Translator

Senin, 21 Oktober 2013

Pohon Kapuk

 
Fiksi

"Pengantin pria itu tersenyum penuh makna kepadaku. Aku mencium pipi sahabatku, memeluknya dan mengucapkan selamat menempuh hidup baru bersama sang Arjuna pujaan hatinya, yang telah dengan paksa menaruh benih di rahimku ."  #bangsat!

                                                                                                            ***

Aku berdiri di pinggir jendela rumah sakit tempat dimana suamiku di rawat. Mataku menyapu pemandangan di bawah gedung ini. Di depanku, tepatnya di seberang rumah sakit ini, aku dapat melihat beberapa bangunan yang terlihat cukup jelas dari lantai empat ini. Ada gedung pertemuan Sejahtera, roti bakar Edi dan di sebelahnya ada kantor pusat Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSI). Nah, tepat di sebelah PRSSI inilah ada tumbuh cukup banyak pepohonan, diantaranya adalah pohon kapuk. Mataku terpesona oleh pohon-pohon kapuk ini. Ada beberapa pohon yang tumbuh cukup besar dan kokoh, dan satu dari sekian pohon itu aku rasakan paling cantik. Pohonnya paling besar dengan batang-batang ranting yang cukup besar pula. Bentuk batang rantingnya berderet seimbang antara sebelah kiri dan kanannya, sehingga tampak sekali pohon ini begitu kokoh dan indah. Tak bisa ku pungkiri, mataku terpesona oleh keindahan ini.

Sore ini, aku sudah berdiri lagi di bibir jendela rumah sakit ini. Sayang sekali hari sudah mendekati petang sehingga gelap sudah mulai membayangi. Tapi demi si Pohon kapuk, aku tetap mencoba menikmati keindahannya meski seorang diri saja.

Dan untuk menit kesekian aku masih berdiri. Bergeming di antara hipnotisan pohon kapuk dan kepuasan mataku. Posisi pemandangan yang begitu ideal ini membuatku tidak pernah di dera rasa bosan. Yang ada aku bagai kecanduan memandangi pohon kapuk ini. Entah pagi, siang, atau pun sore hari dan andai malam pun bisa menikmati keindahannya, rasanya aku akan menghabiskan waktu hanya sekedar memuaskan hasrat mataku. Seperti sore ini, aku menyempatkan diri melihat pohon kapuk ini di sela-sela rasa capeku mendampingi suamiku yang terbaring sakit di rumah sakit ini.

Letak jendela ini  sebenarnya berada di ujung lorong jalan, tapi ku lihat jarang sekali orang memanfaatkannya untuk menikmati pemandangan di luar sana. Mungkin hanya akulah orang yang paling menikmati posisi jendela ini, yang di mataku posisinya paling strategis untuk menikmati pemandangan di luar sana. Seperti saat ini, orang menatapku dengan pandangan aneh. Seorang ibu lewat di sampingku, wajahnya di penuhi keanehan memandangku. Tak lama ada segerombolan orang melewatiku lagi mereka tampak keheranan menatapku. Dan beberapa pengunjung lain rumah sakit ini dengan raut muka hampir sama "raut muka berkerut." Aku mencoba tak acuh dengan semuanya. Dengan pandangan mata aneh ke arahku itu. Justru yang patut aneh itu aku, kok bisa-bisanya mereka tidak bisa menangkap keindahan pohon kapuk di luar sana itu, batinku.

Mataku memandang keluar, tepatnya memandang pohon kapuk yang terbesar dan tercantik itu. Ku tarik bibirku membentuk sebuah senyuman bahagia. Ya, bahagia. Bagaimana tidak, karena aku melihat bunga-bunga kapuk itu mulai merekah, keluar dari cangkangnya. Ada banyak kelompok putih bunga kapuk menggantung. Membuatku makin terpesona dibuatnya. Ku dekatkan mukaku pada kaca jendela, hingga kulit mukaku melekat dan terasa dingin. Mataku menelusur, mulai dari batang paling atas dengan warna hijau daun lebih terang, menjelajah ke bawah. Ada sekelompok bunga kapuk yang ukurannya cukup besar di satu batang besar ini. Hampir tak percaya ku melihatnya. Ku ambil kaca mata yang bertengger di atas kepalaku, ya sekarang aku bisa melihatnya lebih jelas. Ku dekatkan kembali mukaku di kaca jendela, hingga kaca mataku berbenturan dengan kacanya. Aku terkaget. Ternyata mataku tak salah, memang ada sekelompok warna putih besar. Besarnya hampir seukuran orang dewasa. Ku sipitkan mata, tetapi yang kulihat justru sesosok tubuh berbalut kain putih dengan rambut panjang, posisinya seperti orang sedang duduk di batang pohon dengan kaki menjuntai ke bawah. Ku lihat, sosok itu menyeringai sambil melambaikan tangan ke arahku. Selintas, ia tampak seperti seorang perempuan. Bulu kudukku langsung berdiri. Tubuhku merinding dingin. Mukaku kaku, tak bisa ku palingkan dari pemandangan yang menyeramkan ini. Dan yang paling membuatkan prustasi justru kakiku yang tak bisa diajak kompromi untuk berlari. Kakiku seperti di lem kuat dengan lantai. Sialnya lagi mulutku pun tak bisa berkata-kata, padahal ingin benar aku teriak. Tetapi yang keluar hanyalah lenguhan napasku saja yang terasa hangat diantara seluruh tubuhku yang mendadak dingin. Napasku memburu, ku coba berteriak lagi.
Dan ...

"Setaannn ...!" Teriakku kencang.

Bruuukkkk! Tubuhku pun limbung terjatuh.

Tapi kesadaranku seratus persen penuh. Ku lirik jam dinding menunjukkan pukul dua dini hari, hampir tak percaya aku melihatnya. Lorong begitu kosong. Sepiiii. Tak ada seorang pun manusia yang berkeliaran. Aku masih tergeletak tak berdaya. Tapi ... sebentar! Lamat-lamat aku mendengar suara langkah seseorang berjalan cepat setengah berlari ke arahku. Selamat! Pikirku, ternyata di tengah ketakutan yang luar biasa mendera ini masih ada pertolongan datang. Mataku menangkap sosok seorang perawat dengan baju seragam berwarna hijau muda menghampiriku. Mungkin suaraku telah membangunkan perawat jaga, pikirku. Ku pejamkan mata untuk menenangkan diri. Bunyi sepatu si Perawat semakin mendekat. Rasa tenang segera menjalariku.

"Bu, bangun. Kenapa?" Tanya si Perawat sambil menepuk-nepuk mukaku. Aku diam. Mataku masih terpejam. Ah, rasanya aku harus segera berterimakasih padanya, batinku.

"Sus ... terimakasih ya?" Ucapku lemah, sambil kubuka mataku. Ku lihat si Perawat berjongkok membelakangiku hendak membukakan sepatuku.

"Sama-sama bu," jawabnya ramah sambil berbalik ke arahku. Senyumnya begitu ramah dengan tatapan mata yang paling aneh yang pernah ku lihat. Sekilas rasanya aku sangat familiar dengan wajah dan senyum si Perawat ini.

Taatapiii ...! Bukankah senyum dan wajah ini sama persis dengan sosok di pohon kapuk itu??

Aku mencoba mengingat. Ku lihat sosok itu dengan tegas. Dan sosok itu masih memandangku dengan seringai seram di wajahnya. Jantungku mendadak berhenti sesaat, kemudian aku pun jatuh pingsan.



Jakarta, 16 Oktober 2013

Di sela-sela menunggu my hubby di Rumah Sakit Haji Jakarta.




Salam,
Auntie 'eMDi' Dazzling

28 komentar:

  1. Huaaaa horor. Semoga suaminya sudah srmbuh ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks Lid, iya suamiku sudah sembuh sekarang :)

      Hapus
  2. Arghhhhh horor mbak >.< tapi aku gagal paham ma paragraf diatasnya? ._.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe paragraf dia tasa sama cerita emang gak ada hubungan, aku cuma senang saja kalo nulis selalu diawali dengan paragraf pembuka yang isinya bisa berhubungan dengan isi cerita, bisa juga tidak. Gitu dwee :)

      Hapus
  3. wadewww ... jadi bener nih susternya itu yg bikin Horror mbak ? serem

    BalasHapus
  4. Pohon kapuk kalo di kampung gue namanya pohon randu. Ada sih mitos bahwa pohon randu adalah tempat kongkow favorit kuntilanak 'n friends, apalagi yg batangnya growong. Mantep, idenya sederhana! Dari pohon kapuk dan rumah sakit. Dan sukses jadi fiksi yg keren!

    #oya? Hubungan cerita ama hashtag di atas apa ea, Ma'e?

    Btw, Pa'e sakit apa? GWS ea ... :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Paragraf di atas sama cerita emang gak ada hubungannya say. Aku cuma seneng aja kalo nulis selalu memakai paragraf pembuka, yang isinya belum tentu juga berhubungan dengan isi cerita. Ngono loh mas hehe

      Hapus
    2. Owhhh,. Ngono tooo? #hashtag

      Hapus
  5. Hiiiiiiih. . .
    Menakutkaan. Terus susternya itu u u u u u. . .setan jugaaa. Hahahha

    BTW, keterangan di atas itu mksudnya apa e, Mba? Hihihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Paragraf atas gak ada hubungannya sama isi cerita, itu cuma kalimat pembuka saja, gitu :)

      Hapus
  6. astaga..endingnya seram banget...ternyata hantunya ikut terus menyaru jadi suster pula...ohhssrraammmmmm :-)

    BalasHapus
  7. wew, pembukanya bikin penasaran, eh isinya ada setannya, sukses bikin penasaran, ajeng yang satu ini, awas jangan kebanyakan ngelamun deket tuh pohon, nanti ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tadinya sih aku pikir itu kamu StumonK lgi gelantungan makanya ku lihat sampe melotot, ehh gak taunya piaraanmu ya ? hehe

      Hapus
  8. Jangan2 pohon kapuknya dekat sma kamar mayat nih.. makanya mayatnya pd berubah wujudnya tuh.. he2X

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayaknya gitu bro, itu mgkn salah satu yg lgi main ke pohon kapuk hehe

      Hapus
  9. Diksinya sudah lumayan sih, tapi kok kurang seram yah, Bu? Maaf... Hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah thanks ya Nuel dah dinilai lumayan, terus emang bener sih kurang serem hehe

      Hapus
  10. oowwh, aku pikir cerita yang di bawah itu jg fiksi, ternyata beneran ya...trus wajahnya gmn tuh, masih jelas gak skr atau uda samar-samar...eemm...hhiiyy serem

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe gak say, ceritanya sih fiksi semua. Cuma kondisi pohon,rumah sakit dan suamiku sakit itu bener adanya :)

      Hapus
  11. wah ini cerita fiksi belaka ya mbak... tapi bagus banget mbak... saya akui deh mbak marchia pintar menyusun kata katanya.. hingga pembaca sangat nyaman membaca sampai habis...

    suami nya sekarang gimana mbak keadaannya. sudah sembuh ya..? pohon kapuknya kenapa nggak di foto mbak.. biar rada kelihatan nyata gitu.. heehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya suamiku dah sembuh. Iya nih gak kepikiran foto pohon kapuk, padahal kalo di foto keren juga ya ?

      Hapus
  12. Waduh,.. ternyata ujung-ujungnya cerita horor. Agak serem jugaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe iya say, tapi kurang serem juga tuh :)

      Hapus
  13. wah cerita mistis...tapi saya suka mbak pemilihan kata-katanya. kreatif.

    BalasHapus

Kunjungan anda adalah harapan bagi saya, tinggalkan jejak anda pada kolom komentar sebagai tanda harapan buat saya. Dan, semoga ini bukan harap-harap cemas :)
Dan diatas semua harapan, saya haturkan terimakasih atas kunjungannya :)

Youth Has No Age

Semangat Muda! Entah karena alasan apa, setiap saya pulang dari arah kebayoran lama ke arah Mayestik, tepatnya entah di sekitar ...