Translator

Senin, 19 Desember 2016

Penjara Hati



Inbox yang bikin otak encer #mikir

Kata-kata di atas ada di inbox saya, dikirim oleh seseorang yang saya kenal via pesbuk. Sebenarnya meski saya hanya mengenalnya via pesbuk tapi kedekatannya dengan saya bisa dibilang cukup akrab. Saya sendiri menganggap dia seperti adik, dan ia menganggap saya kakak. Dan keakraban ini banyak dibumbui dengan percakapannya yang kadang-kadang membuat saya tercengang. Ya, seperti inbox di atas, saya terkesima dengan isi pesannya. Lalu, saya bilang padanya, "Jangan bercanda deh! Kalo di penjara, masa bisa pegang hp sih?" tulis saya. Dan, apa jawaban dia? Duuh, bikin wajah memerah saja. Coba saja baca, apa katanya ;


Jawaban yang selalu di luar dugaan #kecele


Maksudnya adalah : Penjara tak selamanya berbentuk fisik. Semua yang ada dan hidup itu sama, mereka dipenjara. Haha, jawaban yang membuat saya malu. Betapa dangkalnya cara saya berpikir. Mendengar kata penjara saja, yang ada di otak saya hanya jeruji penjara secara fisik. Padahal, seperti katanya, tak selamanya penjara itu berbentuk fisik.

Dari pesan cerdas itu, saya jadi mikir, apakah selama ini saya bebas tidak terpenjara oleh apa pun jua?
Fuuiiih, jawabannya ternyata : NO!

Contoh kecil saja, baru-baru ini teman-teman SMA saya mengadakan reunian, hati kecil saya sebenarnya ingin sekali ambil bagian dalam reunian bersama mereka. Tapi apa hendak dikata, saya tak jadi ikut dengan alasan saya malu sama teman-teman saya yang rata-rata sudah sukses itu. Ya, itu satu bukti bahwa saya masih terpenjara rasa minder. Itu baru satu contoh, terus kalau mau dicari contoh-contoh lainnya, pastilah masih banyak. Jadi, saya sangat setuju dengan kata-katanya, bahwa "Semua yang ada dan hidup itu sama, mereka dipenjara."


Mungkin kata yang ia tuliskan itu sederhana, tetapi artinya tidak sesederhana itu. Lihat saja, pesannya itu membuat saya bisa mencerna makna kata dari penjara yang ia lontarkan pada saya. Mungkin saya harus lebih banyak belajar lagi darinya. Dari anak muda, yang kadang cara berpikirnya membuat saya berdecak kagum. 



Lihat tulisan di atas! Betapa ia dengan gamblangnya mentertawakan ketidakmengertiannya yang justru sebenarnya sangat ia pahami. Karena ia paham betul, kapan ia bisa ke luar dari penjara. Menurutnya, itu tak sulit, hanya masalah waktu saja.

Saya setuju, apa pun yang membuat kita terpenjara, itu mungkin akibat cara berpikir sendiri. Bahkan untuk ke luar dari penjara itu mudah saja, kitalah yang menentukan kapan kita mau ke luar dari sesuatu yang memenjarakan kita. Tak ada penjara fisik, yang ada hanya penjara psikologis. Jadi, tinggal waktu, kita dan Tuhan saja yang tahu, kapan kita mau ke luar atau terbebas dari itu semua.

Itulah sepenggal pesan penuh makna darinya. Entah mengapa saya selalu tergelitik untuk menuangkan pesan pribadinya itu di sini. Mungkin sebagai bahan renungan atau pengingat diri saya pribadi.



Jakarta, 19 Desember 2016


Note : Buat kamu, yang kata-katanya selalu mencerahkan, thanks!


Salam,
Auntie 'eMDi' Dazzling







 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kunjungan anda adalah harapan bagi saya, tinggalkan jejak anda pada kolom komentar sebagai tanda harapan buat saya. Dan, semoga ini bukan harap-harap cemas :)
Dan diatas semua harapan, saya haturkan terimakasih atas kunjungannya :)