Translator

Senin, 28 Oktober 2013

Oh … Sepatuku!



“Saya berlari mengejar bus patas Mayasari Bakti P6 A jurusan Cililitan – Kalideres itu dengan penuh antusias. Taapp! Saya berhasil memegang pintu bus dengan kencang. Tapi … sayang, ada sesuatu yang tertinggal. Sepatu! Ya, sepatu milik saya tertinggal sebelah. Sial, saya harus turun kembali dari bus yang telah dengan susah payah saya kejar tadi.” #cape deh!

                                                                                                       ***


Naik bus di jam sibuk pagi hari dengan cara seperti di atas, dulu, bukan hal aneh bagi saya. Penyebabnya mungkin karena  jumlah bus dengan jumlah calon penumpang tidak seimbang, sehingga penumpang bertumpuk sedang jumlah bus hanya sedikit. Berbeda dengan sekarang, transportasi  bisa dibilang lebih baik. Apalagi dengan adanya bus way Trans Jakarta, terasa lebih nyaman meski memang belum senyaman jika naik transportasi umum seperti di negara tetangga kita, Singapura. Tetapi, bisa dikatakan perbaikan transportasi mulai terlihat, khususnya di Jakarta ini, apalagi jika pembangunan proyek MRT dan monorel berhasil, waah pastinya berpergian dengan transportasi umum akan terasa lebih nyaman dan meyenangkan, dan tentunya kita gak kalah dengan Singapura dong hehe.

Uuppss ... kok jadi ngomongin transporatasi ya? Ah, balik ke sepatu eh ke topik.


Sepatu, sepatu, sepatu! Sudah lima pasang sepatu di tahun yang sama harus saya ganti. Ini memang bukan kebiasaan saya sering membelanjakan uang hanya untuk urusan sepatu, karena prinsip saya jika sepatu itu masih enak dipake jarang sekali saya membeli yang baru. Jadi, biasanya saya hanya punya tiga pasang sepatu saja : dua pasang untuk kerja, satu pasang untuk jalan-jalan *hehe dikit banget kan! Ketauan deh, saya jarang beli sepatu. Tapi tahun kemarin saya sempat kedodoran dengan urusan sepatu ini. Jika di hitung-hitung, dalam setahun saya sudah membeli tiga pasang sepatu, yang artinya adalah lima pasang telah saya pake : tiga pasang baru, dan dua pasang sepatu kerja lama, dan kelima-limanya jebol dengan pemakaian sepatu berumur kisaran dua bulan setengah saja, dan yang tersisa hanya satu sepatu buat jalan model sneaker  saja, tragis! Ya, secara budget untuk membelinya pun tidak ada.

"Kenapa sepatu-sepatu itu mendadak jadi cepat jebol seperti itu?"

Pertanyaan itu muncul begitu saja di otak saya ketika saya harus membeli lagi yang baru. Selidik punya selidik dengan gaya detektif kesiangan di siang bolong, akhirnya saya mendapatkan jawabannya. Ternyata, penyebab sepatu-sepatu itu cepat jebol adalah karena jalan di tempat parkiran kendaraan di kantor rusak berat, batu-batunya  keluar dari lapisan aspal teratas, sehingga batu-batuan inilah yang menyebabkan sepatu high heels saya cepat rusak. "Ohh, ini dia biang keroknya," bisik hati saya galau, bagai seorang jomblo yang galau melihat truk gandeng bergandengan mesra. *cie, gubraak!

Akhirnya bagai seorang ahli ekonomi terbego sedunia, saya pun mulai menghitung berapa rupiah yang telah saya habiskan untuk membeli sepatu-sepatu itu, belum termasuk hitungan kerugian waktu yang harus saya habiskan untuk berkeliling toko sepatu mencari sepatu yang tepat buat kaki saya, dan tentunya rasa cape setelah seharian mencari sepatu-sepatu itu. Ah, jika boleh memilih mendingan saya pergi ke swimming pool saja ngajak renang puteri tercinta saya, tentunya akan lebih menyenangkan ketimbang harus keliling-keliling toko sepatu. Cape! Itu pokok utamanya, selain tentunya it's about money juga sih hehe. Jika di hitung-hitung, belanja satu pasang sepatu saja rupiahnya jadi cukup membengkak, harga sepatu dan  jajannya bisa di bilang besar jajannya, itu sama saja dengan besar uang saku daripada uang sekolah hehe.

Mengapa bisa demikian?

Jika di hitung secara bodoh (*emang bodoh! Ngaku lagi!), hitung-hitungannya jadi seperti ini :
  • Jika harga sepatu kita ambil rata-rata berkisar Rp.200.000 saja, jika dikalikan 3 maka total harga sepatu adalah Rp.600.000 
  • Jajan (makan plus minum) satu orang Rp.30.000, karena saya membawa teman 1 orang maka total makan berdua adalah Rp.60.000, jika dikalikan 3 maka total jajan adalah Rp.180.000.
  • Bensin anggap saja menghabiskan Rp.20.000, jika dikalikan 3 maka total beli bensin adalah Rp.60.000
  • Biaya tak terduga, emm maksudnya belanja di luar rencana (justru ini yang parah, karena biasanya biaya inilah yang lebih gede) ambil saja yang terendah kira-kira Rp.100.000, jika dikalikan 3 maka totalnya Rp.300.000
* semua dikalikan 3, karena tiga kali belanja sepatu.

Nah, jumlah di atas jika di total selama setahun (tiga kali beli sepatu baru) adalah berjumlah Rp.1.140.000 belum termasuk dua sepatu sebelumnya. Artinya per satu kali beli sepatu saya menghabiskan Rp.380.000. Waah cukup gede juga kan?!

Dengan pengeluaran yang cukup besar itu, malah membuat saya jadi teringat pesan almarhum kakek saya yang keturunan Jawa - Korea itu. Beliau berpesan kepada kami anak cucunya, bahwa hidup itu harus hemat, tidak foya-foya, dan cerdas dalam membelanjakan uang, begitu pesan beliau.

"Irito 'ndhuk!"

Katanya pada saya suatu hari, ketika tanpa sengaja Ia memergoki saya yang baru pulang dari shopping dan membawa tentengan cukup banyak di tangan kiri dan kanan. Mendapat teguran seperti itu saya malah mesem-mesem sendiri, habisnya saya jadi inget sama makanan Jepang Irito yang suka ada di menu Japanese fast food restaurant itu, yang harganya sama dengan namanya IRIT alias murah meriah, hehe *maaf ya grandpaIrito itu bahasa Korea atau Kroya sih sebenernya?

Gara-gara saya sering beli sepatu baru inilah, ada salah satu temen perempuan yang berkomentar begini pada saya :

"Mba, emang udah bosen apa sama sepatu baru yang bulan lalu?" Tanyanya pada saya.
"Enggak!" Jawab saya.
"Loh kok kayaknya sering banget ganti sepatu, aku pikir 'mba udah bosen sama sepatu baru  yang kemaren," katanya lagi.

Mendapat pertanyaan seperti di atas membuat saya menjadi sedikit malu hati atau malah malu-maluin, soalnya saya malah jadi males kalau ada teman yang ngomongi masalah sepatu apalagi gosipin *weleh emangnya artis apa, digosipin segala!

Tetapi, belakangan saya malah mulai mencuri-curi dengar obrolan dua orang teman perempuan saya yang hobi banget belanja online. Heh, sebenernya saya kurang suka dengan yang namanya belanja online, soalnya takut ketipu. Prinsip saya, daripada tertipu mendingan menipu! Ehhh 'gak deng, bercanda! Bisa-bisa saya di coret jadi calon warga surga deh, hehe * Menipu itu dosa, eling-eling!

Akhirnya dengan rasa penasaran yang tinggi, bertanyalah saya pada salah satu teman saya itu.

"Yan, emang kamu kalo beli baju dan sepatu dimana? Kok kayaknya sepatunya bagus dan gak cepet rusak kayak punyaku sih?" Tanya saya dengan malu-malu kucing garong.

"Yang mana Cha? Sepatu yang ini? Ini sih aku beli via internet!" Katanya sambil menunjuk sepatu yang Ia pakai.

Saya terdiam, antara malu bertanya sesat di jalan atau bertanya, terus ketauan ngekor beli via internet juga? Ah, rasanya saya merasa sedikit gengsi, masalahnya saya anti banget yang namanya belanja online.

Dilema, menyergap saya! Tapi, saya harus belajar merubah mindset saya, bahwa belanja via internet itu tidak seburuk yang saya kira, meski ada juga penjual online yang penipu, tetapi dengan pengalaman yang dimiliki teman saya ini, setidaknya saya bisa belajar darinya dalam memilih toko online yang tepat dan bukan  abal abal.

"Cha, kalo elo berminat, nanti gue kasih tau deh toko online yang tepat," katanya menentramkan hati saya.


Hohoho ... itulah awal saya mengenal toko online Zalora, dan saat ini saya sedang membidik sepatu high heels keren merek Stefania Baldo yang nampaknya sangat cocok buat dipake ke party. Ssttt ... sepatu ini sepatu idaman saya banget, harganyanya pun tak terlalu mahal, tapi kwalitasnya bisa dijamin.


Sepatu inilah bidikkanku!
Sekarang saya sadar, ternyata belanja online itu tidak selalu buruk, malah banyak untungnya. Dan, satu bonus yang paling membahagiakan, waktu! Ya, saya gak perlu buang-buang waktu lagi, karena waktu yang tersisa bisa saya habiskan bersama keluarga tercinta.


Oya, cerita sedikit tentang nenek saya yang asli Bandung ya, Granny, biasa kami memanggilnya, Ia sangat ingin baju kebaya atau model lainnya dari bahan batik, yang intinya bisa cocok buat beliau.


"I'm not a girl and I'm not a woman, artinya saya sudah tuwe (tua)!" Gurau granny, waktu Ia minta dicarikan baju batik yang sesuai dengan usianya. Hehe granny, itu omongan kok mirip judul lagunya Britney Spears "I'm not a girl, not yet a woman" sih? *tampaknya diam-diam granny suka curi dengar kalo saya nyetel musik ya?

Sayang, Saya belum menemukan model batik yang cocok buat beliau.

Sahabat, menurut kalian ada gak sih baju batik yang cocok buat beliau di sini ?

Waah, granny pastinya akan senang jika sahabat membantu memilihkannya.



My Note :  Merubah sedikit mindset, akan melihat cara pandang berbeda   :)



Salam,
Auntie 'eMDi' Dazzling

26 komentar:

  1. kalau kulhat semua baju di blog itu semua bagus dan cantik
    hargamya juga syandar pokoknya mantaplah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Okelah kalo begitu, semoga ada yg cocok sama my granny :)

      Hapus
  2. kalo istri sya biasa memakai sepatu yg modelnya agak ceper.. klopun ada haknya, tetap nampak imbang antara jemari depan dgn tumit belakang.

    So.. semua mmg soal selera.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga kalo kerja pakenya high heels yag gak segitu tinggi, itu sih cocoknya emang buat ke party. Saya untuk sehari-hari ya sukanya pake yg hak sedeng aja :)

      Hapus
  3. saya punya saran nih buat mbak marchia.. coba deh mbak marchia buat buku atau novel gitu.. siapa tau laris manis mbak.. soalnya mbak marchia pinter nih ngarang cerita cerita yang menarik... apa malah sudah bikin ya mbak...?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks pujiannya, tapi itu kisah nyata sob.

      Btw, emang saya udah pantas buat buku ? *hehe ilmu masih cetek nih!

      Hapus
  4. hitungan2nya memang hemat...tapi dengan resiko tidak pake sepatu....zalora memang top, namun pilihan sepatunya terbatas......salam :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah, masa pilihannya cuma sedikit sih mas? gak salah?

      Setahuku banyak kok

      Hapus
  5. i'm not a girl neither a womaan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. You're not a boy, not yet a man ... haha

      Hapus
  6. Wah si ibu dapat tugas dari zalora juga.... wahhahaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. hah, kok tugas sih Nuel ??

      Itu beneran say, granny ku emang ber"muda"

      Hapus
  7. kok tau aja sih bulan lalu baru beli sepatu ? :)

    BalasHapus
  8. wduuh bener banget itunganya teh, aku baru tersadar udah berapa banyak uang yang aku habisin buat sepatu, this good ide, mesti aku contoh tuhh, :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yos, ide belanja online aku dapet dari siapa lagi kalo bukan dari ibu "pleset" itu alias mba yani. Dia kan rajin belanja online hehe :)

      Hapus
  9. kirain dapet job neh dari zolora, ternyata eh ternyata kisah nyata yo, aku orang ngudeng jeh kalo sepatu cewek pula, tauk nya sepatu gunung, hehe :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe job yang berbalut kisah nyata kan lebih cihuuyy bro.

      Oh monkey pake sepatu juga gitu ?

      Hapus
  10. wah .. aku paling malas mbak kalau disuruh beli sepatu, akhirnya suami deh yg nyari nyari :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wiih keren dong suaminya, pinter nyenengin istri :)

      Hapus
  11. sepatuku cuma satu pasang mbak, warrior..
    sekarang kalo pergi kemana2, aku milih pake sandal...
    :v

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya kalo buat kamu yg masih unyu-unyu mah satu cukup say, kan msh school. Beda dengan emak2 hehe

      Pakai sandal? sama tuh aku jg kalo jalan2 deket pake sandal :)

      Hapus
  12. puntennya' ceu...belom sempet baca...saya polow dan di G+ azh dulu sepatunya yah....;o)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eyy si Akang, tararengkyulah atos follow hehe

      Hapus
  13. Wah! Dapet job nih dari mbak Zalora! Asikkk..

    Tp sepatu bidikannya itu gak ketinggian, Ma'e? Ntar dikira gak nginjek tanah loh! Bhahaha, ya beli aja sepatu banyak2 ampe ribuan pasang. Sekalian buka toko! Beli satu dapet sebelah! XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe iya ternyata tingginya ampe 11 cm, emang ketinggian itu tpi namanya jg baru bidikan hehe

      Hapus

Kunjungan anda adalah harapan bagi saya, tinggalkan jejak anda pada kolom komentar sebagai tanda harapan buat saya. Dan, semoga ini bukan harap-harap cemas :)
Dan diatas semua harapan, saya haturkan terimakasih atas kunjungannya :)

Youth Has No Age

Semangat Muda! Entah karena alasan apa, setiap saya pulang dari arah kebayoran lama ke arah Mayestik, tepatnya entah di sekitar ...