Translator

Selasa, 06 Januari 2015

Si Dia

Ia begitu sederhana.
Tetapi ia begitu menggoda...
Rupanya yang menawan, telah membuatku terjerat.
Terjerat dalam manisnya ranum dirimu.

***


Mata Anyi tampak berbinar memandangnya. Tetesan air liur bisa saja keluar dari bibirnya, tapi bibirnya bisa menahan itu. Yang tidak bisa tahan justru keinginan hatinya. Ia begitu terpikat memandang tampilan kemenawan itu. Matanya tak bisa juga menyembunyika keterpikatannya. Ia yang seorang alim itu tiba-tiba saja bisa menjadi begitu seronok memandang kepada yang bukan muhrimya. Ingin sebenarnya hatinya menolak godaan itu. Godaan yang membuat ia terjerembab ke dalam godaan yang maha dasyat ini. Dimulai dari matanya yang telah terpikat, turun ke bibirnya yang membuat ia menelan ludah dan bermuara di hatinya.

"Ya Allah ampuni hambamu ini, aku begitu tergoda dengannya," katanya dalam hati. 

Ada rasa dosa menyelinap dalam dirinya. Ia tau, ia sedang mengandung. Tetapi, siapa pula yang bisa menolak jika godaan itu begitu besar. Meski ia sedang mengandung bukan berati ia tidak bisa tergoda olehnya. Oleh 'si dia'. Dan rasanya semua menjadi memafhumi ketika hati sudah begitu tergoda.

Apakah ini bawaan si jabang bayi? Ah, ia tak tau...

Ah, biar saja, aku sudah tak tahan memandangnya. 

Tampilan 'si dia' memang luar biasa. Andai saja diijinkan, ingin rasanya memiliki 'si dia'  seutuhnya. Tidak buat kamu. Kamu. Dan kamu. KALIAN! Ya, hanya buatnya seorang.

Tapi, bagaimana dengan suaminya?

Apa perlu suaminya mengetahui isi hatinya saat ini. Isi hati yang luar biasa bergelora. Gelora yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Memandang 'si dia' semakin membuat hatinya menggelepar. Ingin benar ia melumatnya. Mungkin melumat dengan lembut, hingga 'si dia' bisa merasakan bibirnya yang hangat. Dan bibirnya bisa merasakan nikmatnya 'si dia' hingga ke hatinya.

"Kenapa Nyi, kok mandangin gak ngedip-ngedip gitu? Inget say," suara Auntie Dazzling temannya mengingatkannya.

"Arrghh, nggak 'mbak!" jawabnya mencoba berbohong. Namun sayang, matanya tak bisa berbohong.

'Si dia' meliuk-liuk menawan di depannya. Harum tubuh dan kulitnya segar dan memukau. Auntie Dazzling terlihat asik masyuk bercengkrama dengan 'si dia'. Memandang, memegang dan mengelus 'si dia'  dengan bebas. Membakar amarah di hatinya.

Gila! Bisa mati berdiri ia menahan cemburu di hatinya.

Dalam hitungan detik, ia sudah tak kuasa menahan gejolak hatinya. Tangannya mulai mencoba menyentuh 'si dia'. 'Si dia' tak kalah genit, hanya diam memandangi dan menikmati belaian tangannya. Auntie Dazzling mafhum, memundurkan tubuhnya dari 'si dia'. Memberi ruang buatnya.

Ia mulai menyentuh 'si dia' dan bibirnya segera saja mencium harum tubuh 'si dia'.

"Ya Allah, aku tak tahan," dalam deru napas yang tak beraturan, ia masih sempat melafalkan Asma Allah.

"Aku buka aja 'mbak, aku gak tahan," desisnya pada Auntie Dazzling.

"Sayang Nyi, sudah jam 3 sore, sedikit lagi buka puasa"

"Tapi, aku udah gak tahan liat  semangka yang 'mbak buka, tampaknya ranum dan manis banget! Aku bagi, udah ngiler dari tadi," sahutnya sambil mengambil potongan semangka yang ranum nan manis itu.

"Aku gak tahan sama yang namanya semangka, lagian aku lagi hamil, kasian anakku kalau ngiler nanti," katanya dengan senyum mengembang. Anyi... Anyi...!!

Akhirnya, pada jam 3.30 sore itu Mr. Water melon telah memaksanya berbuka puasa menuntaskan hasrat ngilernya pada sang penggoda.



Sepenggal cerita Anyi di bulan puasa tahun 2014.



Salam,
Auntie 'eMDi' Dazzling

4 komentar:

Kunjungan anda adalah harapan bagi saya, tinggalkan jejak anda pada kolom komentar sebagai tanda harapan buat saya. Dan, semoga ini bukan harap-harap cemas :)
Dan diatas semua harapan, saya haturkan terimakasih atas kunjungannya :)

Youth Has No Age

Semangat Muda! Entah karena alasan apa, setiap saya pulang dari arah kebayoran lama ke arah Mayestik, tepatnya entah di sekitar ...