Translator

Kamis, 24 Juli 2014

Rumah Erni


Ini rumah Erni. Rumahnya besar dan kokoh. Dindingnya berwarna putih. Terlihat megah dan mewah. Sayang, rumah ini tampaknya kurang pepohonan. Yang aku lihat hanya ada satu pohon mangga berukuran sedang bertengger di sebelah kiri halaman depan rumahnya. Di belakang rumah ada halaman  yang cukup luas yang hanya beralaskan rumput saja. Tak ada tanaman hias, apalagi pepohonan. Aku terheran-heran dengan rumah ini...

"Mengapa tak ditanami pepohonan?" tanyaku suatu hari pada Erni si pemilik rumah.

:"Tuh Sandro gak demen pepohonan," jawabnya.

"Kok bisa begitu? Kalau rumah ini banyak pohonnya pasti lebih asri," kataku bak seorang konsultan tanaman.

"Sandro kan takut sama ulet," jelas Erni lagi.

Aku terbengong, antara yakin dan tak yakin dengan pendengaranku. 

Sandro adalah suami Erni. Ia seorang laki-laki bertubuh gempal dan kekar. Ia seorang pelatih Yudo. Aneh saja rasanya laki-laki berbadan gempal dan kekar itu takut dengan ulat yang bertubuh imut-imut dan tak punya daya itu.

Dalam hati aku tertawa, ternyata orang berbadan segede itu pun bisa takut dengan sesuatu yang kecil nan imut-imut itu.


"Erni, kalau Sandro lagi ngambek, kasih saja ulet di depan mukanya. Haha, palingan ia akan tambah ngambek sama kamu."


Haha, Peace ah :}



My Note : Pepohonan bisa menyejukkan mata bahkan hati :}



Salam,
Auntie 'eMDi' Dazzling

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kunjungan anda adalah harapan bagi saya, tinggalkan jejak anda pada kolom komentar sebagai tanda harapan buat saya. Dan, semoga ini bukan harap-harap cemas :)
Dan diatas semua harapan, saya haturkan terimakasih atas kunjungannya :)

Youth Has No Age

Semangat Muda! Entah karena alasan apa, setiap saya pulang dari arah kebayoran lama ke arah Mayestik, tepatnya entah di sekitar ...