Translator

Kamis, 13 Oktober 2016

Opera Sabun



Opera Sabun
It’s show time



“Aku harus bagaimana ini, ikut saja atau… Mm, sudahlah.”

Reno melangkah perlahan dengan ragu mengikuti keranda bertudung hijau di depannya. Sebenarnya ia sedikit enggan mengikuti prosesi pemakaman ini, tetapi apa kata orang jika ia tidak ikut dalam prosesi ini. 

Huh! Dari mulutnya terdengar desahan tak jelas, napasnya yang sedikit tersengal ia hembuskan kuat-kuat. Langkahnya yang tadi lambat kini sedikit tergesa seolah terhipnotis oleh para pembawa tandu keranda yang berjalan cukup cepat. Sepatu kets kesayangannya sekarang dihiasi tanah merah kuburan di beberapa bagian. Ini adalah hari terakhir di mana ia bisa memandangi keranda yang membungkus jasad Sonya, pacarnya.

Sebulan lalu ia ingat betul bagaimana ia dan Sonya masih bersama-sama. Sonya yang manja itu memang berbeda dalam segala hal dengan perempuan-perempuan pilihan orang tuanya. Tepatnya pilihan ibunya. Terakhir, ibunya menyodorkan seorang gadis berusia belasan tahun yang membuatnya protes keras.

“Gadis seusia itu cocoknya masih berseragam SMP, bu. Mengapa ibu menyodorkannya padaku?”

“ Biar mudah diatur,” ibunya menjawab ketus.

Sudahlah, ia tahu gadis itu tidak jelek, bisa dibilang tergolong cantik. Tapi dia masih kecil, jangan-jangan ini termasuk kejahatan seksual pada anak. Polisi bisa menciduknya gara-gara ini. Hiii…, ia bergidik, bulu kuduknya seolah berdiri tegak.

Memang gara-gara Sonya lah hubungan dengan keluarga terutama ibunya menjadi rumit. Persis seperti benang kusut yang susah diurai kembali. Dan dirinya hanya pasrah saja akan keadaan itu. Hatinya begitu kuat dan yakin cintanya hanya untuk Sonya seorang.

Tak berbeda dengan Sonya, Reno adalah pujaan hatinya. Susah betul kedua anak manusia itu dipisahkan. Mungkin hanya maut yang bisa memisahkan mereka.

 Dan maut itu benar-benar datang menyapa Sonya, tepat di tahun ke sepuluh mereka berpacaran. 

Sepuluh tahun perjalanan cinta adalah bukan waktu yang sebentar. Bayi mungil anak kakaknya yang lahir sepuluh tahun lalu itu saja sekarang sudah beranjak besar, sudah kelas 5 SD ia sekarang. Dalam kurun waktu itu sebenarnya ia sangat ingin segera meminang Sonya. Tapi, keluarga besarnya malah kebakaran jenggot. Mereka melarang bahkan mengusirnya dari rumah.

Sakit rasanya. 

Sakitnya tuh di sini!

Suatu kali ibunya pernah merestui hubungan asmara mereka, tetapi sayang restu itu berjalan  hanya dalam hitungan detik saja. Karena di detik ketujuh restu itu hancur bersamaan dengan terjatuhnya ia dari kursi. 

Ah, rupanya itu hanya hayalan tingkat tingginya saja. Pret!

Apa sih yang diharapkan dari seorang laki-laki sepertinya?

Ia hanya mengharapkan seseorang yang mengerti dirinya. Cukup. Dan Sonyalah satu-satunya orang yang bisa mengerti dirinya. Mungkin, sangat mengerti. Jadi, untuk apalagi ia mencari-cari yang lain, jika sudah ada orang yang tepat.

Huh! Pusing ia memikirkan semua tentang itu. 

Atau mungkin sebaiknya aku dan Sonya pergi dari kampung ini, seperti pasangan lain yang “kawin lari” jika tidak direstui orang tua. Terbesit juga pikiran konyol ini. Tapi, segera dikuburnya niat itu.

Ia teringat, suatu malam Sonya bertandang ke rumahnya, cukup pintar Sonya mengambil hati ibunya. Dengan cerdas, dibawakannya makanan special kesukaan si ibu, serabi solo. Rasa yang sekarang bukan hanya original itu membuat air liur si ibu keluar tak tertahan, persis seperti seekor anjing yang lidahnya menjulur-julur keluar untuk mendinginkan suhu tubuhnya karena cuaca panas. Dalam sekejap ditandaskannya satu kotak serabi solo berisi 20 biji dengan rasa rupa-rupa itu ; coklat, keju, duren dan nangka. Untuk sementara, serabi solo bisa meredam kemarahan hati si ibu.

Ren, aku enggak tahan dengan semua ini, tapi aku juga enggak bisa hidup tanpa kamu.  Sonya sering berkeluh kesah seperti itu. Baginya keluhan kekasihnya ini adalah keluhannya juga.

Keluarga kedua belah pihak, baik Sonya maupun Reno tampaknya sama-sama tidak menyukai hubungan anak mereka itu.

“Jijik!” Suatu kali bapaknya bicara seperti itu padanya. Hati anak mana yang tidak hancur jika sang bapak saja sudah mengatakan itu.

Bapaknya bilang, jodoh itu harus seimbang seperti Ying dan Yang. Bukan semau deweke seperti kamu, sungut bapak. Bisa-bisanya bapak tahu istilah Cina Ying dan Yang, padahal moco aja enggak bisa, batinnya. 

Iya, dirinya memang bukan Ying, dan Sonya juga bukan Yang. Reno, ya Reno. Sonya, ya Sonya. Sudah, itu saja. Gerundel hatinya.

Tapi sejak Sonya jatuh sakit, ya sebulan yang lalu itu, tidak pernah terbesit sedikit pun Sonya akan meninggalkan dirinya, apalagi untuk selama-lamanya. 

Tiba-tiba saja kesedihan mendera dirinya. Ada segerombolan air mata mendesak untuk ke luar. Digigitnya bibirnya kuat-kuat untuk menahan tangis yang hampir tak dapat dibendung. Sebagai laki-laki pantang rasanya menangis. Laki-laki itu harus jentelmen begitu ibunya bilang. Dan sebagai laki-laki ia tidak mau terlihat cengeng di depan orang, meski hatinya sebenarnya mewek darah.

Sebenarnya, dua minggu yang lalu ia sudah membawa Sonya ke dokter. Selama sakit Sonya tidak mau dibawa ke dokter oleh keluarganya. Karena Reno lah ia mau pergi ke dokter. 

“Penyakitnya sepertinya sudah lama bercokol, mungkin tidak dirasa saja. Tapi, kita periksa lab dulu biar jelas,” ujar si dokter.

Kalau orang divonis suatu penyakit, seenteng apa pun penyakit itu pasti tetap berat terasa. Bagi Reno, penyakit Sonya yang belum tahu apa itu adalah pukulan terberat hidupnya. 

Andai ia bisa menciptakan dunianya sendiri, ia ingin pergi berdua saja bersama Sonya. Apa pun yang ia kerjakan andai itu bersama Sonya selamanya akan menyenangkan. Kata orang rasa demikian itu namanya kerjanya si hormon endorphin yang tahannya cuma sebentar kemudian rasa senang itu akan menurun seiring berjalannya waktu, dan kemudian hilang. Tapi nyatanya perjalanan cinta antara ia dan Sonya sudah memasuki tahun ke sepuluh, dan semua rasa itu masih sama. Masih seperti awal mereka jatuh cinta.

“Reno, kalau dokternya kamu, aku sakit gini juga enggak apa-apa. Kan, kamu yang periksa dan ngerawat aku,” ujar Sonya dengan tatapan mata lekat memandangnya. 

Reno hanya diam, tangannya yang sedikit basah meremas tangan Sonya kuat. Ada ketakutan yang menggelayutinya. Terbayang olehnya awal ia dan Sonya berkenalan. Sonya yang introvert itu bertemu dengan dirinya yang sebenarnya tipe extrovert. Tetapi, sejak mengenal Sonya, sifatnya yang terbuka itu berubah menjadi tertutup seperti Sonya. Banyak teman-temannya yang merasa heran dengan perubahan sifat Reno.

Bukan! Bukan itu sebenarnya. 

Perubahan sifat Reno bukan karena Sonya.

Tetapi justru satu tahun ke belakang sebelum ia mengenal Sonya. Ya, tepatnya sejak ia ditolak cintanya oleh salah satu cewek cantik paling beken di sekolah SMA-nya dulu. Bagi Reno cowok yang tergolong dalam jajaran tampan itu ditolak cinta pantang dalam kamusnya. Dan, kalau memang ia ditolak pun enggak masalah, lha wong masih banyak cewek yang antri buat dipacarinya. Tapi, bukan itu masalahnya. Masalah yang utama karena ia merasa dipermalukan di depan umum. Dipermalukan justru oleh orang yang ditaksirnya. 

Bayangkan saja waktu ia nembak si Lusi cewek cantik bertampang indo itu, bukannya diterima atau ditolak dengan lembut gitu, ia malah mendapat tamparan kencang tepat di pipi kanan dan kirinya. Tidak hanya sampai di situ, si cewek imut ini pun meludahinya.

“Ciih, jijik aku denger rayuanmu itu Ren! Kamu memang ganteng tapi jangan kamu pikir tiap perempuan akan mudah tergoda oleh rayuan gombalmu itu,” cerocosnya. Darah dalam tubuh Reno seakan mendidih, terkesiap ia mendapat perlakuan seperti itu dari Lusi. Mukanya memerah hangat. Dadanya bergemuruh kencang, mata tajamnya memandang  Lusi geram. Jari-jari tangannya membentuk kepalan kuat.

Ada luka menganga di hati Reno. 

Dan sejak itu Reno menutup diri. Ia tidak pernah bergaul dan menjadi seorang pendiam tingkat tinggi. 

Satu tahun sejak peristiwa itu ia bertemu Sonya, anak pindahan dari Jakarta. Dengan Sonya lah ia mulai mau terbuka. Hingga entah siapa yang memulai, mereka menjadi semakin dekat. Dan dengan bodohnya, mereka mengikatkan diri satu dan lainnya sebagai pasangan.

Barangkali itu sudah takdir mereka. 

Hubungan yang semakin intim antara Reno dan Sonya bukanlah hubungan yang mudah. Banyak orang yang memandang sebelah mata dengan hubungan ini. Bisik-bisik selalu ada di mana pun mereka berada. Tetapi keduanya tidak tergoyahkan. Mereka begitu akrab, dekat dan cenderung membikin iri atau mungkin benci orang yang melihat.

Pasangan yang aneh, begitu bisik-bisik orang.

Gila tuh si Reno, bisa-bisanya ia jadi berubah seperti itu. 

Ah, keluarkan saja tuh anak baru dari sekolah kita, buat virus saja di sekolah ini.

Bisik-bisik itu semakin sering terdengar dengan ritme dan irama yang sama, hari lepas hari hingga mereka lulus sekolah.

Reno terhenyak ketika seseorang menyerempet dan hampir menginjak kakinya. 

Mengembalikan segala kesadarannya.

Aku masih di sini. 

Reno berdiri mematung. Matanya tajam memperhatikan tanah-tanah merah yang menyeruak ke permukaan. Sekarang, matanya lebih bisa melihat dengan terang dan jelas. Air mata yang tadi hampir tumpah itu sedikit-demi sedikit terhapus oleh usapan tangan kokohnya. Prosesi pemakaman Sonya berjalan cukup hikmat. Ia melihat satu per satu keluarga Sonya. Ayah, ibu dan kakak serta adik Sonya tampak berwajah kusut. Mata mereka tampak sembab. 

“Maaf,” suara lirih Reno tanpa ada satu orang pun yang mendengarnya. Bibirnya bergetar dengan napas yang terputus-putus. Ia merasa menyesal dengan hubungannya dan Sonya. Mungkin kalau dulu ia tidak terlalu terbuka dan menjadi dekat dengan Sonya, bisa jadi ceritanya akan lain. Mungkin Sonya tidak akan semakin masuk ke dalam lembah dunia gelap ini. Dan ia semakin menyesal, ketika kematian Sonya menjadi sebuah keributan besar dalam keluarga besar Sonya.

Seumpama dulu rasa dendamnya terhadap perempuan tidak ia lampiaskan pada Sonya, mungkin ceritanya tidak begini. Bisa jadi hubungan ia dan Sonya hanya sebatas persahabatan yang indah. Atau kalau boleh ia memilih bisa jadi hubungannya menjadi sebuah persaudaraan. Karena jauh di lubuk hatinya, ia tiba-tiba saja merasa jatuh cinta pada adik Sonya yang cantik itu. 

Tapi, mana mungkin?

Apa mungkin masih ada yang mempercayai perasaan terdalamnya.

Bagaimana dengan Sonya?

“Maaf kan aku Sony. Aku sudah salah menterjemahkan kebaikanmu. Aku sudah mengubah engkau dari seorang anak laki-laki pemalu menjadi seorang perempuan jadi-jadian, pelampiasan dendam nafsuku. Maafkan aku sahabatku, Sony Praja Kusuma,” bisiknya pilu.

Suara doa masih terdengar dari arah makam Sony Praja Kusuma. Reno berjalan menjauh dari makam itu. Ada penyesalan dalam yang tidak akan pernah hilang dari hidupnya.



-           TAMAT    -




Note : Seorang penulis memang harus menulis, meski hasilnya belum memuaskan hajar saja karena ini adalah jalan menuju tulisan yang lebih baik #Keep spirit Sist!






Salam,
Auntie 'eMDi' Dazzling




 

2 komentar:

  1. Pas ayahnya bilang jijik, sudah mulai ketebak ceritanya ^^ Tapi keren mbak, terus menulis ya ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, enggak nge-twist ya. Belajar say :)

      Hapus

Kunjungan anda adalah harapan bagi saya, tinggalkan jejak anda pada kolom komentar sebagai tanda harapan buat saya. Dan, semoga ini bukan harap-harap cemas :)
Dan diatas semua harapan, saya haturkan terimakasih atas kunjungannya :)

Youth Has No Age

Semangat Muda! Entah karena alasan apa, setiap saya pulang dari arah kebayoran lama ke arah Mayestik, tepatnya entah di sekitar ...