjumlah lima orang Ibu dan lima orang Anak Balita. Saya penasaran! Ada apa dengan mereka? 

Setelah urusan selesai saya tidak segera pulang, tetapi saya malah duduk-duduk di ruang tunggu pengaduan - bukan karena saya masih betah berlama-lama di kantor Polisi, tetapi karena saya masih menanti seorang teman yang  akan menjemput saya. Cukup lama saya menunggu, tak juga datang sang Teman. 

Akhirnya setelah bosan menunggu, saya malah berinisiatif menghampiri kerumunan lima Ibu muda  yang sejak awal saya datang telah mengelitik rasa penasaran saya.

"Bu, ada apa?" Tanya saya langsung tembak.
"Ini suami-suami kita di tangkep Polisi tadi malem," jawab salah satu Ibu.
"Kenapa Bu?" Tanya saya lagi.
"Ketangkep judi!" Sahutnya tanpa sedikitpun raut wajah sedih.
"Ooh!" Cuma kata itu yang keluar dari mulut saya.

Dan terjawablah sudah rasa penasaran saya terhadap mereka.

Setelah perbincangan singkat ini, malah membuat saya lebih menajamkan panca indera saya. Mata dan telinga saya lebih awas akan sekitar. Saya menjadi memperhatikan setiap orang yang datang.

"Selamat siang, bisa di bantu Pak?" Sapa pak Polisi yang tadi menyapa saya pada seorang Bapak yang baru datang.
"Mau menjenguk Rio," sahut si Bapak sambil menganggukkan kepala.
"Kasus?" Tanya pak Polisi.
"Narkoba," sahut si Bapak.
Kemudian terjadi percakapan yang cukup serius, diakhiri sang Polisi yang menunjukkan arah kepada si Bapak.

Selang beberapa menit muncul sepasang Ibu-Bapak. Seperti tadi merekapun di sapa pak Polisi, nampaknya pak Polisi ini memang bertugas menyambut setiap orang yang datang, dan rasanya kantor Polisi ini menjadi terlihat lebih ramah dan bersahabat. Dan sayapun bisa merasakan kehangatan dan keramahan ini. *Semoga keramahan dan kehangatan ini gak sementara, ya Pak!

Dari curi dengar perbincangan pak Polisi dengan Ibu dan Bapak tadi, ternyata mereka akan mengunjungi keponakan mereka yang tertangkap mencuri.

"Hmmm ... Kasian keluarga mereka."

Sudah hampir setengah jam saya masih belum beranjak pulang karena teman saya belum juga datang menjemput. Tak lama, ke lima Ibu muda yang sejak tadi di luar diberitahu sudah boleh menjenguk suami-suami mereka. Segera mereka berbarengan masuk. Terdengar obrolan mereka yang sempat terekam telinga saya.

"Biarin aja! Jangan di tebus, buat pelajaran bagi mereka!" Terdengar ocehan salah satu Ibu dengan nada kesal dan gemas dengan tingkah polah suami mereka yang doyan berjudi.

"Kasihan," bisik hati saya.

Ya, hanya rasa empati saja yang saya bisa lakukan tanpa bisa berbuat banyak. Dan sejurus kemudian, mata saya mengikuti tubuh mereka yang berjalan menuju ruang di mana suami mereka di tahan.


***

Menunggu memang hal yang paling tidak mengasikkan. Tetapi ternyata di kantor Polisi ini disaat tak ada teman untuk berbincang atau tak ada buku yang bisa di baca, justru saya mendapatkan cerita-cerita yang biasanya di dapat dari berita di tipi. Tidak pernah terlintas sebelumnya saya bakal mendapat cerita-cerita di atas tadi secara langsung.

Saya masih menunggu teman saya sambil memandang kearah dalam, sejurus kemudian keluar sepasang Ibu dan Bapak, saya taksir mereka Suami-Istri. Tak lama keduanya malah duduk persis di sebelah saya yang hanya terbatasi satu kursi kosong saja.

"Pak, saya pinjam uangnya dulu ya, nanti saya ganti. Di rumah saya ada uang, sekarang lagi gak bawa sebanyak itu," kata si Ibu pada Bapak yang tadi bersamanya.

"Iya Bu," jawab si Bapak datar.

"Anak saya itu Pak suka nangis kalo saya di pukuli sama Bapak tirinya ini. Dia kan sudah besar, sudah SMP, jadinya Dia suka marah kalo suami saya itu mukulin saya," jelas si Ibu pada Bapak yang menemaninya. Dan, oh ternyata si Bapak ini tetangganya bukan suaminya.

Dengar punya dengar, ternyata si Ibu ini seorang janda beranak satu sedangkan suaminya sekarang yang Ia jebloskan ke penjara karena kasus KDRT ini adalah tadinya seorang bujangan. Si Ibu bercerita pada tetangganya ini, bahwa mungkin Ia akan menceraikan suaminya ini, setelah sebelumnya Iapun pernah menikah dua kali. Dan berarti ini akan menjadi perceraiannya yang ketiga jika akhirnya Ia benar-benar menceraikan suaminya yang doyan KDRT ini. *hadeuh, kasian!


***

Huuuh .... saya menarik napas. Berat nian saya melihat dan mendengar penderita orang-orang yang hari ini saya temui di kantor Polisi ini. Dan tiba-tiba saja saya teringat keluarga kecil saya. Wajah anak dan suami saya langsung terbayang di ingatan saya.

"I love you!" Tanpa sadar bibir saya berucap.

Ya, saya sangat bersyukur dengan keluarga kecil saya yang sampai saat ini kondisinya baik-baik saja. Puji syukur saya panjatnya padaMu Gusti yang telah memberikan keluarga yang bahagia, meski kami hidup sederhana tetapi kami bahagia dengan apa yang ada pada kami.

Terbayang wajah suami saya dengan segala sifat dan tingkah lakunya, saya berdoa dalam hati semoga Ia tidak akan pernah melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga seperti cerita Ibu di sebelah saya yang baru saja saya dengar tadi. *Amin


***


Suami saya mendekap saya dari arah belakang dengan penuh kehangatan. Napasnya hangat bagai membelai rambut saya. Ada ketenangan dalam jiwa saya. Ia mencium kecil kepala saya, dan rasa damai itu segera saja merasuki diri saya. Mata saya tak berhenti berkejap menyaksikan pemandangan sekitar yang sangat menakjubkan. Ya, desa Edensor - desa di lereng bukit Derbyshire, Inggris, ini memang sangat menawan dan saat ini saya berada di tempat dimana saya telah impikan sejak kecil. Inggris, Inggris, Inggris dan hanya Inggris! Negara yang sangat  saya ingin kunjungi sejak saya kanak-kanak, dan saat ini saya benar-benar berada di tempat impian itu.

Saya hampir saja tak bisa berkata apa-apa. Mata saya sibuk menjelajah desa yang begitu indah ini, menyusuri punggungan bukit-bukit di kawasan Derbyshire. Warna-warni (sesuai nama blog saya kan! hehe) sekitar sangat elok dan rupawan. Permadani hijau menyelimuti permukaan bukit yang tak terlalu tinggi, dihiasi titik-titik putih di kejauhan. Titik-titik putih itu tak lain adalah kawanan domba Derbyshire yang sedang asyik merumput. Waah pokoknya menakjubkan! It's very awesome deh! Thanks buat my husband, yang telah mewujudkan semua mimpi saya menjadi kenyataan. Peluk cium buat kamu honey :)


Edensor UK - Desa Dongeng di Dunia Nyata  * Foto : Koleksi pribadi kata yang punya!

Edensor! Desa ini dulu didesain sebagai tempat tinggal para pekerja kebun, tukang asuh kuda, serta pelayan rumah tangga bagi para bangsawan yang tinggal di Chatworth. Pokoknya artistik deh! Namun, yang membuat saya lebih terpana adalah bagian belakang rumahnya. Terdapat halaman yang sangat luas, berhiaskan air terjun buatan! Air terjun buatan ini dibangun di punggung bukit. Airnya dipompa dari danau yang letaknya tak jauh dari rumah megah ini. Saya terpana! Terpukau dengan semua keindahan ini. Gusti terimakasih, saya berucap syukur dalam hati.

"Ayo Mba!" Terdengar suara seseorang yang cukup saya kenal mengagetkan saya yang sedang menikmati semua panorama keindahan alam desa Edensor-Inggris ini. Saya menoleh kaget.

"Ngapain Mba, bengong!" Sahutnya lagi.

"Jadi 'gak ke Bank ?" Tanyanya.

Duh Gusti! Ternyata tadi saya menghayal hingga ke Inggris, gara-gara saya memandang pepohonan di luar kantor Polisi yang cukup asri ini. Dan saya, malah menghayalkan itu bagai saya berada di desa kecil Edensor UK itu.

"Yo, Ri," sahut saya malas, sambil beranjak mengikutinya.

Huh, sebel! Akibat kelamaan menunggu, akhirnya hayalan telah mengantar saya mengapai mimpi pergi ke UK di siang bolong, meski hanya sesaat dan hanya dalam hayalan hehe.  *tapi semoga ini bener terjadi. Hope!


* Edensor (baca: En-Zer)


My Note :  Mimpi itu harus tetap ada, jangan biarkan padam dan make it real :)
 

 Salam,
Auntie 'eMDi' Dazzling


35 komentar:

  1. orang di kantor polisi urusannya macem-macem. Kalau nggak bikin surat atau laporan khusus ya terkena kasus.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pastinya begitu, tpi gak nyangka aja bakal mendengar kisah2 di atas secara langsung :)

      Hapus
  2. banyak sekali cerita dari Kantor polisi ya mbak, yg serem itu yg istri dipukuli sama suaminya, sungguh terlalu !

    btw, desa seperti di Foto itu byk sekali di sekitar tempat tinggalku sini mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya El takut ngebayanginnya.

      Waah pastinya El ... Austria gitu hehe :)

      Hapus
  3. kalo mau tahu hidup datang saja ke kantor polisi, beragam masalah ada di sana. sabar banget para pak polisi yang nangani masalah2 itu ya. dan yg palin gjadi momok sampe sekarang, gak hanya di sini, itu judi. para bapak2 doyan banget ngundi nasib dari togel, kartu2.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yups, judi emang banyak macamnya pak guru :)

      Hapus
  4. hmm kisah yang komplit, kubaca sampai tuntas!

    BalasHapus
  5. wah banyak banget cerita dari kantor polisinya mbak... hehehe kejelekan dan kebaikan di kantor polisi masih banyak lagi mbak.. hehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya itulah cerita2 yg sempat aku rekam, mungkim klo seharian bisa lebih banyak tentunya :)

      Hapus
  6. ªkυ̲̣̥ malah ngalmin pelayanan yg buruk di sana, no good,
    But critanya krennlah bsa nympe ke inggris sgala khyalanya, ◦нê◦нë◦нê◦нë◦нê◦°◦ :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ngalamin hal buruk? Waah mungkin karena kamu cantik Ci jadinya sengaja dilama-lamain kale hehe ...

      Iya baru mimpi nih ke Inggrisnya, semoga langit memeluk mimpiku hehe :)

      Hapus
  7. ªkυ̲̣̥ malah ngalmin pelayanan yg buruk di sana, no good,
    But critanya krennlah bsa nympe ke inggris sgala khyalanya, ◦нê◦нë◦нê◦нë◦нê◦°◦ :p

    BalasHapus
  8. suka merinding kl denger crt2 yg berurusan sm polisi, tp di sisi lain bikin kita jd bersyukur :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener Chi, kita jadi banyak bersyukur klo melihat semua kejadian di atas :)

      Hapus
  9. Balasan
    1. Haha pak Mars bisa aja ... Kantor Polisi UK pak ???? Hihihi ...

      Hapus
  10. Aku pernah ngantri buat urus Surat keterangan berkelakuan baik di kantor polisi...mungkin karena rame jadinya lama juga ada kutipan yang seikhlasnya. :D
    Ayok ke Edensor mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi kena pungli ya Haya? Iklasin aja deh

      Ayo Ya kita bareng2 ke sana :)

      Hapus
  11. khayalan kok jauh amat dari urusan mendengar celoteh di kantor polisi sampai ke tempat yang jauh....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi that's one of my dream sista :)

      Thanks ya sudah berkunjung :D

      Hapus
  12. bikin surat kehilangan apa Mba?
    Kalo di kantor polisi emang segala kasus ada Mba..dan hati2 ntar kalo ada tetangga yang sedang lewat trus lihat Mba di kantor polisi dikira mba lagi ditangkep polisi :P
    Kudunya pas kamu menghayar disiram sama es kelapa Mba wlwkwkwkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihi malu nih eike, ATM sama buku tabungan Nal :)

      Nanti di tanya : Kasus? tanya tetangga wkwkwk

      Es kelapa mah diminum, bukan di guyur Nal hehe

      Hapus
  13. Dari mendengar obrolan saja, kita jadi tambah wawasan yah? :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Nuel, ternyata berita2 di tipi itu begitu nyata ketika kita berada di kantor polisi :D

      Hapus
  14. no comen dah kalau soal pak lisi, hehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. No comen gapapa, tetapi The Comment ada tuh di Net TV hehe

      Hapus
  15. wah berarti seperti nonton acara patroli tapi live ya bu..

    BalasHapus
  16. Wah mba masih dikantor polisi aja, belom keluar toh? :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha sebenernya dah bosen Nal. Ini segera aku mau kabuuurrrr :)

      Hapus
  17. di kantor polisi sempat2nya ngayal mb...he2X
    #lanjutkeunngayalnya

    BalasHapus
  18. hahahaha =D

    Terima kasih atas infonya, sangant bermanfaat khususnya saya pribadi,
    ditunggu ya ! KUNUNGAN BALIKNYA " http://cidome.blogspot.com "

    BalasHapus

Kunjungan anda adalah harapan bagi saya, tinggalkan jejak anda pada kolom komentar sebagai tanda harapan buat saya. Dan, semoga ini bukan harap-harap cemas :)
Dan diatas semua harapan, saya haturkan terimakasih atas kunjungannya :)